ELINA
[Episode 1 ~ Dia Kembali]
Elina
Desa EverGreen, masa sekolah...
" Nana, ayok pulang. " Ajak Josh pacarnya sambil menggandeng tangannya dan mengacuhkan semua tatapan siswi yang sangat iri kepadanya karena memiliki pacar se tampan Josh.
Dan dengan langkah pasti Josh menggandeng tangannya dan tersenyum ke arahnya dengan senyuman penuh cinta.
Dia adalah kekasih ku!
" Aku lapar. " Katanya sambil memegang tangannya dengan wajah memelas karena Josh tidak tegaan dengannya.
" Baiklah, ayok kita makan dulu. " Kata Josh dan ia langsung senang karena keinginannya terpenuhi.
--
" Ih aku bisa makan sendiri. " Katanya malas karena disini banyak orang sedang makan juga dan jujur saja ia malu kalau harus di suapin seperti ini karena semua tatapan orang mengarah kepadanya.
" Aku suapi atau aku... " kata Josh dengan kata menggantung dan ia dengan cepat langsung mau di suapin oleh Josh seolah-olah tau apa yang dipikirkan Josh.
" Ini baru kekasihku. " Kata Josh sambil mengusap kepalanya dan ia hanya cemberut dan di balas Josh dengan kekehan yang menyebalkan.
--
" Josh pelan, nanti GrandMa bangun. " Katanya di sela-sela desahannya yang ia tahan agar tidak keluar terlalu keras karena ia takut kalau GrandMa mendengar ini.
Ia sedang bercinta dengan Josh di kamarnya yang sempit karena rumahnya juga sempit tapi walaupun seperti itu percintaan ini sungguh nikmat karena dilakukan dengan penuh cinta dan saling mencintai.
" Kau... semakin seksi... kalau bercinta dengan posisi berdiri seperti ini... " kata Josh dengan nafas tersengal dengan di bawah semakin menekan dan menyodok masuk untuk mencari kenikmatan.
Ia tidak menjawab apapun karena yang dipikirkannya hanya untuk segera mendapatkan kenikmatan dan klimaks secepatnya karena ia sungguh tidak tahan, ini sungguh enak.
" Ah, ah, ah... " katanya dengan lirih dan lemas dengan kepala yang menopang di bahu kokoh Josh yang dengan sigap Josh menggedong nya di depan sambil terus menyodok di bawah sana.
" Ah,ah mphh... " desahannya tertahan karena Josh mencium bibir dengan rakus walaupun bibir nya sudah membengkak.
--
Ia masih terletang di samping Josh dengan Josh yang memeluknya dengan erat dan menciumi bahu serta leher jenjang nya yang sudah berwarna merah karena kissmark.
" Kau selalu nikmat sayang. " Kata Josh dengan tangan meremas dadanya dan ia hanya mendesah pasrah karena ia sangat gampang terangsang karena sentuhan Josh.
" One more baby (satu kali lagi sayang) " kata Josh dengan berhasrat dan ia tak mampu menolak karena sekarang ia sudah berada di bawah tubuh Josh dengan mengang kang lebar.
Ia tidak tau berapa lama waktu ia bercinta dengan Josh karena saat ia bangun jam sudah menunjukkan pukul enam pagi dan ia langsung menggerakkan tubuhnya dengan pelan dan di bawah sana ia merasakan ada ganjalan.
" Ah pasti belum di cabut semalaman, pantesan aku merasakan penuh. " Katanya saat merasakan tubuh bagian bawah penuh dan sesak tapi nikmat.
" Josh... " panggilnya pelan.
" Sebentar lagi baby. " Kata Josh dengan manja dan malah semakin memeluk tubuhnya dan ia merasa di bawah sana sudah mengembang dan siap untuk di keluarkan lagi.
Pagi ini ia tidak akan lolos dengan mudah oleh jeratan cinta yang menggelora.
---
" Nana! " ia tersentak dari lamunannya saat melihat Mina yaitu temannya datang ke arahnya dengan pandangan bertanya-tanya.
" Ada apa Mi? " tanyanya lagi.
" Nggak ada, aku tun takut kamu kesambet kalau bengong di tengah sawah kayak gini. " Kata Mina sambil duduk di sampingnya.
" Dah lah nggak usah mikirin Josh, yang jelas-jelas udah ninggalin kamu itu. " Kata Mina, Mina memang sahabatnya dan selalu tau apa saja yang terjadi padanya karena rumah mereka juga bertetangga.
" Di sini tuh banyak yang suka sama kamu Na, kamu tinggal pilih aja mau yang mana? Nggak usah mikirin Josh cowo yang jelas-jelas udah mencampakkan kamu. " Kata Mina dengan menggebu-gebu.
Ia masih diam dan belum ada niatan untuk menjawab.
Ia memandang ke arah hamparan sawah yang luas di hadapannya.
" Eh Na? Dengerin aku nggak? " tanya Mina lagi karena daritadi ia tidak menjawab semua pertanyaan Mina dan ia hanya tersenyum sebagai jawabannya.
" Ck, irit banget bicaranya Bu! " kata Mina dengan menggodanya.
" Aku nggak mau membicarakan soal dia lagi Mi, bahkan namanya terlarang untuk aku ucapkan. " Katanya dengan senyum miris.
" Bener tuh! Dia bakalan nyesel udah ninggalin kamu yang super baik ini. " Kata Mina dengan marah.
" Dan kamu juga salah satu orang kaya di desa ini juga, cantik, baik, kaya... uh lengkap. " Kata Mina lagi dan ia hanya tersenyum mendengar itu.
Mina adalah sahabatku yang selalu mengerti diriku.
" Udah nggak usah ngoceh, dia aja nggak ada di sini kok udah pergi jauh, karena ia dan aku bagaikan siang dan malam... Suatu hal yang ada tapi tidak akan pernah bertemu. " Katanya lagi sambil tersenyum.
" Bener juga Na, dia nggak akan bahagia di atas penderitaan orang lain. " Kata Mina yang langsung membuatnya menoleh ke arah Mina.
" Hush nggak boleh gitu Mi. " Katanya lagi, walaupun ia di campakkan ia bersyukur karena dengan begitu melihat sifat asli Josh yang tidak benar-benar mencintainya.
" Ia bener banget Na. " Kata Mina mengiyakan.
Dan setelah itu tidak ada lagi suara di antara kita karena kita melihat ke arah hamparan sawah yang luas dan memikirkan beberapa hal.
Josh
Ia menatap nisan yang bertuliskan...
Rest place (tempat peristirahatan)
Melinda Fox
Born...
Die...
" Josh ayok kita pulang. " Kata Nyonya Ben yaitu Mama nya yang langsung membuyarkan lamunannya.
" Ma ini mimpi kan Ma? " tanyanya seolah-olah tidak terima dengan kejadian dan nasib yang ia terima dan berlangsung sekarang.
" Sabar Josh, jangan seperti ini. " Kata Mama mencoba menenangkan nya tapi itu malah membuat air matanya semakin mengalir karena ia adalah nyata bukalah mimpi.
Ia menangis menatap nisan itu.
Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat, calon istrinya meninggal karena kecelakaan saat akan menuju ke tempat acara pernikahan.
Siapa yang harus di salahkan untuk ini?
Kenapa harus terjadi kepadanya.
Pernikahan yang harusnya berakhir bahagia malah berkahir dengan penderitaan.
--
Ia sedang termenung di balkon kamarnya dengan mata melihat ke depan dengan jari terselip rokok yang menyala karena sedang ia hisap.
Sampai bunyi ketukan pintu mengalihkan semua perhatiannya.
Dan ternyata itu Mama.
" Besok kita akan pulang ke EverGreen untuk memperingati hari kematian Papa mu. " Kata Mama setelah beberapa saat terdiam dan duduk di sampingnya.
Setelah seminggu kehilangan calon istri dan ia masih berduka lalu ia harus memperingati hari kematian Papa.
Sungguh kesedihan yang berkelanjutan.
" Iya Ma. " Katanya pada akhirnya karena tidak bisa menolak karena hari peringatan kematian Papa adalah hari penting dan selalu di rayakan di EverGreen di rumah nenek dan kakek nya.
" Kalau begitu Mama keluar dulu ya. " Kata Mama sambil menepuk pelan bahunya dan ia hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
--
Ia termenung sambil menatap langit kamarnya, ia telah selesai packing (berkemas) apa saja yang akan ia bawa ke EverGreen, desa tempat masa kecilnya dan desa menghabiskan masa remajanya.
Dan desa tempat keka...
Elina
Ia sedang berada di sawah karena hari ini sedang panen, sebagai pemilik sawah yang luas ia hanya mengawasinya saja karena semua proses menanam padi hingga panen sudah ada yang mengurusnya tinggal setiap panen ia harus memberikan gaji sesuai dengan pekerjaan.
Ia masih fokus hingga suara Mina dengan terburu-buru dan tergesa-gesa menghampirinya dan mengatakan...
" Dia kembali, dia kembali... " kata Mina dengan nada ngos-ngosan karena capek berlari ke arahnya tadi.
" Siapa yang kembali Mi? " tanyanya bingung.
" Josh... " kata Mina dengan mata menatap kearahnya.
" Lalu apa hubungannya dengan ku? " katanya acuh tak acuh dan dengan segera fokus dengan apa yang sedang di kerjakannya.
Padahal dalam hatinya mengatakan...
" Apa yang harus aku lakukan? "