Rasa Khawatir

845 Words
"Menarik juga tuh Ko. Enak banget ya Ko?" "Tante sampai mau suruh Nina jadi tukang masak di rumah aja Pram, tapi diomelin sama Henni, katanya Mami mau bikin aku gendut apa? Nina itu kalau masak ngga pernah fail, makan sedikit kurang, makan banyak kekenyangan, tapi kalau ngga dimakan malah menyiksa." Semua yang mendengar jadi tertawa dengan cerita Mami Henni, tak terkecuali Nina. Henni dulu memang kerap komplain dengan dirinya, karena kalau Nina menginap di rumahnya selalu dibuatkan makanan-makanan yang biasa mereka makan di restoran saja. Nasi Hainan itu tentu saja tidak hanya berisi potongan ayam dan kuah kaldu seperti biasa, tapi juga ada irisan ayam charsiu kemudian telur semur belum lagi sawi asin dan acar timunnya. Wah... Begitu lengkap dan itu jelas membuat keluarga Henni selalu berkumpul setiap akhir pekan kalau Nina menginap. "Ini untuk Ci Rika dan Claire ya Ko, kulkasin aja, besok pagi tinggal dihangatkan di microwave. Semoga Claire cepat sembuh ya Ko." "Makasih ya Na..." Hendi tidak mengajak istrinya karena Claire, anaknya sedang sakit. Namun sore tadi Ci Rika sudah menelepon Nina untuk memberitahu kondisi mereka. *** Nina memutuskan untuk pulang ke apartemen karena besok dia sudah harus bekerja lagi. Nanti Sabtu pagi baru dia akan pergi ke makam lagi dengan anak-anaknya dan Papi Mami. Pram bersiap dan menunggunya di mobil, dia akan mengantarkan Nina malam itu. "Mi Pi, aku balik apartemen ya." "Hati-hati sayang, kabarin kalau sudah sampai ya." "Iya Mi Pi." Nina masuk ke dalam mobil dan menurunkan jendela untuk sekedar melambaikan tangannya. Pram yang sedang konsentrasi menyetir, tidak sadar kalau sedang dipandangi oleh Nina. Dia belum bercerita soal kejadian pagi tadi. "Kamu nanti mau nginap atau pulang?" Nina sedang mempertimbangkan apakh mungkin dia akan bercerita malam ini juga atau kapan-kapan saja. "Emang boleh nginap? Aku udah bawa baju juga sih sebenernya." "Nah... Kalau dibilang ngga boleh kan biasanya tetap maksa, jadi sebenarnya aku nanya tuh cuma formalitas doang sih." Nina jadi terkekeh karena sudah berhasil meledek Pram. Dia putuskan untuk malam ini saja dia ceritakan kepada Pram. Begitu sampai di apartemen Pram segera mandi, Nina yang sedang mengganti spreinya, kemudian menyiapkan baju ganti untuk Pram. Dia ingin mandi juga, rasanya badannya sedikit gerah. Setelah selesai keduanya mandi, mereka berbaring di atas kasur sambil berpelukan. "Kamu capek ngga say?" Jari jemari Pram membelai rambut Nina yang halus. Dia sudah hampir tertidur rasanya tadi, "Lumayan, agak ngantuk sih. Kenapa? Oiya kamu pagi tadi ke Karawang ya? Mama telepon aku, ketemu kamu tadi pagi katanya." "Oh.. Mama ada bilang apa sama kamu?" "Engga ada, cuma kasih tahu aja kalian ketemu tadi." Nina menghela napas, dia harus jujur pada Pram mengenai kegelisahannya selama ini. Lebih cepat lebih baik. "Aku mau bicara. Boleh? Soal kita." Pram langsung melepaskan pelukannya, keduanya memberi jarak sedikit, supaya bisa lebih leluasa berbicara. "Awal ketemu sama Mama kamu, jujur aja aku ngerasa kayanya Mama ngga seramah yang aku bayangkan. Seperti ada sebuah tembok transparan, yang membuat aku agak kesulitan untuk bisa lebih akrab dengan Mama. Beda dengan Cici kamu. Aku ngga mau ambil pusing tadinya, toh waktu itu kan kita juga baru banget pacaran. Lalu sampai akhirnya tadi pagi kami bicara, Mama kamu bilang kalau dia sudah tahu soal status janda ku dan juga si kembar. Dan, Mama terus terang bilang kalau dia ngga suka kalau aku memanfaatkan kamu untuk biaya hidup kami. Katanya, Mama tidak rela kalau uang anaknya dipakai untuk membesarkan anak orang lain." Pram tidak bicara apapun, dia hanya diam, tapi matanya terlihat terkejut dan tidak menyangka bahwa Mamanya bisa bicara seperti itu. Padahal waktu dia menelepon dan menceritakan soal Nina, Mamanya tidak pernah berkomentar apapun. Dia hanya diingatkan untuk tidak perlu buru-buru menikah, pilih wanita yang benar-benar mengerti dirinya, yang bisa mengurusnya dengan baik. Pram malah terbayang wajah Nina dalam otaknya, memang dia sudah jatuh cinta padanya, berbeda dengan cerita cintanya yang dulu, dimana dia benar-benar dimanfaatkan sebagai lumbung uang. Lekas dia memeluk Nina yang hampir menangis, hatinya sakit melihat Nina bersedih karena ucapan Mamanya, tidak pernah sekalipun Nina memintanya untuk membiayai si kembar, kalau cuma mengajak mereka ke mall dan sekedar makan, itu biasa saja. Karena memang dasarnya sayang, Pram tidak pernah hitung-hitungan. Tapi ternyata Mamanya setega itu. "Jangan didengarkan ya, aku ngga pernah merasa kamu memanfaatkan aku. Kalau aku ajak kalian ke mall makan dan main, atau beli sesuatu ya itu karena aku memang sayang sama kalian. Aku bahagia kalau lihat kalian senang. Nanti aku akan ngomong sama Mama ku lebih detail soal kamu, dia ngga tahu aja kalau Papi owner Fin Tech dan bahkan kamu beli apartemen ini jauh sebelum kita kenal." "Kamu paham kan sekarang soal restu?" "Nanti aku akan ngomong ke Mama kalau kamu tidak seburuk yang dipikirkannya. Kemungkinan Mami dengar soal kamu dari teman-temannya yang cuma bisa menjelek-jelekkan kamu saja. Mereka kan ngga kenal sama kamu, jadi ga perlu kamu ambil hati." Pelukan Pram semakin erat, dia tahu Nina pasti tidak baik-baik saja, Nina sudah bilang padanya soal restu Mamanya, tapi sepertinya dia kecolongan dengan respon Mamanya yang diluar perkiraan. "Kamu ngga perlu khawatir, kita hadapi semuanya sama-sama. Aku cuma mau kamu dan anak-anak melengkapi hidup aku saat ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD