Bab 10. Mantan

1021 Words
Alan duduk di samping Aerin tanpa rasa canggung atau malu sedikitpun. Sementara Aerin heran, tetapi tak peduli. Eva menelan saliva susah payah, wanita itu sampai pindah meja demi memberi ruang pada Alan. Mana ada yang berani dekat dengan Alan. Selama ini bos yang terkenal kejam dan juga arogan itu seperti anti wanita. "Anda mau makan, Tuan?" tanya Aerin. Semua mata menatap mereka berdua. Cody hanya berdiri seperti manekin di belakang Alan dan Aerin, ia seolah menikmati drama langsung oleh dua orang tersebut. "Memangnya kamu pikir saya mau tiduran di sini kalau bukan makan?" ketus Alan melipat kedua tangan di d**a. Padahal tadi dirinya tampak seperti pria patah hati, tetapi sekarang sikapnyw malah layaknya anak kecil. Aerin menghela napas panjang. Lalu ia memesankan makanan untuk Alan. Entah kenapa beberapa hari ini, lelaki yang pernah menjadi sosok paling ia cintai itu seolah sengaja menarik perhatiannya. Tadi Alan marah-marah tidak jelas, lalu sekarang seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak lama kemudian pesanan Alan datang. Lagi-lagi Aerin harus melayani Alan layaknya seorang pangeran. Padahal tugasnya hanya sebagai sekertaris, tetapi lelaki itu seperti sengaja mengerjai dirinya. "Silakan makan, Tuan," ucap Aerin. "Hem, nanti aku yang akan antar kamu pulang!" ujar Alan. Bukan hanya Aerin yang terkejut, tetapi juga Cody dan Eva yang tidak jauh dari mereka. Bahkan para karyawan yang tak sengaja mendengar pun ikut terheran-heran. "Tidak perlu, Tuan. Saya bisa pulang sendiri," tolak Aerin halus, seolah takut menyinggung perasaan lelaki itu. Alan sontak memukul meja dengan marah. Ia tidak suka Aerin menolaknya seperti ini. Ia mau Aerin mengikuti apa yang ia katakan seperti dulu. "Apa tidak bisa sekali saja menurut, Aerin?" Tatapan mata Alan terlihat marah. Segera Cody meminta para karyawan yang ada di kantin untuk bubar karena ia tidak mau banyak orang yang melihat Alan marah pada Aerin nantinya. Apalagi Alan seorang pengusaha ternama, apapun hal yang bersangkutan dengannya memang sangat sensitif dan bisa saja nanti malah viral di media sosial. Aerin menghela napas dalam ia hembuskan dengan sabar, jika bukan karena putranya yang membutuhkan banyak biaya, mungkin saja Aerin sudah memutuskan untuk keluar dari perusahaan milik Alan. "Tuan, mengantar jemput saya tidak tertulis dalam kontrak kerjasama. Jadi, hal itu tidak perlu Anda lakukan," sahut Aerin, nada suaranya masih lembut, tetapi ada dadanya bergemuruh hebat. Dalam hati ia bertanya, apa maksud Alan kembali mendekatinya. Tidak bisakah lelaki itu, menjauh saja dari kehidupannya. "Itu hanya alasan kamu!" Alan menyumpal makanan itu dengan kesal ke dalam mulutnya. "Pokoknya aku tidak mau tahu, mulai sekarang aku yang akan mengantar jemput kamu!" tegas Alan yang tak menerima penolakan. Bukan hanya sebatas itu alasannya, Alan hanya ingin memastikan bahwa Aerin tidak berbohong soal anak mereka. Alan sudah meminta Cody mencari tahu kehidupan Aerin selama enam tahun ini, tetapi semua informasi tentangnya seolah sengaja ditutup oleh seseorang. Hal itu membuat akan kesusahan untuk mengetahui, apakah jawaban Aerin benar? "Tuan, sekali lagi saya tegaskan. Anda tidak perlu melakukan itu!" tolak Aerin tegas. "Oh, atau kamu takut ketahuan bahwa selama ini kamu bohong? Kamu belum menikah kan, Aerin? Anak kita juga ada, kan? Makanya, kamu menolak aku antar jemput?!" Cody yang mendengar langsung menatap ke arah Alan. Anak? Anak siapa? Anak kita? Apa maksudnya? Apakah sebelumya Alan dan Aerin memiliki hubungan? Selama ini, tuan mudanya itu memang tidak pernah terbuka soal masa lalunya, Alan bahkan terkesan tertutup dan enggan bercerita pada siapapun. Aerin menyunggingkan senyumnya. Rasanya sedikit aneh, padahal dulu laki-laki ini yang membuangnya bak barang tak berharga, tetapi sekarang Alan berlaku seakan dirinya adalah korban yang ingin datang kembali di kehidupan Aerin. "Maaf, Tuan, Anda hanya atasan di kantor, tapi bukan alasan dalam hidup saya. Anda tidak berhak tahu, masalah keluarga saya!" Aerin berdiri dan hendak pergi, tetapi tangan Alan mencengkeram dan menahannya. "Aku belum selesai bicara, Aerin!" sentak Alan. Aerin menghela napas panjang, lalu menoleh ke arah lelaki tersebut dengan tatapan yang begitu dingin. Alan terkejut melihat tatapan mantan istrinya itu. Dulu, Aerin menatapnya dengan penuh cinta dan sayang, bahkan wanita itu tampak rela melakukan apa saja hanya demi dirinya. "Mau bicara apa lagi, Tuan?" tanya Aerin sabar. "Mau semua orang tahu, bahwa kita adalah mantan suami istri?!" * * * "Minum dulu, Rin!" Nicko memberikan sebotol air mineral pada wanita itu. Aerin mengambil boto tersenyum dan menunggak isinya hingga tandas, jujur saja ia memang sangat haus. Berbicara dengan Alan sama saja menguras tenaga dan energinya. "Sudah enakan?" Nicko tersenyum. "Terima kasih, Kak," balas Aerin seraya menganggukkan kepalanya. Nicko tersenyum dan meletakkan di atas meja botol kosong tersebut. "Aku takut Alan merebut Ar dariku, Kak," ucap Aerin, matanya berkaca-kaca. "Aku tahu betapa kejamnya dia, Kak!" Nicko tersebut seraya mengusap kepala wanita cantik itu. Andai saja Aerin tahu, betapa ia menginginkan wanita ini ada dalam hidupnya. Sayangnya, sampai saat ini Aerin masih menganggap dirinya seorang kakak. "Bahkan, sekarang Alan seperti sengaja mau menyelidiki keberadaan Ar. Aku takut, Kak!" Akhirnya air mata yang sejak tadi ia tahan, menetes membasahi pipinya. Masih teringat, bagaimana Aerin berjuang melahirkan dan membesarkan Ar seorang diri. Belum lagi tuduhan dari orang-orang yang mengatakan bahwa Ar adalah anak haram karena lahir tanpa seorang ayah. Semua rasa sakit itu mulai menguak ke dalam dadanya. "Kamu menghindar, Rin. Bagaimana pun tuan Alan adalah ayah kandung Ar. Dan, sekarang Ar butuh ayah biologisnya!" jelas Nicko sembari menyandarkan kepala Aerin di d**a bidangnya. Aerin tak mampu berucap, tangannya melingkar di pinggang Nicko. Ia menangis sepuasnya, meluapkan semua rasa sakit dan kecewa yang bercampur menjadi satu. Tak ada satu orang pun yang paham, bagaimana ia mencoba bangkit dari semua rasa sakit yang selama ini menyiksanya. "Menangislah, Rin!" ucap Nicko. Aerin melepaskan pelukan Nicko lalu menyeka air matanya dengan kasar. "Kak, bagaimana kondisi Ar? Apa dia sudah boleh pulang?" tanya Aerin. "Aku ingin bawa Ar pulang dan dirawat di rumah saja, Kak. Di sini tidak aman, aku takut Alan menemukan Ar!" Nicko membalas dengan gelengan kepala. "Tidak bisa, Rin. Kondisi Ar belum pulih, Kakak takut terjadi sesuatu padanya. Apalagi Ar harus rutin menjalani kemoterapi setiap Minggu!" Penjelasan Nicko membuat Aerin luruh. "Kamu yang sabar, tuan Alan tidak akan menemukan Ar di sini. Kakak sudah menutup semua informasi tentang kalian berdua," sambung Nicko kemudian. Apapun, akan Nicko lakukan demi dua orang yang begitu ia sayangi itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD