"Sahabat, adalah hubungan erat yang selalu akan melekat di atas kepercayaan yang sesungguhnya. Keluar dari jalan pengkhianatan akan kenistaan dalam setiap insan yang memiliki gelar sakral tersebut. Dan merekalah yang akan mengajarkan dan membantu kita menuju jannah-Nya."
-- Meitantei --
"Ne... Nenek tid--" Nenek Dinda langsung terjatuh ke lantai, pingsan.
Dinda langsung kaget, panik, khawatir. Ayahnya jelas tak bisa dimintai tolong, mobilnya sudah melaju dari tadi. Walau pun ayahnya masih ada di sini, jelas ayahnya tak akan membantu.
Dengan tangan gemetaran Dinda mengetikkan nomor ambulance di ponselnya.
10 menit kemudian mobil ambulance datang, nenek Dinda langsung diangkut ke atas mobil, diberi pertolongan pertama. Dinda masih saja khawatir pada neneknya, Dinda juga khawatir dengan apa dia akan membayar biaya rumah sakit nanti.
Sampai di rumah sakit, nenek Dinda langsung dibawa ke ruang gawat darurat.
"Dinda!" Zahara dan abinya berlari kecil menghampiri Dinda, nafas mereka terputus-putus.
Zahara langsung memeluk Dinda. "Tenang Dinda, semuanya pasti baik-baik saja. Mari kita berdoa yang terbaik untuk nenekmu."
"Terima kasih sudah datang Zahara, aku tidak tau lagi harus menghubungi siapa selain kamu dan Heni." Dinda mengusap pipinya yang basah karena air mata, sudah menangis sejak neneknya di ambulance, Dinda tak lagi bisa menahan tangisannya.
Kabar nenek Dinda masih belum ada, tidak ada dokter maupun suster yang keluar dari ruangan unit gawat darurat itu sejak dua jam lalu. 5 menit setelah kedatangan Zahara dan abinya, Heni juga datang bersama mama-nya, dan satu lagi yang mengejutkan adalah kehadiran Fauzi. Namun Dinda tak menghiraukan Fauzi, pikiran Dinda dipenuhi dengan neneknya saat ini.
Heni ikut bergabung bersama Zahara, menenangkan Dinda.
Pintu ruang gawat darurat terbuka setelah dua setengah jam berlalu. Dinda langsung berlari menghampiri dokter.
"Anda wali Ibuk Nurhasiah?" tanya dokter pada Dinda.
Dinda langsung mengangguk dengan cepat. Zahara dan abinya, Heni dan mamanya berserta Fauzi menatap serius dokter, menunggu jawaban tentang keadaan nenek Dinda.
Dokter menundukkan pandangannya, menggeleng pelan. Zahara sudah lebih dulu memeluk abinya saat melihat reaksi dokter, Heni terdiam, begitu pun dengan Fauzi.
"Maaf Dek..." Mendengar kata maaf yang terlontar dari mulut dokter, sudah membuat sekujur tubuh Dinda mati rasa. "Kami sudah berusaha semampu kami, tapi sayangnya Ibuk Nurhasiah tidak bisa diselamat--"
Sebelum dokter selesai menyampaikan kalimatnya, Dinda sudah jatuh pingsan, hampir saja kepala Dinda menghantam lantai, untung lebih dulu disambut oleh mama Heni yang dari tadi berdiri di belakang Dinda.
Zahara dan Heni panik, terlebih Fauzi.
Mama Heni langsung ke meja administrasi, menyelesaikan segala yang bersangkutan dengan administrasi. Tubuh nenek Dinda juga langsung dimandikan oleh pihak rumah sakit. Dinda masih tak sadarkan diri, sudah dibawa ke salah satu kamar rumah sakit.
"Abi, bagaimana ini? Dinda tak punya siapa-siapa lagi, yang Dinda punya hanya neneknya, ibunya sudah meninggal, ayahnya tak bisa dianggap sebagai ayah." Zahara terus memeluk abinya, menangis. "Dan... dan sekarang nenek Dinda ju... juga sudah--"
"Semuanya sudah skenario Allah, Nak. Kamu tau? Allah tak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya, itu tandanya Allah tau Dinda bisa menghadapinya, Nak. Allah juga sayang pada nenek Dinda, makanya Allah memanggil nenek Dinda duluan untuk kembali pada-Nya dari kita semua yang masih hidup sampai saat ini." Abi Zahara mengelus lembut kepala putri kesayangannya itu.
"Tapi tetap saja Abi, aku tidak tau bagaimana perasaan Dinda setelah sadar nanti, aku takut Dinda kenapa-napa."
"Jangan begitu, Nak. Doakan saja Dinda. Itu tugasmu sebagai sahabatnya, Nak. Kalian sudah bersahabat sejak SMP bukan? Kamu lah yang lebih tau siapa Dinda, kamu lah yang lebih tau daripada kami semua tentang seberapa kuatnya Dinda. Walau pun nenek Dinda sudah tiada, Dinda masih punya kamu dan Heni bukan?" Abi Zahara tersenyum tipis pada putrinya.
Zahara menatap abinya, menyeka air mata, melepas pelukannya.
Zahara langsung melangkah ke tempat Heni yang masih duduk di sebelah Dinda sedari tadi. Menghibur Dinda.
Mereka bertiga masih memakai seragam sekolah, memang sudah berniat untuk bolos sejak pagi tadi setelah mendengar dari Fauzi bahwa ayah Dinda datang ke rumahnya. Saat keluar gerbang sekolah secara diam-diam, ponsel Zahara berdering, Dinda menghubungi Zahara mengatakan tentang keadaan neneknya, Heni dan Fauzi juga mendengar itu.
Zahara langsung mengabari abinya, dan bertemu dengan abinya di depan rumah sakit, sedangkan Heni dan Fauzi pulang duluan ke rumah, Heni menarik paksa Fauzi untuk mengantarnya pulang, memanggil mama Heni.
Jenazah nenek Dinda sudah selesai dimandikan, tapi Dinda masih belum sadarkan diri.
Abi Zahara memutuskan untuk lebih baik menyalatkan nenek Dinda, agar bisa menguburnya lebih cepat. Mereka tak akan tau kapan Dinda bisa siuman.
Jenazah nenek Dinda langsung dishalatkan, sedangkan Zahara menemani Dinda yang masih belum siuman sendirian. Semuanya ikut pergi menyolatkan nenek Dinda kecuali Zahara yang memang sedang berhalangan.
"Din... bangunlah, kamu jangan seperti ini." Zahara mengusap berulang kali pipinya yang basah karena air mata. "Bangunlah Dinda, bangunlah."
"A... ra..." Zahara langsung membuka matanya, air matanya semakin banyak keluar. Suara serak Dinda sudah memenangkan sedikit perasaan Zahara yang dari tadi cemas mengkhawatirkan Dinda.
Dinda menatap langit-langit rumah sakit dengan tatapan kosong. "Aku sendirian Ra. Aku tak punya siapa-siapa lagi." Air mata merambat jatuh melewati sela-sela rambut Dinda.
Zahara mengenggam erat tangan Dinda, menggelengkan kepalanya. "Kamu masih punya aku Din, kamu masih punya Heni, Abi, Mama, dan yang terpenting... Allah selalu ada untukmu."
"Semua yang menjadi milikku sudah direnggut oleh Allah Ra! Padahal aku juga sudah tak punya apa-apa lagi, kenapa--"
"Dinda! Allah tak merenggut apa pun darimu, semua yang ada di dunia ini adalah kepunyaan Allah! Allah hanya mengambil kembali apa yang telah Dia titipan padamu! Allah sayang pada nenekmu, Dinda, makanya Allah memanggil duluan nenekmu untuk kembali pada-Nya. Allah sangat-sangat sayang padamu, Dinda. Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya, ujianmu yang berat ini, adalah pertanda kuatnya iman dan agamamu, Din. Allah percaya dan sayang padamu, Din!" Zahara memeluk Dinda, menangis.
"Aku harus bagaimana, Ra?"
"Sabar. Perkuatlah lagi imanmu pada Allah subhana wa ta'ala. Ikhlaskan semuanya, Din."
"Ra... bagaimana nenekku?" Dinda menggigit bibirnya, berusaha untuk duduk. "Temani aku bertemu, nenek, aku ingin melihat nenek untuk terakhir kalinya." Dinda tersenyum tipis pada Zahara. Menghapus sisa-sisa air matanya.
Zahara mengangguk, membantu Dinda untuk berjalan.
Dinda menatap kosong jenazah neneknya yang sedang memasuki liang lahat, tak menangis, entah apa yang ada dipikiran Dinda. Zahara dan Heni memeluk Dinda sedari tadi. Menguatkan sahabat mereka.
Orang-orang yang tidak dikenal Dinda, kecuali Abi Zahara dan Fauzi mengubur jenazah nenek Dinda yang sudah masuk ke liang lahat dengan tanah.
Mama Heni dan beberapa ibu-ibu tetangga yang dikenal Dinda menaburkan bunga di atas makam nenek Dinda.
Heni menyerahkan satu keranjang berisi bunga mawar pada Dinda, tersenyum tipis.
Dinda balas tersenyum, mengangguk, ikut menaburi bunga di atas makan neneknya. "Selamat jalan, Nek. Dinda akan selalu mendoakan nenek. Terima kasih atas segala perhatian yang nenek berikan pada Dinda selama ini." Dinda berusaha menahan diri agar tidak menangis, tapi dia tidak sanggup. Air mata itu tetap terjatuh.
oOo
3 hari sudah berlalu sejak nenek Dinda dimakamkan. Dinda menginap di rumah Heni selama 3 hari itu, tidak pulang kembali ke rumahnya, juga tidak masuk sekolah. Dinda lebih sering duduk termenung setelah membantu mama Heni membungkus keripik, padahal mama Heni sudah menyuruh Dinda untuk istirahat saja, tapi Dinda bersikukuh mau membantu mama Heni.
Heni dan mamanya tidak menanyakan juga tidak menyarankan agar Dinda kembali ke sekolah, melihat kondisi Dinda dan apa yang telah dialami Dinda selama ini mereka paham, Dinda butuh ketenangan, waktu untuk sendiri dulu.
***
"Heni! Dinda mana? Masih belum mau masuk sekolah?" tanya Zahara saat guru mereka yang mengajar di jam tersebut sedang keluar sebentar.
Heni menggelengkan kepalanya, jawaban atas pertanyaan Zahara. Heni melirik pada Fauzi sesekali, memperhatikan ekspresi murung sepupunya itu dari 3 hari yang lalu.
Saat bel istirahat sudah berbunyi, Heni langsung menghampiri Fauzi, namun langkah Heni tersendat karena teman-teman sekelasnya langsung bergerumunan mengarungi Fauzi. Heni menghela nafasnya dan langsung mengurungkan niatnya ke tempat Fauzi.
"Ara! Makan di taman aja yuk!" ajak Heni.
"Owh, okay." Zahara langsung mengeluarkan kotak bekalnya yang ada di dalam tas kecil pegangannya.
Heni menyantap bekalnya dengan cepat dan amburadul, mulutnya sedang mengunyah saat ini, tapi pikirannya entah sedang melalang buana di tempat mana.
"Heni!" teriak Zahara menyadarkan Heni.
"Eh ada apa Ra?" tanya Heni heran.
"Kenapa sih kamu bengong dari tadi? Entar ke selek loh!" ingat Zahara.
"Kamu ya... dari kemaren-kemaren nyumpahin aku mulu!" cemberut Heni.
"Nyumpahin apa? Aku cuman ngingatin kamu loh," jawab Zahara.
"Iya, iya, makasih ustazah." Heni terus menyuapi makanannya ke dalam mulutnya sendiri.
"Heni, aku mau nanya pendapat kamu" ucap Zahara tiba-tiba.
"Pendapat tentang apa?"
"Kata Abi, apa sebaiknya aku sarankan saja agar Dinda pindah dan sekolah ke pondok pesantren milik pamanku ya? Aku tau pondok pesantren itu adalah tempat terbaik untuk Dinda. Melihat kondisi Dinda setelah kepergian neneknya, aku tak tega. Aku juga tau Dinda tak akan mau selamanya tinggal di rumah kamu, pasti dia merasa jadi beban walau pun kamu dan keluargamu tidak menganggapnya begitu. Dan tinggal di rumahnya... hanya akan membuat Dinda mengingat semua kenangan baiknya dengan nenek dan kenangan buruk bersama orangtuanya. Dinda yang kita kenal kuat, tidaklah sekuat itu Heni, bagaimana bisa seorang gadis 16 tahun menghadapi semua ujian ini dengan baik?"
"Aku juga berpikir seperti itu. Mungkin saja selama di pesantren, Dinda bisa lebih baik, pikirannya jadi lebih tercerahkan. Tapi itu artinya... kita akan berpisah dari Dinda, Ra." Heni langsung meneguk minumannya setelah habis menyantap bekal miliknya.
"Hanya untuk sementara Heni. Dinda tidak akan di pesantren sampai tua, kita masih bisa telepon dan video call dengan Dinda. Ini bukan lagi zaman purba, Heni!" Zahara tertawa kecil, mencoba bercanda walau hati kecilnya kecewa harus berpisah dengan sahabat baiknya.
Heni balas tersenyum tipis, hatinya sakit jika membayangkan dirinyalah yang akan paling merasa kehilangan jika benar Dinda mau pindah ke pesantren, kehilangan teman semeja, kehilangan teman pulang sekolah bersama, kehilangan teman mengobrol di kelas.
***
Heni melambaikan tangannya pada Zahara yang sudah dijemput oleh abinya.
"Heni!" sorak Fauzi dengan motor ninja miliknya.
"Apa!?" ketus Heni.
"Ada yang mau gue bahas sama lo," ungkap Fauzi.
"Ya udah katain aja sekarang, kok diem?" tanya Heni.
"Naik dulu," ujar Fauzi menyuruh Heni untuk naik ke motornya.
"Ogah gue!" tolak Heni.
"Please, untuk hari ini saja... tolong anggap gue sebagai sepupu lo," pinta Fauzi nampak memelas.
Heni pun juga tak tega melihat ekspresi Fauzi saat ini, walau Fauzi adalah cowok b******k dalam pikiran Heni, tapi tetap saja Fauzi adalah sepupunya sendiri, keluarga besarnya sendiri.
"Ok. Tapi hari ini saja," setuju Heni langsung naik ke atas motor Fauzi.
Setelah memastikan Heni naik dengan baik, Fauzi langsung membawa motornya ke sebuah taman bersama Heni.
"Kok ke sini?" tanya Heni langsung melompat turun dari motor Fauzi.
"Ya gue tau, setelah ini lo gak bakal mau gue antar. Jadinya yang dekat rumah aja, sekalian lo bisa jalankan dekat," jelas Fauzi.
"Lah tau juga lo," angguk Heni. "Jadi ada apa?"
"Dinda," ucap Fauzi pelan. "Bagaimana keadaan, Dinda?"
Heni mendengus kesal. "Fauzi! Lo jangan sok baik dan perhatian gitu deh sama Dinda. Gue akan jadi orang yang pertama kali menghancurkan hidup lo jika lo berani menganggu Dinda! Lo tau kan apa saja--"
"Gue tau! Dan gue lebih tau betapa besar sayang gue pada Dinda! Lo gak bakal tau apa-apa tentang perasa--"
"Ya! Gue emang gak tau apa-apa tentang perasaan busuk lo itu! Udah berapa kali lo seperti ini Zi!? Bilang sangat-sangat cinta sama satu gadis lalu setelah melihat gadis lain pudar sudah cinta lo! Dan apa lo pikir gue gak tau apa-apa saja yang lo perbuat dengan mantan-mantan lo itu, hah!?" Heni memukul helm yang dikenakan Fauzi, melotot sempurna.
"Lo pikir gue gak tau isi pikiran lo yang serba busuk itu? Cinta lo ke Dinda itu hanya fisik Zi! Lo gak benar-benar cinta sama Dinda. Lo hanya menginginkan fisik Dinda, habis dapat bakal lo tinggalin layaknya barang bekas."
"Cukup Heni! Gue mau bicara sama lo bukan untuk dihina-hina begini!"
"Gue gak ngehina lo! Gue hanya berkata sesuai fakta. Lo ingat baik-baik kata-kata gue ini Zi! Sesenti saja lo nyentuh Dinda, gue pastikan lo mati hari itu juga! Lo gak bakal pernah tau apa yang sebenarnya dirasakan Dinda selama ini. Makanya, gue paling gak suka lo dekat sama Dinda, Zi, karena ayah Dinda, punya sifat yang sama kayak lo!" Heni berbalik, melangkah pergi meninggalkan Fauzi yang tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang dikatakan Heni, bukanlah sebuah kebohongan, apalagi fitnah. Fauzi tau itu, ia tau akan perbuatannya selama ini. Dan ia sadar.
***
"Assalamu'alaikum." Heni melepas sepatu dan kaos kakinya, meletakkan di rak.
"Wa'alaikumsalam." Dinda, mama Heni dan beberapa pekerja lainnya serentak menjawab salam.
"Kok kamu lama pulang Heni? Ada sesuatu di sekolah?" tanya mama Heni yang sedang memasukkan keripik yang sudah digoreng dan didinginkan ke dalam bungkus plastik.
"Gak ada Ma, tadi ketemu anak setan aja. Heni ganti baju dulu, Ma." Heni langsung melangkah ke kamarnya, mama Heni menggelengkan-gelengkan kepala, dia tau siapa anak setan yang ditemui Heni, keponakannya sendiri, Fauzi. Heni sudah lama memanggil Fauzi sebagai anak setan.
Dinda dan pekerja lainnya tetap melanjutkan pekerjaan, tidak terlalu memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Heni.