Part 8. Satu Jiwa Dua Peran.
===
Pukul 03.00 WIB dini hari. Yoga terjaga dari tidurnya. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.
Tiba-tiba ada rasa bersalah yang teramat besar merasuk ke dalam hatinya. Bayangan wajah Devina yang tengah tersenyum, terlintas di hatinya. Wajah Devina saat berurai air mata melintas dalam benaknya.
Pria itu dengan perlahan beranjak dari tidur. Turun perlahan, lalu berjalan dengan berjinjit menuju pintu. Berusaha tidak membangunkan wanita di sampingnya.
Kemudian, ia melangkahkan kaki menuju ke taman belakang. Tak lupa mengambil ponsel di tempat persembunyiannya.
Yoga duduk di salah satu kursi yang menghadap ke arah kolam renang. Suasana belakang rumah tampak gelap. Ada satu titik cahaya di kolam ikan dengan air terjun di dinding sebelah kiri. Suara gemercik air, membuat hatinya sedikit tenang.
Yoga meraih telepon pintarnya. Membuka buku telepon mencari nama yang sejak tadi mengganggu hati dan pikirannya.
Nama dan foto Devina terpapar dai layar ponsel. Yoga segera menghubungi gadis itu.
Panggilan terhubung.
“Halo,” sapa Devina dengan suara serak. Sepertinya panggilan telefon dari Yoga berhasil membuat terjaga dari tidur.
“Halo, sayang, kamu sudah bangun?” tanya Yoga. Rasa rindu pada Devina hadir, lalu memenuhi hati dan otaknya. Terus berada di sana, bersama dengan rasa bersalah karena telah membohonginya.
“Iya, kamu kenapa telefon jam segini? Mama baik-baik saja kan?” tanya gadis itu.
“Iya, mama baik-baik saja. Oh iya, bagaimana persiapan pameran?” tanya Yoga. Pasti sangat berat untuk Devina melakukannya sendirian tanpa dirinya. Namun, Yoga percaya kekasihnya itu mampu.
“Baik-baik saja dan lancar, asal hari sabtu dan minggu kamu harus sudah kembali ke sini!” pinta Devina penuh harap.
“Iya, aku usahakan, kalau mama sudah membaik aku pasti akan datang!” jawab Yoga. Sesuai keinginan sang papa. Untuk sementara waktu, ia akan mengutamakan Calista. Itu artinya dia harus mengesampingkan Devina.
“Aku merindukanmu, Mas!” ungkap gadis itu terdengar isakan.
“Tenang saja, besok Sabtu pagi aku datang, mungkin aku akan menginap sampai hari Minggu, dan seusai pameran aku baru pulang lagi ya,” jjelasYoga. “Cup—cup jangan menangis!” bujuknya.
“Aku tidak menangis kok, aku hanya meneteskan air mata!” dalih gadis itu dengan isak tangis yang lebih sering.
“Apa bedanya menangis sama meneteskan air mata?” tanya Yoga berusaha menggoda Devina. Gadis itu, gadis yang baik. Selama ini hanya menunggu dan menerima cinta darinya, tanpa menuntut apa-apa. Hal itu yang membuat Yoga sangat nyaman pada Devina dan tidak mungkin melepaskan gadis itu.
“Tapi Benar ya, Mas Yoga hari Sabtu datan!?” tegas Devina memastikan.
“Iya sayangku, aku janji aku akan datang,” jawab Yoga sangat yakin dan antusias. Sudah memiliki alasan yang tepat.
“Baiklah, aku tunggu! Aku mau tidur lagi ya Mas, besok masih ada pekerjaan dan untuk foto-foto dari peserta lomba aku belum memilih siapa pemenangnya,” jelas gadis itu. Suara isaknya sudah tidak terdengar lagi.
“Oh iya-iya. Tidur lagi sana, jangan kecapaian ya, kalau capek istirahat oke! Aku tidak mau kamu sakit,” ungkapnya. “Devina—terima kasih sudah lanjutkan pameran ini ya,” imbuhnya.
“Iya Mas Yoga, semua ini karena aku mencintai Mas Yoga. Aku akan melakukan apapun untuk Mas Yoga,” jawab Devina ceria.
“Aku jadi tidak sabar!” ungkap Yoga.
“Mau ngapain?” tanya Devina curiga.
“Menciummu hingga lemas! He—he, sampai ketemu ya!” pamitnya.
“Iya sampai ketemu, Mas Yoga ku!”
Panggilan telefon berakhir.
Yoga kembali menaruh ponselnya. Memejamkan mata, menghirup nafas panjang seraya menghadirkan Devina dalam pikirannya.
Jujur saja ia sangat merindukan Devina, merindukan menciumnya dan merindukan wajah, ingin sekali menyentuhnya.
Tak terasa sudah sekitar satu jam ia berada di taman belakang. Kemudian, Yoga memutuskan untuk kembali ke kamar karena hawa dingin, semakin kuat terasa.
Iya berjalan ke kamar dan membuka pintu dengan sangat pelan. Berjalan berjinjit, naik ke atas tidur, lalu merangkak kembali berbaring disebelah Calista.
Iya berharap wanita itu masi, tidur agar tidak menanyai nya dengan banyak hal.
“Mas dari mana?” tanya Claista, yang tiba-tiba mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah pria yang merebah di sampingnya.
Degh!
Yoga yang semula bernafas lega menjadi resah. Calista ternyata sudah bangun. Ia hanya berharap, semoga wanita itu tidak mengikutinya ke taman belakang.
“Aku tadi tidak bisa tidur, jadi aku duduk di taman belakang sebentar," jawab Yoga jujur.
"Apa yang Yoga risaukan, hingga tidak bisa tidur?" selidiki Calista. "Apa Mas Yoga sangat merindukan anak kita?" tebak nya
"Tentu saja aku sangat merindukan anak kita sayang!" ucap Yoga datar. Mengatakannya dengan setengah hati. Devina masih enggan pergi dari pikiran dan benaknya.
Tangan Calista bergerak menggenggam tangan pria disampingnya kemudian menonton pria itu untuk mengusap perutnya yang membuncit.
"Kalau Mas, merindukan baik kita, Kenapa sejak pulang Mas tidak pernah menciumnya?" protes wanita itu.
“Emmm—,” Yoga tak bisa berkata-kata.
“Sini mendekat! Kepala anak kita berada di sini coba Mas menciumnya,” pinta Calista. Ia sangat yakin bahwa pria yang di sampingnya itu adalah sang suami. Belum menaruh rasa curiga sama sekali. Saat model rambut Yoga dan Satya sama, maka keduanya bagai pinang yang dibelah menjadi dua. Tampak sama tanpa celah.
Yoga tidak punya pilihan lain. Tadi, dia membayangkan mencium bibir Devina. Namun, di hadapannya kini ada anak Satya yang masih di dalam perut Calista.
“Cium bagian sini Mas!” tunjuk Calista.
Meski ragu, Yoga tetap melakukannya. Menghirup nafas panjang perlahan, dan membuangnya. Ia memejamkan mata dan—
Cup.
Satu kecupan mendarat di perut Calista. Rasanya biasa saja, kecuali tangannya yang gemetar karena hampir saja menyentuh bagian sensitif di area d**a wanita itu.
“Begini!” Calista memberi arahan. Menuntun kedua tangan Yoga, mengatur posisi senyaman mungkin.
Kini tubuh Yoga menindih kaki Calista. Wajahnya sejajar dengan perut buncit, istri saudara kembarannya. Berjarak hanya beberapa senti menter saja dari kulit mulus perut wanita yang tengah hamil itu.
“Cium yang lama Mas, bayi kita sangat merindukanmu!” pintanya lagi. “Aku juga, aku juga sangat merindukan Mas Satya!” imbuhnya.
Cup!
Cup!
Cup!
Yoga menciumnya lagi dan lagi.
“Mas,” panggil Calista.
“Iya.”
Serasa seperti di hipnotis, Yoga bergerak ke bibir Calista. Wajah mereka sejajar!
Kemudian …
Mereka berciuman.
Sangat lama.
Berulang kali.
Sangat dalam.
Berkali-kali.
Kini Yoga, benar-benar seperti plaboy ulung. Memainkan hatinya pada dua perempuan.
Bisakah Yoga, menahan diri dari pesona Calista.
Bisakah ia tidak bermain dengan hatinya.
Bisakah menjaga hatinya, untuk Devina.
Atau—
Sebenarnya, bibit-bibit cinta mulai tumbuh kembali?
Yoga mengurai ciuman. Mengamati wajah Calista yang berjarak sangat dekat dengannya. Menghirup aromanya, merasakan kelembutannya, membau wangi nafasnya.
Untuk kedua kalinya Yoga, kembali mendaratkan ciuman di bibir manis Calista. Merah, seperti ceri. Lama, dalam, tetapi masih menahan diri agar tidak terjadi lebih dari ini. Lebih dari ciuman bibir.
Sementara Calista, ia hanya menerima ciuman yang berbeda. Sangat berbeda karena Satya tidak pernah melakukannya seperti ini. Menikmati setiap momennya.
"Mas!" lirih Calista.
"Iya," jawab Yoga berbisik.
"Aku mencintaimu!" ungkapnya.
"Aku juga mencintaimu!" balas Yoga mendekap tubuh wanita itu, membawanya semakin dekat. Tanpa celah.
.
.
.
To be Continue.