Ceklek
"Duh ngapain sih itu om-om ada disitu sih,, Kenapa gue jadi salting kayak gini mau keluar lagi kan malu udah di liat sama sih om." batinku
Om yang sekarang sudah jadi suamiku menoleh dan melihatku.
"Duduklah sini, Kenapa berdiri depan pintu". Katanya
aku masuk dan duduk di samping om itu. Aku melihat wajah tampan suamiku yang warna putih sudah berubah jadi merah dan banyak keringat yang bercucuran.
Maklum ini rumah tuh gak ada ACnya terus kipas angin ini cuma satu itupun sedang dipakai di luar karena masih ada keluarga yang belum pulang sedang bicara sama bapak.
"Kasian banget nih om pasti kepanasan banget kan jadi kucel deh wajah tampan dan rupawan milik suami gue." batin aku
"M.m..m begini Embun saya harus kembali kekota hari ini juga karena pekerjaan saya masih banyak di kota. Kamu sekarang Istri saya jadi kamu harus ikut saya." kata kaku suamiku
"Duh,, gue belum siap pisah dari orang tua gue." Runtukku dalam batin
"Tapi Pak saya masih mau tunggu ijazah saya pak, mungkin 2 minggu lagi baru bisa keluar terus saya masih ingin melihat adik saya di RS dulu pak. Bisakah saya nanti setelah 2 minggu ikut Bapak Ke kota?" jawabku sambil menunduk
"Jangan panggil pak saya ini suami kamu bukan bapak kamu.". Jaawabnya ketus
"yaelaah ribet banget sih nih om-om tinggal panggilan aja ribet banget." runtukku dalam hati
" terus aku harus panggil apa dong?" tanyaku polos
"ya,, panggil apaa aja asal jangan bapak Saya bukan bapak kamu. Nanti orang mengira kamu itu anak saya bukan istri saya." Kata Suamiku
"Duh nih kayak judul disinetron ikan terbang Aku menikah dengan wanita yang cocok jadi anakku."kekeh dalam hati
"Kalau panggil om aja gimna?" jawabku
"Kamu bukan keponakan saya." Jawabnya yang mulai kesel
"aduh apa yah,, masa gue harus manggil sayang, cinta, hunny buny swetty Dih alay banget sih."pikir ku
" Panggil mas, abang, akang, a'a atau mamang. yang mana?". Kataku padanyaa
"Iya kamu pilih aja, asal jangan bapak, om atau paman."
" Iya udah aku manggil mas Deh. Mas Bara gitu aja ya."
"iya terserah kamu, itu lebih baik daripada bapak. Jadi kamu tidak bisa ikut saya kembali kekota?" tanya om-om yang mau di panggil mas.
"I.i.iiya mas, bolehkan? setidaknya saya pamit dengan teman-teman saya dan adik saya baik-baik jangan ngilaang gitu aja mas.". jawabku gugup plus takut karena ia sudah banyak mengeluarkan uang untuk pernikahan ini.
"Baiklah, saya akan menjemputmu 3 hari lagi. Hari itu saya harap kamu sudah menyelesaikan urusan kamu." Kata mas Bara
"3 hari om eh mas? terus ijazah aku gimana dong?". Kagetku
"Gila juga nih om-om ya mentang udah jadi suami main nentuin aja. Walaupun itu cuma ijazah SMA tapi kan berharga tau aja sekolahnya 3 tahun buat dapetin itu." teriak batinku
" Kalau masalah itu, nanti kita datang lagi untuk mengambilnya." Jawabnya tegas
" Jadi mesti datang lagi, kenapa nggak sekalian aja sih supaya nggak bolak-balik mas siapa tahu mas sibuk ditempat kerja." Tolakku
" Tidak.. Saya akan mengambil 3 hari lagi." Jawabnya tegas tak ingin di bantah
"i.ii.i.i iya mas, nanti saya akan persiapkan diri 3 hari lagi." Jawabku
"Duh, serem amat liat wajah om-om satu ini jadi takut deh, ya udah deh dari pada dia minta jatah malam ini mending dia pergi aja dulu gue belum siap coy.." runtukku dalam hati
" Ya sudah antar saya ke depan untuk pamit pulang. Tidak usah bawa baju kamu disini nanti saya siapkan disana aja."
Mas Bara melihatku dan mengelus rambutku, setalah itu mencium keningku dan memelukku
"Duh jantung kok jadi pada disko kayak gini sihh..Akibat kelamaan jomblo nih gue fikir ni om-om kaku nggak ada manis-manisnya." batinku
mas Bara melepaskan pelukkannya melihatku kembali dan mencium keningku agak lama. Aku hanya bisa pasrah apa yang di buatnya.
"Saya pamit yah, 3 hari lagi saya kembali, saya harap kamu sudah siap jadi istri saya seutuhnya.
Deghh
"Hilang sudah masa kegadisan gue,, udah nggak bisa deh gue eksis di kota kalau kayak gini." runtukku dalam batin
"M.m..mm Mas apa aku nasih bisa melanjutkan sekolahku mas??". Tanyaku hati-hati
"Kita bicarakan ini nanti saja. Setelah kamu sudah siap aku ajak pergi." Jawabnya kaku
"Astaga naga tinggal bicara aja. Apa sih susahnya, pokoknya gue harus ngebujuk nih om-om biar ijinin gue."
"Baik lah mas. Ayo aku antar mas kedepan." Ajakku padanya
Entah mengapa aku bisa tidak setakut di awal-awal bertemu padanya walaupun mas Bara kaku seperti robot cara pandangnya menakutkan tapi cara Ia bersikap begitu hangat membuatku sedikit nyaman padanya. Padahal aku orang yang tidak mudah buat akrab dengan orang baru aku temui.
Aku mengantarkan mas Bara pergi keluar. Di ruang tamu aku melihat tinggal bapak dan ibu sedang ngobrol, berarti tamu-tamu sudah pada pulang.
Aku duduk dgn mas Bara di Kursi sofa yang sudah lusuh yang sudah banyak sobekan.
"Apa dia nggak risih ya duduk diatas sofa yang butut ini dengan pakaian mahalnya, padahal kan pakaiannya terlihat mahal banget." ,Tanyaku dalam hati
"Pak Buk ,saya mau pamit ingin kembali ke kota hari ini. Karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan. Tadinya saya akan membawa Embun tetapi Ia belum siap saya ajak. Jadi saya akan menjemputnya 3 hari lagi. Kata Mas Bara dengan lancar
" Maaf Pak Bara bisakah bapak menginap disini malam ini,, besok pagi-pagi baru pergi kekotanya soalnya udah mau malam " Kata ibuku dengan suara yang lembut
"Panggil bara aja buk, memangnya mengapa jika sudah malam?." tanya mas Bara
Aku melihat interaksi mas Bara dengan orang tuaku yang sopan, tidak sombong dan tanpa memperlihatkan kalau ia orang kaya dan lebih tua dari orang tuaku. Secara pak Bara 3 Tahun Lebih tua dari bapak dan ibu
"Aduh jangan lah pak Bara. Jangan panggil nama kami sungkan bila harus panggil nama. Desa ini kalau malam rawan pak Bara banyak tukang begal pak dan lagi apa kata tetangga bila anak saya di tinggal di malam pertama ia menikah. Itu akan gunjingan para tetangga pak." Kata bapak dengan lesu
"Dih apaan sih bapak, malah nahan mas Bara lagi,, Padahal kan aku udah pengen tidur dengan nyenyak mana bisa mas Bara tidur di kasur yang lusuh dan sempit mana keras gitu." runtukku dalam hati
"Saya juga tidak enak jika bapak memanggil Pak Sementara saya menantu bapak. Panggil saya senyaman bapak dan ibu. Baiklah saya akan menginap malam ini besok subuh saya akan berangkat." Putus suamiku
Duarrrrrrrrrr
TBC