Kemarahan Istri Baru

1022 Words
Malam itu suasana di rumah tampak tenang. Hendra duduk di ruang tamu dengan laptop di pangkuan dan menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor. Cintia, yang biasanya sibuk sendiri, malam itu tampak gelisah. Dia duduk di samping Hendra dan memandangi layar ponsel. Namun, pikirannya melayang. Akhirnya wanita itu tak bisa menahan diri lagi. "Mas, aku mau tanya sesuatu. Tapi aku harap kamu jujur ya." Hendra menoleh dari laptopnya, sedikit bingung dengan nada serius istrinya. "Tanya apa, Sayang? Kok tiba-tiba serius gini?" Cintia mengambil napas panjang, mencoba menyusun kata-kata dengan hati-hati. Selama beberapa waktu terakhir, dia merasa ada yang tidak beres. Hendra masih menjaga hubungan baik dengan mantan istrinya, Nadia. Meskipun Cintia awalnya mencoba memahami, lama-lama hal itu membuatnya tidak nyaman. "Aku tahu kamu masih sering bantuin Nadia. Aku nggak pernah masalah dengan itu. Tapi aku merasa akhir-akhir ini kamu lebih sering kirim uang ke dia. Dan aku nggak ngerti kenapa." Hendra terdiam sesaat, lalu meletakkan laptop di meja. Dia menghela napas, tahu bahwa percakapan ini pasti akan datang suatu hari. "Aku memang masih kirim uang ke Nadia. Itu cuma bantuan buat dia. Apalagi waktu itu ibunya sakit." Hendra menjelaskan dengan perlahan. Agar istrinya tidak salah paham. "Tapi Mas, ini bukan cuma sekali dua kali. Aku nggak buta. Aku lihat sendiri di mutasi rekening kamu. Hampir tiap bulan ada transfer buat Nadia. Aku cuma pengen tahu, apa alasan sebenarnya?" Nada suara Cintia masih lembut, tetapi ada ketegangan yang mulai muncul. Hendra menyadari bahwa dia harus menjelaskan dengan jujur. Namun, dia juga tahu bahwa ini topik cukup sensitif. "Nadia sekarang hidupnya susah, Cin. Setelah kami cerai, dia nggak ada yang bantu. Aku nggak bisa ninggalin dia gitu aja. Aku kasihan sama dia." Cintia menatap Hendra dengan tajam, mencoba menahan perasaan cemburu yang mulai tumbuh di hatinya. "Aku ngerti kamu kasihan sama dia, Mas. Tapi dia cuma mantan. Aku yang sekarang istri kamu." Hendra menghela napas mendengar ucapan istrinya. Dia seperti terdakwa yang sedang di sidang. Lelaki itu tak bisa menyangkal apa pun. Bahkan jujurpun salah. "Aku ngerasa nggak nyaman kamu masih kirim uang ke dia tanpa tau alasannya. Aku merasa ada sesuatu yang Mas sembunyikan." Hendra menggelengkan kepalanya dengan cepat. Lelaki itu tak habis pikir dengan pikiran negatif istrinya. "Nggak ada yang aku sembunyikan, Cin. Aku cuma nggak mau bikin kamu khawatir soal hal-hal kecil kayak gini." "Tapi aku gak percaya, Mas." "Uang yang aku kirim itu nggak seberapa. Cuma buat bantu kebutuhan sehari-hari atau kalau ada kondisi darurat." Cintia merasa perasaan kesalnya semakin sulit ditahan. Baginya, ini bukan soal uang, tapi soal prinsip dan kepercayaan dalam hubungan mereka. "Ini bukan soal jumlah uangnya, Mas. Ini soal kamu masih berhubungan sama mantan istri kamu. Aku nggak tahu apakah aku terlalu sensitif. Aku merasa nggak dihargai kalau kamu masih terus begini." Hendra menundukkan kepala, menyadari bahwa perasaan Cintia benar adanya. Dia paham bahwa situasinya rumit. Namun lelaki itu merasa terjebak antara rasa tanggung jawab pada masa lalunya. "Aku minta maaf kalau aku bikin kamu merasa begitu. Tapi kamu harus tahu, hubungan aku sama Nadia udah selesai." Cintia membuang pandangan karena kesal. Dia bahkan meragukan ucapan Hendra. Lelaki bisa saja berbohong untuk menutupi aibnya. "Aku nggak ada perasaan apa-apa lagi sama dia. Aku cuma merasa bertanggung jawab karena pernah jadi bagian dari hidupnya." Cintia terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca. Ini bukan hanya soal rasa cemburu, tapi juga soal ketakutannya kehilangan Hendra. "Kalau hubungan kalian udah selesai, kenapa kamu masih merasa tanggung jawab sama dia, Mas? Dia udah bukan istri kamu lagi. Harusnya aku yang jadi prioritas." Hendra meraih tangan Cintia, mencoba menenangkan istrinya. Wanita kalau sudah mengamuk ternyata benar-benar berbahaya. "Kamu memang prioritas aku, Cintia. Kamu selalu jadi yang paling penting buat aku. Aku nggak pernah ada niat bikin kamu merasa diabaikan." Sayangnya bagi Cintia, kata-kata itu tidak cukup. Rasa cemburu telah tumbuh lebih besar dari yang ia sadari. Wanita itu menarik tangan dari genggaman Hendra dan berdiri, lalu berjalan mondar-mandir. "Aku cuma nggak ngerti kenapa kamu nggak bisa lepas dari dia. Apa kamu masih punya perasaan sama dia, Mas?" "Astagfirullah." Hendra terkejut dengan pertanyaan itu. Dia tidak pernah berpikir bahwa Cintia akan meragukan perasaannya. Lelaki itu segera bangkit berdiri, mendekati istrinya dengan ekspresi serius. "Cintia, dengar. Aku nggak ada perasaan apa-apa lagi sama Nadia. Itu semua udah berlalu. Yang aku rasain sekarang cuma rasa tanggung jawab. Tapi itu bukan berarti aku masih cinta sama dia." Cintia berhenti sejenak, menatap Hendra dengan air mata yang mulai mengalir. "Tapi aku yang sekarang ada di samping kamu, Mas. Aku yang harusnya kamu perhatikan, bukan dia. Aku istri kamu. Kenapa aku yang merasa nggak aman dalam hubungan ini?" "Ya Allah." Hendra terdiam karena merasa bersalah. Meskipun niat hanya ingin membantu Nadia, dia mungkin telah melupakan perasaan Cintia. Dalam keinginan untuk tetap menjadi lelaki yang bertanggung jawab, Hendra mungkin telah mengabaikan perasaan istri barunya. "Kamu benar, Cin. Aku yang salah. Aku harusnya lebih peka sama perasaan kamu. Mulai sekarang, aku nggak akan kirim uang ke Nadia lagi tanpa kamu tahu. Semua akan transparan. Kamu punya hak buat tahu segalanya." Cintia menatap Hendra dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia lega mendengar janji itu. Namun di sisi lain, rasa curiga dan cemburu masih ada. Cintia hanya ingin merasa aman dan yakin bahwa dia adalah satu-satunya yang penting bagi Hendra. "Aku cuma mau kamu benar-benar lepas dari masa lalu. Bahwa kamu benar-benar sepenuhnya milik aku sekarang." Hendra mengangguk pelan, meraih tangan Cintia kembali. "Aku milik kamu. Aku janji akan lebih fokus ke hubungan kita. Aku nggak akan biarin masa lalu merusak apa yang kita punya sekarang." Cintia menatap Hendra, mencoba mencari kebenaran dalam mata suaminya. Setelah beberapa detik, wanita itu akhirnya mengangguk pelan. Meskipun hatinya masih sedikit tersisa rasa cemburu. "Aku harap kamu menepati janji kamu, Mas. Karena kalau sampai ini terulang lagi, aku nggak tahu apa yang akan terjadi sama kita." Hendra menarik Cintia ke dalam pelukannya, berharap bisa menenangkan perasaan istrinya yang terluka. "Aku janji, Sayang. Aku nggak akan biarin itu terjadi lagi." Dalam pelukan itu, Cintia merasa sedikit lebih tenang, meskipun perasaan was-was masih ada di hatinya. Namun, untuk malam ini, dia memutuskan untuk percaya pada Hendra. Cintia berharap bahwa suaminya benar-benar bisa melepaskan masa lalunya dan sepenuhnya hadir untuk dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD