Bagian 2

1797 Words
Pukul sembilan pagi Fabian baru sampai di kantornya. Dengan setelan abu-abu yang pas di badannya yang tegap, celana yang membungkus paha dan bokongnya yang seksi, Fabian terlihat tampan dan gagah. Tingginya hampir seratus sempilan puluh, sehingga kakinya yang panjang menjadikannya lebih maskulin lagi. Fabian mempunyai wajah yang keras namun tampan, semua wanita bertekuk lutut padanya. Rahangnya tegas, sejalan dengan pribadinya yang kuat dan tajam. Bibirnya telah membuat banyak wanita tergila-gila, ia pencium yang luar biasa. Itu pengakuan dari wanita-wanita yang pernah ditidurinya. Menemukan wanita untuk berbagi ranjang dengannya bukan perkara sulit. Selama ini wanitalah yang melemparkan diri padanya. Ketampanan, kekuasaan, harta, adalah paket sempurna untuk mendapatkan segalanya. Fabian berjalan di sepanjang lorong menuju ruangannya. Thomas, tangan kanannya mengikuti dari belakang. Semua orang yang berpapasan dengannya membungkuk hormat, Fabian berlalu saja tanpa menghiraukan mereka. Sekretarisnya menyapa ketika ia berada di depan pintu ruangannya. Dina, wanita dua puluh tujuh tahun yang telah menjadi sekretarisnya hampir tiga tahun. Ia sempat menaruh hati pada atasannya itu ketika baru bekerja di Bachtiar Group, namun dengan cepat mengenyahkan rasa sukanya saat mengetahui kalau bosnya tersebut bukan pria penganut komitmen. Pria itu hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Dina tahu dirinya akan berakhir dipecat dari pekerjaannya jika memaksa keberuntungannya. Ia penasaran, siapa perempuan yang akan menakhlukkan kedinginan sifat Fabian. Fabian meletakkan tas kerjanya di atas meja kemudian duduk di kursi di baliknya. Membuka laptop, ia memeriksa E-mail yang masuk. Semuanya berkaitan dengan pekerjaan. Memeriksa setiap E-mail, pria itu menjawab beberapa. Sebagian lagi akan dikerjakan oleh sekretarisnya. Ada satu pesan pribadi, ia mengenali itu pesan dari Adam. Berisi permohonan untuk perbanjangan batas waktu. "Dasar orang tua tak berguna," gumanya kesal. Ia mengabaikan pesan tersebut. Pekerjaannya sendiri cukup banyak tanpa harus direpotkan dengan kegagalan seorang pria dalam menjalankan bisnisnya. Ia merasa sudah cukup memberi waktu pada Adam. Kalau Adam masih tidak mampu membayar, maka itu bukan urusannya. Ia menekan tombol pada telepon untuk memanggil Dina. "Ada apa, Pak?" Dina bertanya setelah berada di dalam. "Ada orang yang mencariku?" "Saya rasa tidak ada, Pak! Tapi nanti saya tanyakan lagi pada receptionis." Dina sudah belajar untuk tidak menjawab Fabian dengan pertanyaan. Semua karyawan di perusahaan ini tahu kalau Fabian paling tidak suka, jadi ia tidak bertanya siapa orang yang sepertinya ia tunggu itu. Fabian mengangguk. "Kau bisa keluar sekarang." lalu kembali menatap leptopnya. Beberapa saat kemudian, Dina kembali berada di dalam ruangan Fabian. Dina memberitahu bahwa seseorang datang untuk bertemu dengannya. ''Siapa?" tanya Fabian, ia mengambil ponselnya yang bergetar dari saku. Pesan dari pelayannya yang memberitahu kalau ibunya sudah keluar dari rumah sakit. "Sorang gadis. Sudah datang sebanyak tiga kali pagi ini." Fabian mendongak. "Tiga kali?" Diliriknya jam yang melingkar di tangannya. Masih setengah sepuluh pagi dan sudah tiga kali datang. Siapa gadis yang sangat ingin bertemu dengannya ini? "Kalau dia datang lagi, suruh menemuiku." "Mengerti, Pak." Dina kembali ke mejanya, sementara Fabian menerka-nerka siapa gerangan gadis itu. *** Devika menjatuhkan kepalanya ke atas meja kafe tempatnya bertemu dengan Cindy temannya, ia mengerang. "Aku hampir putus asa, Cin." Ia berkata pelan, matanya terpejam lelah. Cindy mengusap tangan Devika di atas meja. "Jangan menyerah! Aku percaya pasti ada jalan keluar untuk masalahmu ini." hiburnya. "Aku akan meminjamimu uang---" "Itu tidak akan cukup, Cindy," potong Devika. "Utang Ayahku banyak sekali." Cindy ikut sedih melihat Devika yang seperti ini, tampak kacau hanya dalam satu hari. Berita ayahnya dililit utang, benar-benar menghancurkannnya. "Cobalah datang lagi, mungkin kali ini akan berhasil." Bujuknya. Begitu mereka bertemu, Devika langsung memberitahu Cindy bahwa ia baru saja dari perusahan pria yang memberi ayahnya pinjaman. "Aku capek. Aku sudah bolak-balik ke kantor pria itu tapi pria itu tidak ada. Aku yakin dia pasti bukannya tidak berada di sana, itu hanya akal-akalannya saja untuk menghindariku. Dia tidak mau bertemu denganku, dia pasti sangat ingin melihat Ayahku masuk penjara." Ia terisak sekarang. "Sssttt, aku tahu kau kesal. Tapi tak ada salahnya kau mencoba sekali lagi, kan?" Devika menaikkan pandangan kemudian mengangguk lemah. "Baiklah," gumamnya tak bersemangat. Cindy tersenyum hangat. "Aku akan mengantarmu." "Terimakasih." *** ''Pria itu benar-benar kaya rupanya," komentar Cindy begitu mereka tiba di depan gedung Bachtiar Group. Bangunan tinggi di depan benar-benar mewah dan fantastis. Cindy menatap dengan tertarik design bangunan tersebut, jelas sekali yang mempunyainya konglongmerat. "Kau sudah bertemu dengannya? Aku yakin wajahnya pasti jelek. Beruban dan keriput." Dan tua, sambungnya dalam hati. Melihat dari megahnya perusahaan ini, yang menjadi pimpinannya pastilah sudah berumur. Setidaknya lima puluh tahun. Sayangnya tidak, tapi Devika tidak akan membahasnya sekarang. Ia lumayan gugup dan tak ada waktu menjelaskan hal-hal tentang pria itu.  Devika membuka pintu mobil seraya berkata. ''Doakan aku, ya." "Pasti, Sayang. Kau mau aku menunggumu disini?" "Tidak perlu. Pulanglah, aku bisa naik taxi." "Baiklah, aku pulang. Hubungi aku kalau membutuhkanku." *** Devika menemui lagi resepsionis yang sudah ditemuinya tiga kali tadi, ini yang keempat kalinya. Ia hampir menangis karena syukur ketika wanita cantik bersetelan rapi di depannya itu berkata kalau ia bisa bertemu dengan orang yang dicarinya. Nama pria itu Fabian. Ia adalah Direktur Utama Bachtiar Company. Seorang wanita bersetelan rapi yang lain mengarahkannya untuk naik menuju ruangan sang Direktur. Devika mengenakan celana jeans abu-abu, kemeja putih longgar dan sepatu datar. Ia sengaja mengurai rambutnya yang panjang karena bingung mau diapakan lagi. Sampai di lantai 37. "Sekretaris Pak direktur yang akan menunjukkan ruangannya," ucap wanita di sampingnya kemudian pergi setelah mengantarnya pada satu lagi wanita bersetelan rapi. Tidak ada basa-basi, senyuman kecil pun tidak, semua terlalu profesional menurutnya. "Devika?" Gumam Dina memastikan. Matanya men-scan Devika dari atas ke bawah kemudian kembali lagi ke atas. Cantik, batinnya. Memangnya kapan perempuan di sekitar Fabian tidak cantik. "Iya, saya Devika," jawabnya. "Saya ingin bertemu dengan Pak Fabian." "Kemari! Beliau sudah menunggu." Pintu diketuk tiga kali kemudian dibuka. "Ibu Devika sudah datang, Pak." Dina memberitahu. *** Lima menit hampir berlalu, namun Devika masih tidak berani berbicara. ia takut, dan bingung mau mengatakan apa. Ia duduk tepat di depan Fabian, tangannya memilin-milin tali tasnya yang ia letakkan di atas paha. Fabian menatap gadis di depannya dengan datar, sudah pasti tidak mengenalnya. Ini kali pertama ia bertemu dengan Devika dan masih bingung apa tujuan gadis itu menemuinya. Apakah gadis ini sedang hamil dan minta pertanggungjawaban? batinnya konyol. Mana mungkin, Fabian tidak mengingat pernah tidur dengan gadis di depannya itu. Ia selalu berhubungan badan dengan sadar, jadi ia pasti mengingat kalau pernah tidur dengannya. Lalu apa? "Kau menghabiskan waktuku," gumam Fabian, mulai bosan dengan tebak-tebakkan di dalam pikirannya. "Segera sampaikan tujuanmu datang menemuiku! Lalu pergi. Aku sibuk." Devika semakin gugup. Kemarin waktu Fabian datang ke rumahnya, ia tak melihat jelas wajah pria itu. Sekarang, ketika ia melihat dengan dekat, dirinya tidak bisa menyangkal betapa tampannya pria itu. Matanya abu-abu, hampir pucat, dan saat ini bola mata itu sedang menatapnya tajam. Ia memaki batinnya yang terpengaruh dengan gestur maskulin pria itu, seharusnya ia bisa fokus pada tujuannya. Kalau seperti ini bisa-bisa ia gagal dengan cepat. "Kau bisu?" "Maaf." Ucap Devika pada akhirnya. "Ada yang ingin saya katakan pada Anda." "Kuharap juga begitu. Cepat katakan!" Devika tidak menyukai nada bosan pada suara Fabian, benar-bebar laki-laki dingin. ''Saya putri dari Adam Mebaskara." "Itu menjelaskan maksud kedatanganmu." Ucap Fabian datar. Ia melihat ada kemiripan gadis di depannya ini dengan Adam Mebaskara, walau hanya pada matanya. ''Dia menyuruhmu datang menemuiku." Itu pernyataan bukan pertanyaan. "Tidak." Devika menggeleng. "Ayah saya tidak tahu kalau saya menemui Anda." ''Kenapa?" Fabian mengangkat alisnya, mulai tertarik dengan putri Adam Mebaskara. Ia melipat tangan dan meletakkannya di atas meja. Devika menelan ludah dengan susah, kenapa rasanya sulit sekali. Batinnya menderita. ''Kau benar-benar membuang waktuku," geram Fabian, pria itu berdiri hendak pergi namun Devika langsung menarik sikunya dengan putus asa. "Saya mohon jangan memenjarakan Ayah saya. Saya akan berusaha membayarnya. Saya berjanji, saya akan mencicilnya dengan gajiku. Saya punya tabungan sedikit, besok saya akan mentransfernya pada Anda. Kalau perlu sekarang juga saya akan mengirimkannya." Devika tidak sadar kalau ia sudah berucap panjang lebar, sangkin putus asanya ia kehilangan kendali diri. Fabian menarik siku-nya hingga terlepas dari pegangan Devika. "Kau tidak tahu berapa banyak utang Ayahmu?" Lagi-lagi nadanya dingin. Devika menggeleng. "Seharusnya kau tanya dulu pada Ayahmu." "Ayah saya tidak tahu kalau saya tahu dia punya utang pada Anda." "Menarik," Fabian menyandarkan punggungnya di kursi kemudian berkata. "Apa yang kau tawarkan untuk melepaskan Ayahmu! Aku akan langsung mengusirmu dari sini kalau kau hanya mengucapkan janji-janji seperti Ayahmu." "Saya tidak punya uang." Cicit Devika, merutuki ketidakmampuannya. ''Kau mau minum sesuatu?" tanya Fabian tiba-tiba. ''Eh?" Devika tidak siap dengan perubahan topik yang tiba-tiba ini. "Kulihat kau hampir pingsan, mungkin minum sesuatu bisa menyegarkanmu." "Terimakasih, tapi tidak perlu." Minum adalah hal terakhir yang ia inginkan sekarang ini. "Baiklah! Kembali ke topik pertama. Kau tidak punya uang. Lalu bagaimana kau membayar utang Ayahmu?" Devika mundur sedikit, kedekatannya dengan Fabian membuatnya tidak tenang. "Tadinya saya mau meminta tolong pada Anda supaya memberi keringanan pada Ayah saya. Saya---" Tawa mengejek Fabian menghentikan Devika bicara. Dipandangnya pria itu dengan pandangan frustasi. "Saya mohon." Bisiknya. ''Memohon tidak akan membuat utang Ayahmu lunas." "Saya akan melakukan apa pun supaya ayahku tidak Anda masukkan kepenjara. Saya akan bekerja seumur hidup tanpa digaji, saya akan bekerja dengan baik. Tolonglah! Ayah saya sudah tua, dia bisa sakit kalau...kalau." ia tak sanggup melanjutkan, matanya kini berair. "Pekerjaan apa yang bisa kau lakukan untukku untuk uang 200 milyar?" Napas Devika tercekat. "200 milyar?" "Utang Ayahmu 200 milyar, coba pikirkan dengan logika bagaimana kau membayarnya." Devika tak mampu lagi menahan tangis. Inilah akhirnya, semuanya menjadi seperti ini. 200 milyar? 200 milyar? Oh, Tuhan. "Sudahlah," Fabian mengambil ponselnya dari atas meja dan memasukkannya ke dalam saku. "Mungkin sudah nasib Ayahmu berada dipenjara untuk sisa hidupnya." Pria itu berjalan menuju pintu. Dua detik sebelum pintu terbuka, di dua detik itu juga ia mengambil keputusan gila. Ia melemparkan dirinya ke pintu, mencegah Fabian membukanya. ''Apa-apaan kau?" Bentak Fabian. "Saya akan membayar dengan tubuh saya." "Jangan gila," geram Fabian setelah sempat terkejut. "Minggirlah." Devika tidak mau menjauh dari pintu. Dengan setengah gila, ia malah membuka satu persatu kancing kemejanya. Tangannya bergetar hebat tapi ia tak mau berhenti. Devika sedikit membaca artikel tentang Fabian di internet, pria itu dikelilingi banyak perempuan cantik. Ia sempat ragu di detik terakhir tentang ide luar biasa gilanya ini, tapi ini adalah cara terakhir. Jika gagal, ia takkan punya cara lain lagi. Beberapa detik kemudian, kemeja putihnya telah terbuka sehingga memperlihatkan payudaranya yang membusung ditekan oleh kawat branya yang berwarna hitam. Fabian menatap intens p******a di depannya. Devika tidak tahu apa yang dipikirkan pria itu. Kediaman Fabian dianggapnya petunjuk baik, setidaknya ia tak lagi menyuruhnya pergi. Mengumpulkan keberanian, Devika mengulurkan tangannya kebelakang lalu melepas kait branya. Kini payudaranya yang putih benar-benar telanjang. Devika menggigit bibir bawahnya, perasaannya campur aduk. Marah, malu, benci, sedih, dan frustasi menjadi satu. Fabian membisu. Devika melihat jakun pria itu naik-turun, batinnya bahagia menyadari Fabian setidaknya sedikit goyah sekarang. Bahagia yang sedikit tidak pada tempatnya. Turun ke kancing celana jeansnya, Devika hendak membukanya namun berhenti ketika mendengar suara bariton Fabian. "Jangan," tekannya jelas. "Aku cukup tahu maksudmu sekarang. Kuberi kau waktu sepuluh menit untuk merapikan diri." Ia mendorong tubuh Devika ke samping. Membuka pintu, kemudian ia pergi. Devika terjatuh ke lantai sambil terisak, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa putus asa ini mencekiknya dengan kuat, tiba-tiba saja dadanya menjadi sesak. Ia menangis dengan keras. Tidak peduli dengan dadanya yang masih telanjang. Ia benci pria itu! Ia benci dirinya sendiri! Ia benci ayahnya! Ia benci semua orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD