“Eh.. eeh, Vier, apa itu? Itu seperti ada gerombolan preman yang mengerubungi cewek! Vier, buru bantu anak itu!” teriak Diajeng saat melihat tidak jauh dari mobilnya ada hal tidak senonoh terjadi. Dia dan Javier baru saja pulang mengunjungi saudara jauh yang lebih tua untuk Javier pamitan karena minggu depan dia akan melanjutkan studi S2 di luar negeri. Jalanan macet total sore itu sehingga Javier memutuskan untuk mengambil jalan alternatif yang lebih lancar tapi sepi dan remang-remang karena minimnya penerangan. “Apa sih, Mah? Ngagetin aja deh!” Javier menoleh ke arah kiri, melihat mamanya yang menunjuk tidak jauh ke arah depannya. “Ituuu, Vier, ituuu… iih gimana sih kamu? Buru turun bantuin bocah itu!” “Eeh, berengsek! Iya, Mah!” Javier menepikan mobil dan segera berlari untuk meno

