Alicia Magdalena

857 Words
Alice menyusuri halaman luas dari bangunan yang lebih mirip gereja tua abad pertengahan. Pepohonan ek yang mengelilingi sekitar bangunan terlihat sangat asri dan memanjakan mata. Kursi panjang berjejer di bawah pohon, mengitari taman air mancur di samping bangunan. Tampak beberapa suster sedang mendorong kursi roda yang diduduki anak-anak dengan kisaran usia lima sampai sepuluh tahun. Beberapa dari mereka terlihat pelontos tanpa sehelai rambut. Sebagian besar dari mereka berwajah pucat, meski begitu senyum tetap mengukir di wajah para pejuang kanker itu. Alice tak mengerti, kenapa jiwa-jiwa suci seperti mereka harus menderita karena penyakit mematikan yang belum ditemukan obatnya itu. Seseorang menyambut Alice di depan pintu, dia adalah Suster Venna. Tanpa basa-basi suster Venna mengajaknya berjalan menyusuri lorong-lorong panjang dengan kamar-kamar di sisi kanan kirinya. Pemandangan menyayat hati tertangkap mata Alice ketika ia memalingkan muka ke sebuah kamar yang pintunya terbuka lebar dengan karangan bunga, boneka, dan balon-balon yang diletakkan di salah satu ranjang yang diisi oleh seorang gadis kecil cantik bermata biru, Hannah Jefferson. "Perjuanganmu sudah berakhir, Hannah. Aku harap kau mendapatkan kebahagiaan di surga," batin Alice menggigit bibir, menahan getir. Ayden kerap kali bilang pada Alice kalau ia menyukai Hannah. Pantas saja, selain cantik dan bermata indah, Hannah juga punya suara yang merdu. Suster Venna selalu bercerita kalau Ayden sangat senang mengiringi nyanyian Hannah menggunakan piano tua yang berada di ruang musik. "Silakan masuk, Nona Alice. Saya akan menunggu di luar," langkah Alice terhenti di sebuah ruangan bertuliskan Dr. William Danvield, sepertinya ia dokter baru sebab Alice tak pernah mendengar nama itu sebelumnya. Sebelum memasuki ruangan itu, Alice mengetuk pintunya pelan hingga sebuah suara menyahut dan mempersilakannya masuk. "Selamat sore, dengan Nona Alicia Magdalena?" sapa sang dokter yang berdiri membelakanginya karena sedang sibuk mencari sesuatu di antara tumpukan map. "Silakan duduk, Nona. Saya sedang mencari data pasien Ayden Joshua Houston." Jelas dokter yang dari penampakan belakangnya terlihat masih muda dan tegap itu. Suaranya lembut dan menenangkan. "T—terima kasih," Alice kemudian duduk di salah satu kursi di depan meja sang dokter. Tak berapa lama setelah mendapatkan data yang dicari, Dr. William berbalik dan duduk di depan Alice setelah sesaat sebelumnya menyalami Alice. Ternyata benar dugaannya, dokter itu masih muda dan tampan. Wajahnya lembut, dengan mata sayu, dan senyum yang menampakkan deretan gigi putihnya. "Langsung saja, Nona Alicia," "Panggil saja, Alice, Dok." Alice menyela. "Hmm ... baiklah." Dokter William mengangguk. "Kondisi Ayden setelah menjalani kemoterapi tidak menunjukkan kemajuan," "Langsung saja, Dok. Apa yang harus saya lakukan agar Ayden bisa sembuh?" Dokter William tampak tak senang dengan sikap Alice yang kurang sopan dan menyela pembicaraanya. Namun, karena memaklumi kekhawatiran dari keluarga pasien Dokter William mengurungkan niatnya untuk memperingati Alice. "M—maaf, Dokter, saya tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan." Alice menunduk, menahan malu atas sikapnya. "Ayden harus menjalani prosedur transplantasi sumsum tulang belakang, tapi untuk mencari pendonor yang sesuai akan sedikit memakan waktu dan dengan biaya yang tidak sedikit." Dokter William menambahkan. Alice merasa dunianya semakin terhimpit, pada mulanya ia berpikir kalau Ayden akan sembuh dengan kemoterapi. Ternyata dugaanya meleset. Untuk sesaat Alice terpaku diam, matanya pelan menjadi merah dan merasakan lelehan panas keluar dari sudut netranya. "Nona Alice, jangan khawatir. Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk Ayden." Tukas Dokter William mencoba menyemangati Alice. "Tolong, selamatkanlah nyawa Ayden, Dokter. I'll do anything for him, my precious brother." Alice parau, tangisannya tertahan di tenggorokan. "We will, Miss. Ayden anak yang kuat, anda harus terus memberi dukungan padanya. Saya harap anda bisa meluangkan waktu untuknya, selama akhir pekan. Karena dari jadwal kunjungan yang saya lihat, anda sudah beberapa kali melewatkannya." Imbuh Dokter itu sambil meletakkan kacamatanya, membuat Alice terperangah melihat sepasang mata indah sang dokter yang sebiru lautan. Tatapan menenangkan itu membuatnya segera mengalihkan pandangan. "Baiklah, Nona. Suster Venna sudah menunggu anda, dia akan mengantarkan anda menuju ruangan Ayden." "Terima kasih, Dokter." Alice pamit dan pergi dari ruangan itu. Kemudian menemui suster Venna yang sudah menunggunya di ujung lorong. **** Suster Venna membawanya menuju lantai dua melewati tangga berderit yang lantainya terbuat dari kayu. "Ayden sudah menunggumu, Nona," suster Venna membuka pintu dari sebuah kamar yang berada di dekat tangga. Alice segera menghambur ke dalam dan mendapati Ayden yang sedang pulas tertidur. Selang oksigen tampak mengulur di bawah hidungnya. Suara alat pendeteksi jantung terlihat normal dengan suara teratur. Alice tak dapat menahan agar matanya tidak basah, tangisnya pecah melihat adik semata wayangnya terbaring lemah, berjuang melawan penyakit yang entah kapan datangnya. "Kondisi Ayden sudah stabil, Nona." Suster Venna mengelus pundaknya lembut. "Ada baiknya anda menunggunya beberapa jam lagi, karena sebentar lagi Ayden akan siuman. Saya yakin dia pasti bahagia melihat anda di sini." "Tentu saja, suster. Saya akan menunggunya hingga siuman. Kebetulan saya membawakan sesuatu untuknya, sebuah hadiah kecil." Alice menatap wajah paruh baya di sampingnya. "Kalau anda butuh sesuatu, panggil saja. Aku ada di ruang sebelah, ada hal yang harus kulakukan disana," urai suster Venna kemudian meninggalkan Alice di ruang itu sendirian. Tangannya terus menggenggam tangan lemah Ayden. Ditatapnya wajah innocent yang selalu ceria itu. Alice tak menyangka semua kebahagiaan keluarga kecilnya luluh lantak dalam sekejap waktu. Hingga sampai detik ini Alice terkadang masih belum bisa menerimanya. Semua terasa seperti mimpi. Mimpi terburuk dalam tidur panjang tak berkesudahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD