Pertemuan Tak Diduga (2)

727 Words
Nina hanya bisa tersenyum getir menanggapi semua tuduhan Mama Pram. Dia tidak menyangka ternyata serendah itu dia dipandang oleh orang yang sudah melahirkan Pram. Sungguh hatinya sangat sedih, namun dia sadar juga kalau tidak sepenuhnya salah Mama Pram. Tapi kali ini dia enggan meneruskan pembicaraan lebih lanjut. "Tante maaf, apa masih ada yang mau dibicarakan? Sebab saya harus pulang hari ini ada urusan penting." "Ya kamu boleh pulang, jangan lupa kata-kata saya jauhi Pram. Kamu tidak pantas untuk dia." Dia langsung berdiri dan putar balik kanan. Dia membawa kendaraannya keluar dari rest area dan menuju ke Jakarta dengan segera, karena dia harus mempersiapkan ibadah malam nanti di rumah. *** Nina sampai di rumahnya jam 12 siang karena dia mampir ke bakery dulu tadi. Dia memesan snack box untuk ibadah sore nanti, untuk makan malam Mami bilang mereka pesan catering saja, supaya tidak terlalu repot. Sampai di rumah, di ruangan tengah sudah mulai dijejerkan bangku-bangku supaya nanti beberapa tamu yang tidak kebagian duduk di sofa bisa duduk di bangku tambahan saja. "Sudah sampai Na?" Mami turun dari lantai 2, terlihat jelas bahwa Mami baru selesai mandi. "Iya Mi, barusan. Ada makanan ngga Mi? Aku belum makan siang." "Ayo makan bareng kalau gitu, Mami juga belum makan kok. Mbak Atun masak sayur lodeh sama ayam bakar." "Ah mantap banget." Mereka makan dengan lahap, Nina yang sedari pagi begitu risau akhirnya memilih untuk makan dahulu supaya dia bisa berpikir jernih. Setelah selesai makan, mereka juga menikmati buah potong yang disajikan mbak Atun di meja makan. "Mi, boleh tanya?" Mami mengangkat alisnya, sambil menggigit potongan semangka di bagian ujungnya, "Kenapa?" "Kenapa dulu Mami sangat welcome dengan aku saat pertama kita ketemu? Padahal aku kan bukan anak orang kaya, istilahnya kalau dibandingkan sama keluarga Mami, aku tuh ga sepadan." "Mami ngga pernah menilai orang dari materi Na. Anak Mami laki-laki semua, kalau mereka menikah, ya jelas nanti anak Mami yang harus menafkahi istrinya. Buat Mami ekonomi bukan masalah utama, Mami lebih takut punya menantu yang sombong, tamak, dan licik. Itu lebih susah untuk diperbaiki soalnya. Mami butuh wanita yang baik, yang tulus sayang sama anak Mami dan kami semua. Udah, sesederhana itu. Dan Mami ngga akan cemburu sama menantu, Mami malah harus sayang sama mereka, supaya mereka juga sayang sama Mami." Nina berdiri menghampiri Mami dan mereka berdua berpelukan. Nina yang kehilangan Ibunya sejak dia masih SMA selalu mendambakan jika nanti menikah dia bisa mempunyai ibu mertua yang menyayanginya. Dan Tuhan memang menjawab doanya, tapi mungkin kali ini dia lalai dalam mendoakan calon mertua selanjutnya. "Makasih Mami. Maafin aku belum bisa balas kebaikan Mami sama Papi." "Kalau kamu bahagia, maka kami juga akan bahagia. Ceritakan masalah mu dengan kami, siapa tahu bisa ketemu solusinya." Nina menghapus air matanya, mereka memutuskan untuk pindah ke sofa supaya bisa bicara lebih santai. "Tadi waktu ke makam, ngga sengaja ketemu sama Mamanya Pram. Katanya ada yang mau disampaikan, ya sudah aku ikut. Mama Pram tahu soal status aku yang janda ini Mi, dan dia juga tahu soal anak-anak, dan ternyata Mamanya menilai aku hanya ingin memanfaatkan uangnya Pram supaya bisa menghidupi anak-anak. Mama Pram tahu kalau aku punya bakery, dia juga tahu kalau aku kerja. Tapi sepertinya dia belum tahu kalau anak ku itu cucunya Mami dan Papi." Mami hanya diam mendengar cerita Nina, dia tahu anaknya pasti punya banyak pertimbangan kenapa Nina tidak menceritakan saja yang sebenarnya, kalau Erick meninggalkan banyak materi untuk biaya hidup anak istrinya, bahkan biaya pendidikan anak-anak juga sudah terjamin. Sebenarnya kalau Nina tidak bekerja pun mereka sudah siap membiayainya, tapi Nina juga tidak mau berpangku tangan meminta saja, dia begitu bijak dalam menggunakan uangnya. Malah terkadang saat akhir pekan dia masih menerima pesanan macaroni panggang. "Kenapa kamu belum cerita ke Mama Pram soal kondisi kamu yang sebenarnya? Bilang saja kalau tanpa Pram bantu pun kamu sudah hidup layak 3 tahun ini. Kalau penilaian dia sebatas materi, kamu kan punya. Buktikan kalau kamu berkelas, tanpa dia harus fitnah kamu memakai uang anaknya." Mami menggenggam tangan Nina, menatap matanya untuk memastikan Nina akan menjawabnya dengan jujur, "Atau kamu tidak cinta sama Pram?" Lagi-lagi Nina hanya diam. Tidak mungkin dia tidak mencintai laki-laki itu, hubungan mereka sudah sejauh ini, kalau hanya bicara perasaan tentu saja Nina tidak ragu. Tapi Mami juga tidak salah kalau meragukan perasaannya, sebab Nina tidak membela dirinya di hadapan Mama Pram. Dia mungkin lupa, tidak semua mertua sebaik Maminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD