Sibayak 22. Panji terkapar setelah hampir dua jam berada di sebelah orang pintar yang mengobati Andi. Antara percaya atau tidak, yang pasti Panji hanya menuruti apa yang dikatakan oleh keluarga Andi. Tak lama Adul muncul dari balik kamar yang menjadi tempat tidur mereka nanti. Di sana Adul terlihat membawa pakaian hitam Andi dengan kain batik. "Mau buat apa itu ,Dul?" Adul menggeleng tidak tau, lalu mengangkat tinggi kain tersebut. "Katanya suruh buang ke sungai. Kawani aku lah, sungainya ada di belakang." Panji mengangguk, lalu bergegas keluar menemani Adul yang membawa kain tersebut. Ia menatap gumpalan kain yang dilapisi kain jarik bermotif batik. "Ada-ada aja bah, orang kena gangguan trauma malah kayak kena santet." Celetuk Panji dengan mata yang masih mengawasi gumpalan ka

