Part 2. Permohonan Mama.
Abiyoga William, 28 tahun. Merupakan saudara kembar Abisatya William. Sejak kecil Abiyoga dan Abisatya sudah berteman dengan Calista.
Dari dulu Abisatya secara terang-terangan selalu menunjukkan rasa cintanya pada Calista, berbeda dengan Abiyoga yang memilih memendam perasaannya sendiri. Ya, hal itu semakin memburuk ketika SMA Abisatya dan Calista secara terang-terangan menunjukkan hubungan percintaan mereka.
Ketika kuliah, Abiyoga mulai menjauh dari Abisatya dan Calista. Bukan hanya itu, ia juga mengubah penampilannya 180° jauh berbeda agar tidak tampak seperti Abisatya.
Puncaknya, satu tahun yang lalu. Ketika Calista dan Abisatya menikah. Abiyoga memutuskan untuk tidak tinggal di rumah kedua orang tuanya lagi.
Perasaan cinta terpendam itu seperti racun. Menyakiti dan menyiksa dirinya sendiri. Tidak ada satu pun orang yang tahu mengenai perasaannya. Tidak kedua orang tuanya, tidak Abisatya, dan Calista juga tidak mengetahuinya.
Yang mereka tahu, Abiyoga hanya berubah. Itu saja.
Panggilan telefon berbunyi. Ada panggilan telefon dari sang mama. Ini pertama kalinya sejak satu tahun yang lalu. Bu Marisa, memilih menuruti kemauan suaminya. Mengacuhkan Abiyoga yang tidak mau menuruti perintah papanya. Seno, berharap Abiyoga bisa seperti Abisatya. Namun, harapannya sirna karena Abiyoga menjadi pribadi yang menyerah. Pelukis jalanan, itulah profesi yang digelutinya saat ini.
Abiyoga mengacuhkan panggilan telefon. Memilih fokus menggerakkan jemarinya di atas kanvas.
Ponselnya kembali berdengung. Masih dari nomor yang sama.
Pria itu menggeser ikon warna hijau dari layar ponsel. Memutuskan menerima panggilan telefon.
Panggilan terhubung.
“Halo,” sapa Abiyoga ragu.
“Halo, Yoga bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Bu Marisa dari seberang telefon.
“Kabarku baik, bagaimana dengan kabar mama?” pria itu menaruh kuasnya dan berdiri melihat keluar kaca.
“Mama sedang tidak baik, pulanglah Yoga, ada yang ingin mama sampaikan!” tutur wanita paruh baya itu menahan isak tangisnya.
“Ada apa, Ma?” desak Abiyoga. Suara berat sang mama, dan isakan yang samar terdengar pasti ada hal buruk yang terjadi.
“Pulanglah, malam ini juga! Mama akan menceritakan semuanya di rumah!” jelas wanita paruh baya itu.
Hening. Abiyoga ragu, ia tidak ing8n bertemu dengan sang papa. Namun, khawatir dengan mamanya.
“Mama mohon, pulang sekarang juga, Nak!” rengek Bu Marisa tidak bisa menahan air matanya lagi.
“Baik, Ma,” jawab Abiyoga. “Aku akan segera pulang!” imbuhnya.
“Mama tunggu!”
“Iya, Ma,”
Panggilan telefon berakhir.
==❤==
Abiyoga mengambil baju hangat. Ia meraih helm dan kunci motornya. Meninggalkan sebuah rumah yang sudah ia sewa selama satu tahun ini. Rumah sederhana tempat ia menyalurkan hobinya.
Pria itu naik ke atas motor. Kemudian, mulai menjalankan kendaraan roda duanya membelah jalanan kota. Membelah gelapnya malam.
Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 23.30 WIB. Jika bukan karena hal mendesak, mamanya tidak mungkin menelefon, apalagi sampai menangis. Sepanjang perjalanan Abiyoga terus menebak dan berpikir, hingga tibalah ia di depan pintu gerbang kediaman orang tuanya.
Seorang penjaga, membuka untuknya. Abiyoga menuntun sepeda motornya masuk. Ia memarkir di beranda depan, lalu melangkah masuk.
Abiyoga berdiri sejenak. Mengalahkan rasa ragu, ia memutar handle pintu, mendorong hingga pintu terbuka.
“Kau sudah tiba, Nak?” sapa suara dari dalam. Suara itu adalah suara sang mama yang masih dirundung duka.
Abiyoga menerobos masuk. Ia segera memeluk sang mama. Masih menebak, apa gerangan yang membuat wanita itu bersedih.
Bu Marisa, menghambur dalam pelukan putranya. Menumpahkan air matanya di sana. Saat melihat Abiyoga, kabar mengenai meninggalnya Abisatya semakin terngiang.
Perlahan Bu Marisa bisa mengendalikan tangisannya. Ia pun mengurai pelukan. Menuntun putranya untuk duduk.
Di ruang tamu ada Pak Seno, Bu Marisa, dan Abiyoga. Mereka duduk bertiga, dalam suasana hening.
Terlihat Pak Seno dan Bu Marisa dalung berpandangan.
“Yoga!” panggil Pak Seno.
“Iya, Pa,” jawab pria itu. Meski masih ada amarah, Abiyoga tetap berusaha menghormati papanya. Menoleh ke arah wajah Pak Seno.
“Kapal yang ditumpangi kakakmu, Abisatya tenggelam, semua penumpang dan awak kapal dinyatakan meninggal,” tutur Pak Seno. Raut sedih menguasai wajahnya.
“Kakak,” lirih Abiyoga sembari berurai urai air mata. Dadanya terasa sesak. Rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Namun, ekspresi sang mama yang duduk di sebelahnya dengan kesedihan dan berurai air mata. Membuat Abiyoga menelan ludah. Getir di ujung lidahnya. Kabar duka itu benar adanya. Kembarannya, Abisatya telah tiada.
Abiyoga memeluk mamanya. Sama-sama menangis, berbagi kesedihan dengan wanita yang melahirkannya itu.
“Kalian berdua istirahat! Besok ada yang harus kamu lakukan Yoga!” titah Pak Seno meninggalkan ruang tamu. Melangkah menuju kamarnya. Meninggalkan istri dan putranya.
==❤==
Bu Marisa tidak bisa memejamkan matanya walau sekejap. Berbagai pikiran terlintas di benak wanita itu. Suara ponsel berdengung menghentikan lamunannya pagi itu. Ada panggilan dari Calista.
Panggilan terhubung.
“Halo,” sapa Bu Marisa.
“Halo, Ma, apa Mas Satya sudah tiba?” tanya Calista antusias. “Aku bermimpi Mas Satya sudah tiba di rumah semalam,” imbuhnya.
“Iya, Satya sudah tiba!” jawab Bu Marisa terpaksa berbohong.
“Syukurlah, jadi kapan Mas Satya akan menjemputku?” desak Calista dengan ceria.
“Mungkin siang atau sore nanti,” sahut Bu Marisa asal. Bagaimana pun ia tetap tidak bisa menyampaikan kabar yang sebenarnya. Mengenai kematian putranya, pada wanita yang tengah hamil tujuh bulan itu.
“Siang hari Ma, suruh Mas Satya datang siang nanti!” paksa Calista.
“Iya, Sayang, tunggu ya,” sahut Bu Marisa.
“Iya, Ma, aku sudah tidak sabar ingin bertemu Mas Satya!”
“Iya, nanti ya, Satya sedang istirahat,” dalihnya.
“Iya, Ma.”
“Sampai bertemu siang nanti, Calista.”
“Iya, Ma.”
Panggilan telefon berakhir.
Bu Marisa beranjak dari tempat tidur. Segera keluar dari kamar. Ia mendapati Yoga, tengah duduk di ruang tamu ditemani kopi. Minuman favoritnya.
“Yoga,” panggilnya serak.
“Iya, Ma.”
“Bolehkah Mama minta tolong!” pinta sang Mama meraih tangan sang putra dalam kuasanya.
“Minta tolong?” Abiyoga balik bertanya. Menyelidik ke dalam manik coklat mamanya.
Hening.
“Berpura-puralah menjadi Abisatya, berpura-puralah menjadi suami Calista, sampai anak dalam kandungannya lahir! Kamu bersedia kan?” paksa sang mama.
Abiyoga diam, mencoba mencerna apa yang baru saja dipinta mamanya.
“Papa mohon, kamu mau melakukannya!” timpal sang papa yang ternyata sudah berdiri di sana sejak tadi.
Pak Seno dan Bu Marisa menatap penuh harap. Berharap Abiyoga mau mengabulkan permintaan mereka.
“Mama mohon Nak, keadaan Calista semakin memburuk dua minggu ini. Berat bayinya semakin bertambah minggu bukan semakin banyak, tapi semakin turun. Mama tidak sanggup menyampaikan kabar duka ini, jika dia tahu Abisatya telah tiada, mungkin bayi dalam perutnya juga tidak bisa di selamatkan. Kamu mau melakukannya kan?” ucap Bu Marisa kembali memohon penuh harap.
Hening.
Abiyoga kembali menyelam ke dalam sorot mata mamanya. Ada permohonan yang tulus di sana.
Pria itu mengangguk pelan. Pertanda setuju, ingin berpura-pura menjadi Abisatya.
To be Continue