Bab 4 Serba Baru

1081 Words
"Mas Bara, diluar itu ada asisten mas Bara. Pak Andra." Kataku dari luar kamar "Iya, suruh aja dia nunggu sebentar." Kata mas Bara " Iya mas, aku tunggu di depan sama ibu dan bapak ya mas."ucapku "Hmmm." ucapnya "Dih, mulai lagi irit banget bicara." Dumelku pelan *** "Udah ada Ndra?" Tanya om Bara yang tiba-tiba nongol dari dalam kamar "nikmat mana yang kau dustai,, gila ini beneran suami gue tampan banget coy kaos putih yang memamerkan badan atletisnya celana pendek di bawah lutut. walaupun udah berumur juga tapi masih keliatan anak ABG." Batin dengan wajah terpana "Iya Tuan sudah ada semuanya masih ada dalam mobil truk di depan." Kata Pak Andra "Maaf Pak buk saya sudah lancang mengganti peralatan dalam di kamar Embun." Kata mas Bara Aku tersenyum melihat interaksi om Bara dan orang tuaku walaupun om Bara orang kaya banyak uang, lebih tua, tapi tidak sombong sama orang tuaku. "ohh tidak apa-apa mas mantu silahkan saja, sekarang senja sudah jadi tanggung jawab mas mantu." Jawab bapak "ya udah turunin aja terus masukin dikamar. Terus gimana masalah listrik sudah kamu atur." Tanya om Bara sama pak Andra "Sudah saya urus Tuan sebentar lagi ada yang akan menambah daya listrik." "Ya udah kalau begitu atur saja." Jawab mas Bara "Emang kekuatan duit bisa membeli seisi dunia, emang ada kantor PLN yang masih buka apa jam segini. Terus yang bayar listriknya sapa." Batinku *** Kami Duduk teras rumah sambil melihat mereka menurunkan barang-barang dari dalam truk. seketika mataku terbelalak melihat barang-barang yang turun, semua barang yang aku lihat hanya di TV dan rumah ibu kokom (tetangga yang kaya di desa kami). Sekarang kami punya seperti itu bahkan lebih mahal dari punya ibu kokom Semua yang di beli Ada kasur yang gede banget dan pilarnya dari kayu mahal itu ada 2 mungkin akan ditaruh di kamar ibu dan aku, Ada AC 3, TV yang gede banget, terus kursi sofa, lemari, kulkas, pokoknya semua barang-barang lainnya. Semua tetangga yang melihat terkejut seakan tidak percaya apa yang dilihat sekarang. Gubug reot kami akan diisi barang-barang mewah. Ibu bahkan lebih syok melihatnya dan bapak serasa tidak percaya apa yang dilihatnya sampai bapak melihat langsung ke depan truk karena barang tidak habis-habis trus dari truk. "Bukanya tadi nelepon minta beliin kasur sama Ac doang,, ini kok seisi rumah dibeli."gumamku "mas mantu itu beneran buat kami?." Kata ibu dengan syok seakan ibu tahu apa yang sedang aku fikirkan "i.ii.iiya apa ibu tidak menyukainya." kata mas Bara gugup "Bukan gitu mas mantu tapi itu banyak sekali dan pasti rumah ini pasti tidak muat, terus barang yang ada bagaimana?." tanya ibu "Barang yang ada di ganti sama yang baru aja buk. Sebenarnya saya rencana mau renovasi rumah ini. Jika bapak dan ibu berkenan." kata om Bara "Terus kita mau tinggal dimana kalau rumah ini di renovasi?." Tanya ibu "ibu dan bapak akan saya carikan kontrakan dulu atau kalau ibu dan bapak berkena, Bapak dan ibu bisa ikut saya dan Embun ikut ke kota." Kata panjang mas Bara "Aduh mas mantu nanti ibu bicara sama bapak deh, saya mau ketemu bapak dulu." ucap ibu yang bergegas pergi ingin menyusul bapak "mas,, kok mas nggak ngomong kalau mau renovasi rumah sih?". kataku "Ini baru rencana sayang, tapi kan semua yang menentukan kalau ibu sama bapak mau." Kata mas Bara "Duh,, jantung gueee jangan kayak gini dong, masa baru bilang sayang udah pada disko aja." Batinku "Mas mau dibuatin kopi?." Tanyaku "Boleh sayang mas mau minum kopi hitam tanpa gula." "Iya mas, tunggu sebentar ya." kataku saat masuk kedalam rumah aku melihat orang berlalu-lalang yang memasukan barang baru dan mengeluarkan yang lama. inikah nikmat menjadi orang kaya tanpa memikirkan beban mau yang baru tinggal beli, kalau bosan tinggal ganti, tinggal memberi perintah dan semuanya ada. Tapi aku tahu semua yang aku dapatkan ini akan aku bayar dengan harga mahal yaitu, kebebasanku, masa mudaku, dan diriku. Tapi tak apa aku akan lakukan semua demi semua orang uang aku cintai bahagia aku rela mengorbankan apa saja. **** "Ya ampun Bu Isyah, enak ya sekarang dapat mantu kaya jadi bisa beli apa aja. Apa lagi barang-barang mehol mehol itu kelihatan. iya gak Tun? kata ibu Ratna " Iya nih bu Ratna, itu semuanya mengalahkan punya bu Kokom yang juragan di desa kita ini. ya,, jangan lupa ya bu Isyah nnti kalau udah kaya jangan lupa kita-kita loh." ucap ibu atun. dengan julid "Dih,, jangan mau deh bu atun. kita ngejual anak kita biar kaya trus nikahin sama duda kaya nggak ada dapetin yang masih cowok terus kaya, apa lagi dudanya lebih tua dari umur kita. " " Iya bu, gimana kalau anak-anaknya mau dapat ibu tiri muda. Kalau anak-anaknya gak terima gimana. kesannya kan anak bu Isyah matre." Ibu yang mendengar kata-kata sumbang mereka hanya bisa menahan sakit apa yang didengarnya. ibu beristighfar agar hatinya tidak menjadi dengki seperti ibu -ibu yang ngomong julid "Saya permisi ibu-ibu mau melihat suami saya, permisi." Pamit ibu pada merek "Pasti dia tersinggung bu Atun." "Udah biarin aja, yang penting apa yang kita omongin itu bener." **** "Ini kopinya mas, apa nggak kepahitan ini kopinya mas tanpa gula." tanyaku "Kan manisnya ada di kamu." Gombal receh om Bara dengan kaku. Blushh "Pintar menggombal juga nih om-om rese aduh pipi gue udah merah banget, ya ampun bisa juga kamu ngefek dengan gombalan receh kayak gitu sih Embun." Runtukku di dalam batin "Dih mas gombal aja, mas fikir aku gula apa." kataku malu-malu manja "ini jujur, mas nggak bisa gombal kok. Mas bicara apa adanya." ucap om bara aku memutarkan bola mata melihat para pekerja memperbaiki dalam rumah agar aku tidak terjatuh dalam pesona om-om kece depanku ini. Aku melihat para tetangga banyak yang bergosip. Aku mendengarkan perkataan buk Ratna. Ingin aku kesana dan memarahi mereka tetapi aku tidak mau memperkeruh suasana. Karena apa yang dikatakan mereka itu benar apa adanya. Aku hanya menundukkan kepala dan menahan agar tidak menangis. "Insya allah aku tidak salah dalam mengambil keputusan." Amin dalam hatiku **** Setelah semua sudah terganti yang baru bahkan kamarku yang sudah ditambah dengan barang-barang baru menjadikan kamarku menjadi sesak karena saking kecil. Tapi setidaknya om Bara tidak kepanasan dan tidak akan sakit badan saat tidur di kasur yang kekecilan. sekarang malam sudah semakin larut seusai kami makan malam bersama. Mas Bara minta untuk masuk kedalam kamar karena ia sudah kelelahan. Aku sudah uring-uringan depan pintu kamar mondar mandir tidak karuan seperti setrikaan panas "Aduh apa yang harus gue lakun. Aduh gue belum siap kehilangan mahkota gue. gue belum siap njir.. Batinku TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD