JONATHAN. Pria itu duduk tegak di salah satu ruang jabatan sebuah perusahaan, yang jelas bukan ruangannya. Setelannya lebih rapi dari biasanya dia berpakaian, bahkan rambutnya ditata oleh gel rambut agar tidak berantakan. Tampak dahinya muncul keringat yang beberapa kali disekanya, dia gugup bertemu atasannya ‘yang lain’. Meski Jo sering bertatap muka dengan orang itu, image-nya begitu berwibawa membuat Jo merasa kikuk dan takut salah bicara. Hanya di hadapan orang itu Jo menunjukkan keseganannya. Jauh sebelum hari ini, atasannya itu Jo anggap teman karibnya karena begitu humble dan ramah. Tapi saat mengetahui jati diri serta dari mana dia berasal, Jo jadi pikir panjang untuk tetap bekerja padanya. Itu dulu, hari ini dia sudah mantap sepenuhnya. Beberapa menit dia menunggu sang atasan

