Pagi ini Ken harus datang ke sekolah barunya, untuk masuk di hari pertama.
"Ken, Papa beliin kamu mobil nih, kalau ada waktu urus SIM kamu yah."
"Gak usah Pa. Aku pilih naik kereta aja, atau Ojek Online gitu Pa."
"Ken, ini Indonesia, lagian kamu gak mungkin ke Sekolah naik kereta. Daripada kamu naik ojek online mending di anter Pak Soni, atau Papa cariin supir sekalian buat kamu."
"Ken, hari ini bareng sama Kakak aja dulu. Besok baru deh di anter Pak Soni. Pa gimana boleh kan ?"
"Yasudah kalo begitu. Udah sana berangkat nanti kalian telat."
Ken dan Lia pun segera berangkat, Lia membawa mobil sendiri menuju kampus. Ken melihat Kakaknya yang begitu lihai mengendarai mobil menerjang kemacetan ibukota, Ken yang irit bicara lebih memilih untuk melihat keluar jendela, sementara sang kakak fokus dengan kemudi mobil. Lagu-lagu L'arc en Ciel menemani perjalanan mereka, band legendaris Jepang itu merupakan kesukaan Ken.
"Kakak pernah nonton video mereka di Youtube, kenapa kamu suka banget sama mereka deh ?" Tanya Lia.
"Laruku kan keren Kak, Hyde-san apalagi paling keren lah." Jawab Ken antusias.
"Keren apa sih, orang vokalisnya aja kayak cewek gitu. Jangan-jangan kamu Gay lagi Dek gara-gara nontonin mereka."
Ken terkekeh, "Enak aja, lagian di Jepang aku punya pacar tahu kak. Dan itu cewek !"
"Hehe ya jangan ditekuk gitu dong mukanya. Iya Kakak tahu, kan kamu sering banget ceritain dia ke Kakak."
Ken yang masih kesal karena ucapan sang Kakak, hanya diam saja sampai tiba di sekolah. Saat Lia turun, wanita itu langsung menjadi pusat perhatian, jelas dia adalah selebgram terkenal di Indonesia. Sosok Ken juga tak luput dari sasaran bisikan seluruh siswa dan siswi yang melihat.
Ken PoV
Aku heran kenapa Kakak begitu sabar menghadapi ratusan pasang mata yang memujanya, aku saja risih. Ngapain juga Kakak menggandeng tanganku, aku tidak ingin menjadi bahan berita di Negeri ini, karena aku baru saja kembali. Dasar merepotkan.
Aku sudah berada di dalam kantor, aku sedang melengkapi dokumen kepindahanku, sementara Kakak sibuk berfoto dengan guru-guru, dia benar-benar terkenal bahkan sampai ke kalangan guru yang sudah tidak muda lagi.
"Kenichi Almachzumi, kamu ikut saya, kebetulan hari ini saya mengisi kelas kamu di jam pertama. Saya Amanda." Begitu katanya.
"Eh, ano Ba-baiku."
Karna aksenku yang khas, Kakakku ikut berkomentar.
"Bu Manda maafin yah, dia baru 2 minggu belajar Bahasa Indonesia lagi. Dari SD udah di Jepang jadi begitu deh Bu."
"Iya Lia tenang saja, sekolah ini punya guru Bahasa Indonesia terbaik."
Percakapan itu kurang lebihnya aku mengerti, sekolah yang terletak di Selatan Jakarta ini direnovasi dan dikembangkan oleh Papa, jadi cukup mudah bagiku untuk melanjutkan disini, Indonesia yang terbaik.
Sebenarnya aku sudah kelas 12, tapi karena tidak bisa melanjutkan akhirnya aku harus rela turun ke kelas 11. Aku sempat takut tidak bisa berteman, tapi Kakak selalu meyakinkanku bahwa orang-orang Indonesia itu sangat ramah, jadi jangan takut untuk menyapa lebih dulu. Itulah satu hal yang kusukai dari Indonesia.
Dan disinilah aku, di depan ruang kelas XI-1, Bu Amanda masuk lalu memberi pengumuman, dan dia menyuruhku masuk. Ku lihat sekeliling kelas, kelas ini cukup luas, dan pastinya nyaman. Bu Amanda segera menyuruhku untuk memperkenalkan diri,
"Ano, Namaku Kenichi Almachzumi, Sa-Salamu Kenal."
Karena sudah terbiasa aku pun membungkukkan badan memberi hormat. Kulihat mereka cukup terkejut. Bu Amanda menjelaskan latar belakangku, dan mereka mengangguk paham. Setelah itu aku dipersilahkan duduk, aku menduduki kursi tepat di tengah kelas, jika aku terbiasa duduk sendiri, sekarang aku memiliki teman sebangku, Zafran namanya. Dia dengan lantang mengatakan kalau dia adalah seorang Wibu, inginku tertawa mendengarnya.
3 pelajaran terlewati, aku masih saja sibuk mengartikan setiap kalimat yang disampaikan para guru, untung saja Zafran membantuku, ternyata dia bisa berbahasa Jepang walaupun hanya sedikit. Kurasa hari pertamaku cukup baik. Waktu istirahat pun tiba
"Hai Ken, kenalin aku Wina."
Belum selesai aku merapikan buku tiba-tiba seorang gadis datang menghampiriku,
"Oh hai, salamu kenal."
"Woy Win, harusnya lo bilang yoroshiku."
"Apaan sih Fran, gak pates lo ngomong gitu, dasar wibu."
"Yeh dibilangin. Dia Jepang asli nih, tiati lo."
"Laah, dia sih pantes Fran, nah elo cuma sok Jejepangan, wuu."
Perdebatan mereka terjadi begitu saja, akupun tidak terlalu memperhatikan. Setelah Wina cukup banyak yang menyalamiku, kata Mama aku harus membalas jabat tangan mereka. Begitulah cara menghormati di Indonesia.
"KENICHI...!!"
seisi kelas termasuk aku cukup kaget, Kakakku masih ada di sekolah.
"Nee Onechan, Kenapa masih disini ?"
"Udah ayo ke Kantin. Laper nggak ? Gimana tadi bisa ngerti nggak ?"
"Aku gak laper Kak. Lagian Kakak ngapain masih disini ?"
"Ini kelas Kakak dulu waktu SMA, Kakak tadi dikabarin kalo dosen kakak berhalangan hadir, terus juga karena ada jadwal syuting di sekolah ini. Jadi yaudah deh sekalian aja Kakak kesini."
Kerusuhan kembali terjadi, entahlah aku bingung Kakakku suka sekali melakukannya, dia memang terkenal tapi tidak harus seperti ini juga. Anak-anak di kelas mulai bergosip, banyak dari mereka yang sadar jika aku pernah ada di postingan i********: Kakakku, mereka mulai melihat foto itu kembali lalu memulai gosip hangat, jangan lupakan para siswa-siswi yang rela mengantri ingin berfoto bersama Kakak. Dasar merepotkan.
Kulirik Kakakku yang tengah tertawa puas karena seluruh siswa berbondong-bondong masuk ke kelasku, meminta foto dan bertanya beberapa pertanyaan. Kerusuhan berlangsung selama jam istirahat, kelasku lebih menarik dibanding dengan kantin. Kakakku, Alea Hana Almachzumi, selain cantik, dia adalah sosok yang sangat ramah, humble dan sangat mudah bergaul dengan orang-orang, tak jarang Kakak mendapat cibiran karena dibilang kecentilan, aku baru tahu arti kata itu kemarin, dari sekian banyak haters, Kakak tidak pernah memikirkan satupun, entah terbuat dari apa hatinya.
"Kak Alea." Kulihat seorang siswi datang dengan menerobos antrian.
"Eh Iya."
"Maaf Kak, bisa pindah ke ruang OSIS dulu gak Kak ? Udah mau masuk nih soalnya. Daripada nanti tambah rusuh."
"Hehe Oke. Lanjut nanti ya Guys."
Aku bisa melihat raut kekecewaan dari siswa-siswi yang belum sempat berfoto bersama. Sementara aku, aku hanya duduk diam tak bicara. Tidak hanya teman sekelas, sekarang hampir seluruh sekolah menyalamiku dan mengajak berkenalan. Selanjutnya seluruh kelas bertanya padaku ada hubungan apa aku dengan Kak Lia.
"Ken, sebenarnya ada hubungan apa lo sama Alea ?"
"Nani mo arimasen"
"Yeh Sialan dibales pake bahasa Jepang, Oiy Zafran artiin dong !"
Zafran terlihat acuh, mungkin selama ini dia merasa direndahkan karena dicibir Wibu oleh teman-teman sekelasku. Sampai guru datang aku belum menjawab satupun pertanyaan mereka. Aku malas terseret dalam hal seperti ini, ditambah cuaca diluar sangat panas, aku mengeluh karena hal itu, tapi jika masih di Kyoto aku pasti juga mengeluh, terlalu banyak kenangan indah disana, sampai beku hati ini dibuatnya.
Pelajaran Bahasa Inggris dan Fisika yang menguras tenagaku akhirnya selesai. Sebelum meninggalkan kelas aku sempat bertukar nomor dengan Zafran dan juga Wina. Hanya mereka berdua yang kurasa bisa akrab denganku, ya aku sudah dari dulu seperti ini, bahkan jika auraku bisa terlihat maka sudah pasti warna nya hanya hitam.
"Ken, kamu jangan diem aja dong. Mending mampir ke depan deh, disana ada warung aku lapar nih. Kamu gak lapar emang ?"
Yang tadi berkata itu Wina, kulihat gadis itu cemberut karena waktu istirahat dia tidak bisa keluar kelas, sepertinya dia tidak terlalu peduli dengan Alea Hana Almachzumi yang terkenal itu.
"Hmm ano, a-aku belum terbiasa dengan makanan Indonesia."
"Udah Ken, ikut aja. Fran lo ikut gak ?"
"Tumben ngajak gue Win, kesambet apaan ?"
"Kalo tiba-tiba Ken ngomong Jepang, lo harus kasih tahu gue artinya."
"Sialan, yaudah gue juga lapar. Pesona Alea emang bener-bener dah."
Kami bertiga berjalan melewati gerbang sekolah, di sekitar sekolah banyak kedai-kedai makanan, karena tempat ini memang strategis. Wina dan Zafran membawaku ke kedai langganan mereka, saat kulihat menu makanan yang tersedia semuanya tidak pernah kutahu. Wina menyarankan untuk memesan Ayam Bakar Madu, katanya itu enak.
"Ken, kalo ke Jepang ajak-ajak gue bisa yah ?"
"Hmm, itu urusan gampang."
"Nah gitu dong, gue mau ke Tokyo Tower, One Piece Tower."
"Ah itu tempat yang bagus, aku sudah pernah kesana."
"Lo banyak gaya Fran. Entar disono nyasar lo."
"Ye kan gue perginya sama Kenichi, masa iya bisa nyasar."
Kulihat mereka kembali saling mengejek. Biasanya aku akan terganggu, tapi entah kenapa aku nyaman berada didekat mereka berdua. Sampai tidak terasa pesanan kami sudah datang, kami makan tanpa banyak bicara. Walaupun makan sudah habis, kami masih bersantai karena terlalu lelah dengan pelajaran hari ini, aku seharusnya 2x lebih lelah dari mereka karena aku harus mentranslate semua materi.
"Ken, kamu kenapa pindah ke Indonesia ?" Tanya Wina,
"Karena mama menyuruhku untuk kembali."
"Bukannya udah enak di Jepang, dari SD lagi, sekarang kamu malah harus susah-susah kan translate materi dari guru."
"Ya, tapi aku akan berjuang."
Karena HP ku berdering, obrolan kami harus terpotong, Kak Lia menelpon.
"Ken, kamu dimana ?"
"Aku sedang ada di Kedai depan sekolah."
"Oke tunggu Kakak di sana jangan kemana-mana."
Tuut.. Sambungan telepon berakhir.
"Ken lo suka Laruku juga ?" Zafran langsung bertanya setelah sambungan telepon terputus.
"Oh, iya mereka keren makanya aku suka".
"Fix, temen gue emang Lo Ken."
Tak lama Kak Lia datang,
"Ken, udah makannya ? maaf ya gara-gara Kakak tadi jadi kamu gak sempet makan."
Karena kedatangan Kak Lia, Wina dan Zafran sedikit kaget,
"Jadi Alea kakak lo Ken ?"
"Alea kakak kamu ?"
Begitulah pertanyaan itu keluar dari Zafran dan Wina, aku hanya mengangguk. Tapi mereka belum percaya tampaknya.
"Iya, Kenichi adik gue. Adik kandung gue, gak mirip ya kita ?"
Kak Lia menjawab, karena aku sendiri malas menjawabnya, semua yang tidak mengenal kami akan beranggapan kalau kami ini sepasang kekasih. Selalu begitu, teman-temanku di Jepang bahkan menganggap kami mempunyai hubungan i****t, tidak aku tidak sehina itu. Kami hanyalah kakak-beradik yang mempunyai hubungan sangat dekat, sampai membuat iri saudara-saudara kandung diluaran sana.
"Salam kenal Kak, aku Wina."
"Halo Wina. Iya, baik-baik sama Ken. Dia pendiam banget, udah bawaan lahir. Hehe"
"E-eh iya Kak."
"Halah modus itu Kak. Dia udah naksir sama Ken pasti tuh."
Zafran dan Wina kedua teman baruku itu sangat suka sekali berdebat. Kak Lia sampai harus memisahkan mereka berdua. Hari pertama sekolahku ditutup dengan perdebatan Zafran dan Wina. Hari ini sangat melelahkan.
Ken PoV END
~To Be Continued~