"Dik, maaf kalau kalimat ini menyinggung. Tapi, sepertinya selama ini ki kakak makin nyaman dan nyambung sama adik. Sekiranya, Dik Afi tidak keberatan, Kakak mau menyampaikan maksud perasaan ini. Berkenankah adik menikah dengan kakak?" Dengan sekuat tenaga aku sampaikan seluruh isi perasaanku walaupun hanya beberapa kata saja yang mampu terucap. Ada perasaan ragu dan khawatir jika terjadi penolakan dan terjadi kerenggangan hubungan setelah ini. Tapi, aku juga tak mau kehilangan kesempatan.
Afi menolak Arif dengan segala alasannya. Aku merasa percaya diri bahwa aku lebih baik darinya. Aku gak merokok tak juga minum minuman keras. Selayaknya muslim, aku menjalankan syariat agama Islam dan tak meninggalkan sholat lima waktu. Aku komunikatif dan bertanggungjawab. Aku juga berani dan tegas dengan setiap keputusanku. Maka dari itu, segera ku ungkapkan isi hatiku.
Ku sambang Afi ke rumahnya. Bapak dan ibu membiarkan kami ngobrol di teras rumah. Afi masih terduduk bengong di kursi rodanya. Aku pun bingung dan takut kalau-kalau Afi marah padaku.
"Dik, gimana?" Tanyaku mencoba memecahkan lamunannya.
"Ha... gimana ya kak?" Afi terdiam dan lesu menjawabku.
"Ya sudah. Di pikir-pikir dulu gak apa-apa. Nanti, ngobrolnya dilanjut di wa saja ya." Aku kemudian pamit pada bapak dan ibu. Maksudku, pamit kepada kedua orang tua Afi. Mereka cukup keheranan, karena tak biasanya kami ngobrol hanya sebentar.
Bapak dan ibu memang sudah terbiasa dengan teman-teman Afi yang datang ke rumah untuk ngobrol atau keperluan lain. Afi adalah gadis supel yang memiliki banyak teman. Sebagian besar bahkan teman laki-laki. Mereka pun akrab sehingga tak terfikir bahwa akan ada hubungan asmara dengan Afi.
Dimas, Slamet, Joko, Putra, Sabar, Jatmiko dan masih banyak lagi temannya yang lain yang juga aku kenal. Bahkan Orangtua mereka sering berbagi hasil bumi karena sudah seperti keluarga. Ada yang kadang memberi kacang panjang, pisang, atau tanaman sayur yang lain. Hal tersebut membuat pertemanan semakin akrab dan seperti keluarga.
Di rumah ku cemas menantikan kabar dari Afi. Dia tak kunjung mengirim pesan padaku. Apakah dia marah padaku? Apakah dia menganggapku mengkhianati persaudaraan yang selama ini terjalin antara kami?
********
Kenapa Kak Adi bisa tiba-tiba mengungkapkan perasaannya begitu? Kenapa juga aku tidak langsung menolaknya seperti aku menolak Arif waktu itu? Lalu apa alasanku menolaknya? Dia kan tidak seperti Arif. Dia tidak pemabuk, bahkan merokok pun tidak. Dia muslim yang baik dan selama ini aku mengenalnya sebagai pribadi yang sopan, bertanggungjawab, dan pemberani. Lalu kenapa juga tadi aku gak langsung terima aja? Kalau kuterima nanti jadinya gimana? Ah kenapa di kepalaku timbul banyak pertanyaan? Pusing aku.
"Dek, marah kah?" Wa dari kak Adi memecah lamunanku.
"Gak, kak. Bingung aja." Jawabku.
"Gimana jawabannya?" Kak Adi menanyakan lagi pertanyaan yang belum ketemukan jawabannya.
Waktunya tepat sekali. Setelah terjadi perjodohan yang tak kuinginkan, Kak Adi justru mengungkapkan perasaannya. Bapak dan Ibu juga selalu mendesakku agar segera menikah. Jika tidak dengan laki-laki pilihan bapak dan ibu, maka aku harus memilih pilihanku sendiri. Aku pun bingung harus memilih siapa, karena selama ini aku tak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Aku tak berpacaran dengan pria manapun. Pikiranku belum pernah mengarah ke sana. Setelah lulus dari SMA, bayanganku aku ingin kuliah dan belajar dengan gelar mahasiswi. Lalu bekerja dengan lingkungan baru dan menyenangkan. Baru setelah itu akan menikah dengan kondisi siap mental dan hati.
Ah, bingungnya aku. Akhirnya ku sampaikan saja seluruh isi hatiku itu pada kak Adi. Tapi tetap saja dia memiliki jawaban yang tak bisa membuatku lolos darinya.
"Kalau Dik Afi, tidak keberatan. Nanti kita menikah. Dik Afi lanjut kuliah. Kakak kerja. Nanti biar kakak yang biayai kuliah adik. Kita tinggal di dekat kampus tempat adik belajar." Jawabannya membuatku tak berkutik.
Semua jawabannya sebenarnya sesuai dengan keinginanku. Bapak dan ibu tentu tak berkenan dengan keinginanku kuliah. Selain kondisi ekonomi yang pas-pasan, bapak dan ibu inginnya aku segera menikah. Tapi jika tiba-tiba menikah, apakah aku siap? Rasanya kemarin aku tak pernah terbayang akan segera menikah. Lalu, Kak Adi? Bagaimana bisa tiba-tiba aku menikah dengannya, pria yang kuanggap sebagai abangku sendiri.
"Sejak kapan perasaan itu ada?" Tanyaku penasaran.
"Sejak perjodohan itu. Rasanya tidak ikhlas jika Dik Afi menjadi milik orang lain. Namun, seandainya saat itu Dik Afi menerimanya kakak akan menerima kenyataan itu.Syukurlah, ternyata adik tidak menerimanya. Lalu, tunggu apa lagi? Nanti Dik Afi keburu diambil orang." Jawaban kak Adi membuatku berbunga-bunga. Namun, aku tetap saja masih bingung dengan situasi ini.
"Lalu, bagaimana dengan pacar kakak yang waktu itu?" Tanyaku penasaran. Aku ingat dulu Kak Adi pernah menceritakan padaku tentang Taruni yang juga satu kampus dengannya. Mereka pun menjalin hubungan serius dan berencana menikah. Jangan sampai aku terima Kak Adi namun masih berstatus milik orang lain.
Setelah cerita panjang lebar, aku baru tau jika hubungan mereka telah berakhir. Di sisi lain, aku merasa dikhianati dengan judul persaudaraan kami selama ini. Kami selama ini sangat akrab dan banyak bertukar cerita selayaknya adik dan kakak. Tapi dengan pernyataan Kak Adi mengenai perasaannya, aku merasa situasi ini sungguh dimanfaatkan. Dia memanfaatkanku saat butuh calon untuk dikenalkan dengan Mama dan Papanya. Juga dengan situasiku yang didesak oleh bapak dan ibu untuk segera menikah.
"Jahat sekali." Ku kirim pesan itu pada Kak Adi.
"Maafkan perasaan Kakak jika ini berarti jahat untukmu. Lupakan saja jika ternyata rasa ini tidak berbalas. Segeralah cari pria lain untuk memenuhi permintaan bapak dan ibu yang ingin segera memiliki mantu." Jawaban kak Adi yang memelas justru membuatku merasa bersalah.
Tak ada alasan menolaknya. Aku pun tak memiliki calon lain. Ya Robb, dalam sujudku malam ini mohon mantapkan hatiku dalam memutuskan hal ini. Tunjukkan pilihan yang baik untuk selanjutnya memulai masa depan yang baik.
********
Afi akhirnya menerima pinanganku setelah memantapkan hati dan menyampaikannya pada bapak dan ibu. Meskipun sempat terjadi penolakan dari ibu karena profesiku. Ibu menganggap profesiku akan selalu jauh dari keluarga. Namun dengan segala penjelasan dan pertimbangan akhirnya bapak dan ibu sependapat dengan Afi.
Aku sangat bahagia dengan dengan jawaban Afi. Meskipun aku merasa Afi masih menyimpan keraguan dengan keputusan ini. Pastilah, selama ini dia sangat tulus menganggapku sebagai kakaknya layaknya orang lain dengan abangnya sendiri. Dia juga tidak pernah memikirkan akan menikah secepat ini. Selama ini pikirannya selalu dipenuhi dengan cita-cita dan impiannya untuk masa depan. Akan ku wujudkan mimpi dan cita-citamu, dik. Afi, adikku yang kelak akan menjadi istriku.