“Ma-maksudmu Dipta suami kamu yang telah melakukan ini padamu?” tanya Dewa untuk memastikan. Lagi-lagi Anya hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan lemah sebagai jawaban. Seketika rahang Dewa pun mengeras bersamaan dengan tangannya yang juga ikut terkepal karena sedang menahan emosi yang mendadak ingin meluap ke permukaan. Untuk sesaat pria itu menundukkan kepalanya sambil beberapa kali menghembuskan napas panjangnya. Dewa sedang berusaha sekuat tenaga untuk meredam emosinya karena tidak ingin membuat Anya semakin ketakutan. “Baiklah, kita akan ke rumah Mas. Kamu yang tenang ya, nggak akan ada siapa pun yang bisa menemukanmu. Mas janji akan selalu mejagamu mulai saat ini!” ucap pria itu sambil menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian Dewa melanjutkan kembali perjalanannya yang se

