๐Ÿ‚Tiga๐Ÿ‚

484 Words
"Semangat ya lesnya! Semoga bisa semakin jago bahasa Inggris biar bisa nikah sama orang bule!" ucapku begitu bersemangat. Jasmine terkekeh sambil tersenyum kecil. "Iya, Mami. Mine masuk dulu ya." "Iya, Bye-bye Mine Sayang." "Bye-bye Mine." "Bye Mami, Papi, i love you," ucap Mine lantas dia berlari masuk ke dalam gedung tempat les nya. Senyumku masih terukir bahkan saat tubuh mungil Jasmine sudah tidak terlihat. Aku menyukai kalimat perpisahan penuh cinta dan kehangatan seperti ini. Aku jadi merasa bahwa keluarga ini seperti keluarga sungguhan. Padahal sebenarnya, begitu banyak kepura-puraan didalamnya. "Sayang," aku melirik ke arah Kak Gandra yang sibuk menyetir. "Sayang Kak Gandra," godaku lagi. "Kak Gan, Kak Ganteng! Kakak ganteng banget tahu pakai kemeja hitam begini," ucapku yang sama sekali tidak digubris olehnya. Pria itu tetap diam sambil terus fokus menyetir seolah enggak mendengar suaraku. "Suami Ganteng," aku mencolek pipinya, "tadi aja panggil-panggil aku sayang duluan. Sekarang diam kaya patung." Seharusnya aku enggak perlu kaget lagi karena memang Kak Gandra selalu seperti ini. Sikap hangat dan penuh cintanya hanya keluar ketika ada Jasmine di sisi kami, apabila tidak ada dia akan cenderung cuek seperti ini. "Kak," aku mengusap pipinya, "ngomong." "Nda," ucapnya sambil menarik tanganku dari pipinya. Aku tertawa melihat wajahnya yang terlihat sebal, tetapi Kak Gandra memilih diam karena enggak mau menghabiskan energinya untuk memarahiku. Bagi dia kalau masalah itu penting, dia baru mau mengeluarkan energi. Namun, apabila masalahnya sepele seperti ini dia memiliki diam dan cuek. "Cape nggak sih punya istri kaya aku? Selama setahun lebih ini, setiap harinya kan Kakak selalu aku godain." "Selama kamu mengurus Mine dan saya dengan baik. Semuanya baik-baik aja." "Bukan itu poinnya!" aku memutar posisi dudukku sehingga menghadapnya, "cape nggak menghadapi aku yang bawel, cerewet, suka ngegodain Kakak, suka agresif. Kakak cape nggak?" "Enggak," jawabnya singkat. "Kenapa?" tanyaku karena aku masih butuh penjelasan lebih. Dia melirikku sekilas. "Enggak saya ladenin juga." Cuaks! Betul juga. Aku bergumam, berpikir sebentar sebelum akhirnya kembali bersuara. "Bisa nggak kita romantis-romantisan 24 jam?" Aku iseng aja bertanya, walau aku sudah tahu jawabannnya pasti tidak. "Enggak." Kan, sudah ketebak. "Kenapa?" "Mine enggak memperhatikan kita 24 jam." "Kenapa cuma di depan Mine kita berpura-pura terlihat romantis?" Kak Gandra menarik napas. Dia mengambil botol air mineral lantas menengaknya. Haus dia, padahal ngomong aja singkat-singkat. Aku aja yang ngomong terus enggak haus. "Biar dia merasa punya keluarga yang hangat." Jawaban Kak Gandra membuat seketika pertanyaan kembali terlintas diotakku. "Padahal kita bisa jadi keluarga hangat sungguhan. Kita bisa romantis. Kita bisa menjadi keluarga penuh cinta tanpa berpura-pura." Kak Gandra menggeleng. "Enggak bisa." "Bisa kak. Ada suami, ada istri, ada anak. Kita bisa." "Enggak, Nda." "Kenapa?" pertanyaanku untuk kesekian kalinya. Mobil berhenti di lampu merah. Kak Gandra menatapku lekat lantas dia kembali menggeleng. "Kenapa enggak bisa Kak?" tanyaku lagi. Pokoknya aku akan bertanya terus sampai mendapatkan jawaban. "Karena kamu bukan Vinka." Aku langsung membuang pandanganku keluar jendela dan tersenyum getir. Jawaban Kak Gandra sudah lebih dari cukup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD