Suara langkah kaki Rafael terdengar berat di lorong panjang vila utama keluarga De Luca. Ia baru saja kembali dari pertemuan bawah tanah dengan para kepala keluarga mafia Eropa Timur. Ketegangan masih menggantung di benaknya, namun pikirannya tak pernah benar-benar lepas dari Aleyna.
Sejak malam itu—malam saat mereka hampir saling membunuh namun justru berakhir dalam pelukan yang mengguncang hati keduanya—Rafael tahu hidupnya tak akan pernah sama.
Sementara itu, Aleyna berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam yang kelabu. Udara dingin menusuk kulitnya, tapi jauh lebih menusuk adalah bayangan Rafael yang terus menghantui pikirannya. Dia seharusnya membenci pria itu. Rafael adalah simbol dari semua yang telah merenggut keluarganya.
Tapi kenapa jantungnya berdetak lebih cepat setiap kali mendengar namanya?
Saat itu, pintu kamarnya diketuk pelan.
“Aleyna, boleh aku masuk?” suara Rafael terdengar dalam, namun ada getaran ragu di sana.
Butuh waktu beberapa detik sebelum Aleyna membuka pintu. Tatapan mereka bertemu—tajam, dalam, dan penuh pertanyaan yang belum terjawab.
"Aku tidak datang untuk bertengkar," Rafael berkata pelan. “Aku hanya… butuh bicara.”
Aleyna melangkah menjauh, membiarkan Rafael masuk.
“Ada apa?” tanyanya datar.
Rafael menatap sekeliling kamar, lalu pandangannya kembali ke mata Aleyna. “Pertemuan tadi… mereka mencium kelemahanku. Dan kelemahanku adalah kamu.”
Aleyna tercekat. “Jangan salahkan aku atas risiko yang kamu ambil sendiri, Rafael.”
“Aku tidak menyalahkanmu,” katanya cepat. “Tapi aku harus jujur… Aku takut kehilanganmu. Dunia ini… bukan tempat untuk cinta. Tapi tetap saja, aku…”
“Cinta?” potong Aleyna tajam. “Kau bicara soal cinta, Rafael? Setelah semua darah yang tertumpah antara keluarga kita?”
Rafael menahan napas, lalu mendekat. “Aku tidak bisa ubah masa lalu, Aleyna. Tapi aku bisa memilih masa depanku… dan aku ingin masa depan itu ada kamu di dalamnya.”
Aleyna hampir goyah. Tapi ia ingat satu hal—surat terakhir dari kakaknya, yang terbunuh dalam operasi mafia yang dipimpin Rafael. Luka itu belum sembuh. Luka yang belum sempat disuarakan.
“Kalau kau benar-benar ingin aku di sisimu,” katanya lirih, “maka hancurkan semua yang membuatmu menjadi monster. Hentikan semua ini. Mafia, kekuasaan, darah.”
Rafael terdiam. Di luar, petir menyambar langit, seolah semesta pun menahan napas atas pilihan yang akan dibuat.
“Aku tak tahu apakah bisa…” katanya jujur.
“Tapi kalau kau tak bisa,” kata Aleyna, memalingkan wajah, “jangan pernah datang lagi.”
Rafael menatapnya, lama. Lalu berbalik perlahan dan keluar tanpa sepatah kata pun.
Aleyna jatuh terduduk di lantai, matanya basah. Di luar, hujan mulai turun—seperti perasaannya yang tak bisa dia bendung.
Cinta mereka tumbuh di tanah beracun. Dan satu-satunya cara untuk bertahan adalah memilih—antara cinta, atau kekuasaan.
---
Hujan masih mengguyur deras di luar ketika Rafael keluar dari kamar Aleyna. Setiap tetes yang jatuh ke tanah seolah mewakili gejolak dalam dadanya—rasa bersalah, kecewa, dan ketidakberdayaan. Sepanjang hidupnya, Rafael telah diajarkan bahwa kelembutan adalah kelemahan. Tapi Aleyna… dia satu-satunya yang membuatnya ingin menjadi lemah.
Saat Rafael melangkah ke ruang bawah tanah rahasia milik keluarga De Luca, ia disambut oleh Ernesto—tangan kanannya yang setia.
“Bagaimana?” tanya Ernesto tanpa basa-basi.
“Dia memberiku pilihan,” jawab Rafael pendek. “Cinta… atau kekuasaan.”
Ernesto menatap Rafael lama, lalu mendekat. “Dan kau akan memilih yang mana?”
Rafael tak menjawab. Tangannya mengepal kuat. “Aku butuh informasi soal keluarga Mahesa. Apakah masih ada yang tersisa dari mereka… selain Aleyna?”
Ernesto mengangguk. “Ada satu. Sepupu jauhnya. Namanya Damar, tinggal di Indonesia. Tak pernah terlibat dunia gelap, tapi punya dendam yang dalam karena kematian ayahnya.”
“Cari dia. Amati gerak-geriknya. Jangan sentuh dulu. Aku ingin tahu apa dia ancaman… atau alat,” Rafael menginstruksikan dengan dingin.
Sementara itu, di kamarnya, Aleyna tak bisa tidur. Tatapannya kosong menembus jendela. Dalam genggamannya, ia memegang liontin kecil yang sudah usang—hadiah terakhir dari kakaknya sebelum terbunuh.
Dia tahu, mencintai Rafael sama saja dengan menandatangani vonis bunuh diri. Tapi hatinya membangkang logika.
Aleyna bangkit. Ia membuka laci rahasia di meja riasnya, mengeluarkan sebuah peta lama dan pistol kecil berlapis perak. Dia sudah terlalu lama pasif. Jika Rafael tak bisa meninggalkan dunia gelap itu, maka dia sendiri yang akan membongkar segalanya… dari dalam.
“Aku tak bisa menunggu penyelamat, aku harus menjadi satu-satunya penyelamat untuk diriku sendiri,” bisiknya lirih.
Aleyna mengirim pesan pada seseorang—kontak lama yang ia simpan sejak masa pelariannya di Eropa Timur. Orang itu pernah menjadi mata-mata dalam organisasi ayah Rafael, dan mungkin satu-satunya yang masih hidup.
Pesan terkirim: “Aku siap. Waktunya membalikkan keadaan.”
Malam itu berubah menjadi babak baru.
Rafael menghadapi pilihan mustahil, sementara Aleyna memutuskan bahwa ia tidak akan lagi menjadi korban. Cinta di antara mereka belum mati—tapi dunia yang mereka tempat. mungkin tak akan pernah membiarkan mereka bersatu tanpa darah yang tumpah.
Langkah-langkah Aleyna terdengar mantap saat ia menyusuri lorong gelap menuju garasi rahasia yang tersembunyi di balik rak buku besar di ruang bacanya. Hujan masih turun deras di luar, namun dalam dirinya, badai yang lebih dahsyat telah bergolak. Tak ada lagi keraguan. Jika Rafael memilih tetap berada dalam jerat kekuasaan, maka ia sendiri akan menyeret kebenaran keluar dari bayang-bayang gelap yang menyelubungi dunia mereka.
Mobil hitamnya melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah tempat yang tak pernah ia datangi lagi sejak tragedi lima tahun lalu—Rumah Tua Mahesa, kediaman keluarganya yang kini ditinggalkan. Di sana, ia menyimpan sisa-sisa petunjuk yang dulu dianggap tak penting. Tapi kini, semuanya bisa berubah.
Saat ia tiba, rumah itu masih sama—tua, sunyi, penuh debu dan kenangan menyakitkan.
Aleyna menyalakan senter kecil dan melangkah masuk. Setiap sudut ruangan menyimpan luka, namun ia tahu tujuannya. Ia membuka ruang bawah tanah rahasia, di balik lemari kayu tua. Di sana, ada kotak besi kecil berkarat yang hanya bisa dibuka dengan sidik jarinya.
Di dalamnya: berkas rahasia, rekaman audio, dan satu foto—ayah Rafael, Vittorio De Luca, bersama ayah Aleyna, Gustav Mahesa, tertawa dalam sebuah pesta rahasia bertahun-tahun silam.
Matanya membelalak. “Mereka… pernah bekerja sama?”
Rekaman audio pun diputar. Suara ayahnya terdengar:
"Jika kita gagal menjaga perjanjian ini, maka kedua keluarga akan saling membunuh. Rafael dan Aleyna tak boleh tahu."
Tangan Aleyna gemetar. Ia terhuyung mundur, napasnya tercekik.
Selama ini, ini bukan sekadar dendam antar keluarga. Ini adalah perjanjian tua yang dikhianati dan rafael mungkin juga telah dibohongi seumur hidupnya.
Tiba-tiba, suara derap langkah mengejutkan Aleyna. Ia refleks mengambil pistolnya.
“Tenang. Itu aku.”
Suara berat itu.. Rafael.
Ia berdiri di pintu ruang bawah tanah, basah kuyup, tatapannya penuh gejolak. Ia mengikuti Aleyna sejak tadi. Dia tahu wanita itu tidak akan diam setelah percakapan mereka.
Aleyna menatap Rafael dengan mata merah. “Kau tahu ini?” serunya, menunjukkan foto itu.
Rafael menatapnya dalam diam. Ia berjalan pelan, lalu mengambil foto itu dari tangannya. “Aku… tidak tahu. Tapi sekarang aku tahu kenapa semuanya terasa seperti labirin tak berujung. Aleyna… kita adalah bagian dari permainan yang lebih tua dari kita. Perang ini dimulai sebelum kita lahir.”
Aleyna menjauh. “Lalu kenapa keluargamu tetap membunuh ayahku?”
Rafael menggertakkan rahangnya. “Karena pengkhianatan. Karena ketamakan. Tapi bukan aku yang melakukan itu, Aleyna. Aku mencintaimu…”
“Dan cinta tak akan pernah cukup kalau tak ada kepercayaan,” sahut Aleyna tajam.
Rafael mendekat, menatapnya penuh luka. “Kalau begitu… ajari aku percaya. Ajari aku cara menyudahi ini semua. Aku siap meninggalkan semuanya… demi kamu.”
Untuk pertama kalinya, tidak ada kebencian di mata Aleyna. Hanya luka yang masih terbuka... dan harapan kecil yang mulai menyala di ujung gelap lorong takdir mereka.
Dan mungkin—di antara cinta dan kekuasaan, masih ada ruang untuk penebusan.
Keheningan di antara mereka begitu menggema, seolah waktu berhenti tepat di ruang bawah tanah yang penuh rahasia itu. Rafael menatap Aleyna tanpa berkedip. Ia bisa melihat luka, kemarahan, dan juga secercah keraguan yang muncul di matanya.
“Aleyna,” suara Rafael lirih, hampir seperti bisikan, “kalau kau memintaku meninggalkan semua ini, aku akan coba. Tapi aku tak bisa melakukannya sendirian. Aku butuh kau di sisiku. Bukan hanya sebagai wanita yang kucintai, tapi sebagai satu-satunya orang yang bisa membuka jalanku keluar dari kegelapan ini.”
Aleyna menunduk, tangannya masih menggenggam erat pistol. Perasaannya kacau. Cinta itu masih ada. Ia tak bisa mengingkari bahwa Rafael telah menyentuh hatinya lebih dalam dari siapa pun. Tapi bisa kah cinta menjadi pondasi saat darah dan pengkhianatan menjadi sejarah mereka?
“Kalau begitu,” katanya dengan suara serak, “buktikan. Buktikan bahwa kau tak akan jadi seperti ayahmu. Buktikan bahwa darah yang menodai keluargamu tak akan mengalir melalui tanganmu lagi.”
Rafael mengangguk pelan. “Aku akan mulai dengan mengungkap siapa sebenarnya dalang di balik kematian ayahmu. Aku janji.”
Aleyna menatapnya lekat. “Kalau sampai kau bohong padaku lagi, Rafael… aku sendiri yang akan menarik pelatuk ini.”
Rafael tersenyum tipis, pahit, tapi ada cahaya kecil di matanya. “Itu ancaman paling manis yang pernah kudengar.”
Mereka berdua keluar dari ruang bawah tanah dengan hati yang sama-sama belum utuh, tapi satu hal telah berubah—mereka kini berada di sisi yang sama.
Di tempat lain, di dalam ruang gelap yang hanya diterangi cahaya monitor dan asap cerutu, seorang pria berjas duduk sambil menonton rekaman CCTV dari rumah tua Mahesa. Dia tersenyum dingin saat melihat Rafael dan Aleyna bersatu.
“Sudah waktunya mereka tahu kebenaran… Tapi tidak semuanya,” gumamnya.
Pria itu memutar kursinya, lalu mengambil ponsel.
“Siapkan tim. Target: Rafael Adriano De Luca. Aku ingin dia diperingatkan… dan kalau perlu, dilenyapkan.”
Aleyna duduk di dalam mobilnya, menatap kosong ke depan. Di sampingnya, Rafael diam—tapi bukan karena tak peduli. Ia tahu, dalam hati Aleyna sedang berperang hebat. Ia bisa merasakan betapa beratnya luka yang belum sembuh itu, terutama setelah kebenaran demi kebenaran mulai terbongkar malam ini.
“Aku akan mengantarmu pulang,” ujar Rafael, memecah sunyi.
Aleyna menoleh, menatap lelaki itu dengan mata yang masih menyimpan air. “Kau yakin pulang masih berarti tempat aman bagiku?”
Rafael menarik napas dalam-dalam. “Kalau bukan aku yang menjagamu, siapa lagi?”
Aleyna menahan napas. Pertanyaan itu menghantamnya. Selama ini ia selalu merasa sendiri, bahkan ketika berada di tengah banyak orang. Tapi bersama Rafael… meskipun ada kebohongan, ada juga rasa yang tak bisa ia bantah: rasa aman. Dan itu menakutkan.
Mobil melaju menembus hujan, membelah malam seperti nasib mereka yang kini di ambang pilihan besar.
Setibanya di penthouse Rafael, suasana kembali sunyi. Aleyna berdiri memandangi jendela besar yang memperlihatkan gemerlap kota. Rafael berdiri beberapa langkah di belakangnya, tak berani terlalu dekat, tapi juga tak tega terlalu jauh.
“Ayahku... dulu bilang kalau kekuasaan itu seperti api. Ia bisa menghangatkan, tapi juga bisa membakar segalanya sampai tak bersisa,” ujar Aleyna pelan.
Rafael menatapnya dari belakang. “Aku sudah terbakar terlalu lama, Aleyna. Tapi kamu... kamu seperti hujan. Kau datang membawa dingin, tapi justru menyelamatkanku dari api yang membunuh perlahan.”
Aleyna tersenyum tipis. “Kau pintar berkata-kata.”
Rafael mendekat satu langkah. “Tapi aku serius. Kalau kau izinkan… aku ingin kau tetap di sini. Bukan sebagai tahanan, bukan sebagai alat. Tapi sebagai seseorang yang… ingin kuperjuangkan.”
Aleyna akhirnya menatapnya. “Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin kita gagal? Yang akan membunuhmu kalau tahu kau melemah karena aku?”
Rafael mengepalkan tangan. “Mereka sudah mulai bergerak. Dan aku harus mulai membersihkan rumah.”
Aleyna mengangkat alis. “Apa maksudmu?”
“Ernesto mencium pengkhianat di dalam. Seseorang di lingkaran dalamku menjual informasi. Mereka yang menginginkan aku mati… mungkin sudah lebih dekat dari yang kita kira.”
Aleyna berjalan ke arahnya, berdiri tepat di hadapan Rafael. “Kalau kau serius ingin keluar dari semua ini, maka kita harus bertindak sekarang. Bukan besok. Bukan nanti.”
Rafael mengangguk. “Maka malam ini, kita mulai.”
Mereka saling menatap—tak ada kata cinta, tak ada janji manis. Tapi di mata mereka, ada kesepakatan. Sebuah ikatan diam-diam yang lebih kuat dari sekadar asmara. Ini adalah aliansi. Sebuah perjanjian antara dua hati yang sama-sama pernah hancur.