Melihat Isha menatapnya dengan tatapan terkejut, Rendra —siswa yang memulai bicara dengan kalimat tak menyenangkan itu— seketika takjub saat matanya bersirobok pandang dengan mata bulat bening milik Isha. Ada kejernihan yang mempesona yang terpancar dari bening mata Isha yang justru menatap galak dan meradang ke arahnya. Anehnya lagi, sikap Isha justru berbanding terbalik dengan sikap para gadis di sekolahan ini.
Jika siswi lain jelas akan terpesona dan bahkan sebagian lainnya mungkin histeris ketika Rendra mendekat, akan tetapi tidak demikian dengan Isha. Gadis muda polos dengan sikapnya yang cuek bahkan cenderung galak itu malah menatap Rendra tanpa ekspresi apapun. Bagaimana mungkin Rendra tidak akan terkejut?
“Iya! Aku Isha! Memangnya kenapa kalau aku Syalaisha?” tanya Isha dengan mendongak, menatap garang ke manik mata Rendra.
Melihat gelagat tak baik ini, Malik berdiri dan menatap Rendra yang tingginya sama dengan dirinya itu.
“Gent, dia adalah Isha. Adikku. Jadi kalau ada sesuatu yang berhubungan sama dia, sebaiknya kamu tanya sama aku dulu.” Malik mencoba menengahi dengan kesabaran dan sikap yang sangat tenang.
Mendengar Malik berkata seperti itu, Rendra menatap Malik yang satu angkatan dengannya itu. Melihat ada sedikit percakapan tak sedap ini, beberapa pengunjung kantin memilih menghindar demi tidak terlibat dalam urusan mereka.
“Hei, kamu punya adik secantik ini dan kamu tidak mengatakannya padaku?” tanya Rendra dengan sinis, sementara Heri dan Doni —dua teman yang selalu mengikuti kemanapun Rendra pergi— hanya manggut-manggut.
“Karena tidak ada hubungannya sama kamu, kan?” tanya malik masih dengan sikap tenang.
Rendra tersenyum sinis.
“Bagaimana mungkin tidak berhubungan denganku? Aku akan menjadikan semua gadis-gadis cantik di sekolahan ini untuk menjadi temanku, kalau disepakati tentu saja menjadi kekasihku,” ujar Rendra dengan senyum masam.
“Tidak!!” Malik dan Isha berseru dalam waktu bersamaan.
Malik dan Isha kemudian saling pandang ketika menyadari bahwa mereka begitu kompak menjawab. Melihat hal ini, Rendra tersenyum.
“Kompak sekali kalian? Bagaimana bisa sekompak ini?” tanya Rendra dengan senyum mengejek.
“Aku tahu sekolah ini milik orang tuamu. Aku juga tahu kamu memiliki banyak keistimewaan di sini. Kamu boleh mendekati semua perempuan di sekolah ini sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Tapi tidak dengan Isha.” Malik menjawab tegas.
Rendra tertawa.
“Apa hakmu melarangku mendekati Isha? Kamu tahu, dia gadis istimewa. Dia cantik, imut, dan yang pasti dia garang seperti singa lapar. Kamu tahu, kan, bagaimana indahnya perempuan seperti ini? Ah, ya. Tentu saja kamu tak akan tahu bagaimana asyiknya memiliki teman wanita karena kamu tak pernah memiliki teman wanita. Kamu memang jago pelajaran Malik, tapi urusan perempuan? Kamu begini!” ejek Rendra sambil menunjukkan jempolnya yang dibalik ke bawah. Tentu saja Rendra dengan nada mengejek karena dia tahu bahwa Malik bukan laki-laki yang mengenal perempuan dengan baik.
Malik sudah mau emosi karena merasa direndahkan. Akan tetapi Isha yang manja namun galak itu tahu bahwa ini tidak akan baik jika diteruskan. Isha segera mengemasi kotak bekalnya dan meraih lengan Malik dengan segera ketika dilihatnya Malik sudah mengepalkan tangannya dengan geram.
“Bang, jam istirahat sudah hampir selesai. Kita juga sudah kenyang, kan? Ngapain juga mengurus hal tak penting seperti ini, sih? Sayang kalau jadi lapar lagi, kan? Yuk, ah!” ujar Isha kemudian mengajak Malik meninggalkan meja mereka dengan acuh tak acuh atas keberadaan Rendra dan teman-temannya.
Meski sebenarnya Malik masih ingin melayani ejekan Rendra itu, akan tetapi tangan kecil Isha yang menggamit lengannya dan mengajaknya meninggalkan kantin jauh lebih mendebarkan dan menyenangkan. Tanpa sadar, jantung Malik berdegup kencang.
Ada apa ini?
***
Bel masuk sudah berdentang dari tadi, namun Rendra dan dua temannya masih duduk santai di kantin. Mereka tahu bahwa sekarang sedang jam kosong makanya mereka memilih untuk santai di kantin.
“Hampir tiga tahun aku sekolah di sini, hanya dia satu-satunya gadis yang mengabaikan aku, Her,” ujar Rendra dengan wajah terpukul karena tak mengira bahwa akan ada gadis di sekolahan ini yang mengabaikan dirinya.
“Nah, aku juga mau bilang kayak gitu?” Heri menimpali kalimat Rendra.
“Nggak penasaran, Ren?” tanya Doni.
Rendra tersenyum penuh intrik.
“Tentu saja ini sebuah petualangan yang sayang untuk dilewatkan. Siapa cewek di sekolahan ini yang mau menolak pesonaku? Mereka bahkan pada cari muka di depanku. Tapi dia?” Rendra menatap Heri dan Doni bergantian.
“Apa perlu kita melakukan hal yang sedikit memacu adrenalin, Ren?” tanya Heri dengan suara rendah.
Rendra menatap Heri dengan kening berkerut.
“Maksud kamu?” tanya Rendra.
Heri tersenyum. “Heleh, seperti yang biasa kamu lakukan kalau lagi naksir perempuan,” jawab Heri seolah mengingatkan bahwa Rendra sering kali mengajak para gadis itu untuk bersamanya.
Jujur saja, Rendra bukan lagi remaja dengan segala kenakalannya. Karena kenakalan Rendra sudah merambah ke area dewasa. Minuman beralkohol bukan hal baru baginya. Apalagi n*****a. Meski belum menjadi seorang pecandu, namun Rendra sudah beberapa kali menggunakan pil setan itu.
Mendengar kalimat Hetri, Rendra menggeleng tegas.
“Tidak! Aku tidak akan melakukan hal-hal yang frontal untuk mendapatkan gadis ini. Dia itu ibarat porselin rapuh dengan keunikan yang mahal. Jika aku terlalu keras, maka dia akan hancur dan hilang keindahannya. Tidak, Her. Kali ini aku akan mencari cara yang elegan untuk mendapatkannya secara utuh. Dengan cara paling manis yang tak mungkin dia tolak,” ujar Rendra dengan mata menyipit penuh rencana.
Heri dan Doni saling pandang.
“Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta dan sedang tergila-gila, Ren?” tanya Doni dengan santai.
Senyum Rendra tersungging masam. “Jatuh cinta dengan gadis ingusan begitu? Hm, jangan bermimpi melihatku jatuh cinta sama dia, Don. Kamu tahu bagaimana aku dalam urusan perempuan, kan? Pantang bagiku jatuh cinta duluan,” ujar Rendra.
Doni tersenyum, sementara Heri hanya mendengarkan saja percakapan mereka.
“Bukan aku yang akan tergila-gila dengan dia. Tapi dia yang akan tergila-gila padaku,” jawab Rendra penuh rasa percaya diri.
Tentu saja Rendra memang selalu bersikap seperti itu. Dan itu wajah karena selama ini memang dia jarang jatuh cinta dengan perempuan. Jikapun dia sering berganti pasangan, itu karena dia sedang tidak ingin mengecewakan para perempuan yang mengejar cintanya. Mungkin juga sedang mengejar harta dan fasilitas yang dimilikinya sebagai anak pemilik sekolahan ini.
“Sepertinya aku akan menikmati drama dalam waktu dekat ini,” celetuk Heri.
“Apa maksudmu?” tanya Rendra cepat.
Heri menatap Rendra gantian.
“Bukankah kamu akan menarik perhatian gadis cantik tadi?” tanya Heri gagu.
Rendra mendengus.
***
Di dalam kelasnya, Malik sedikit gelisah jika ingat dengan peristiwa di kantin tadi. Dia menyesal mengapa harus mengajak Isha makan di kantin. Niatnya memang memperkenalkan suasana kantin agar kelak terbiasa. Namun Malik lupa bahwa kantin adalah tempat yang paling sering dikunjungi oleh Rendra dan teman-temannya tadi.
Yang lebih di luar dugaan adalah mengapa Rendra harus melihat Malik bersama Isha. Mungkin ada sebuah rasa tak suka dari Rendra terhadap Malik karena satu dan lain sebab. Tapi seharusnya itu tidak melibatkan Isha, bukan?
“Mengapa kamu sepanjang pelajaran barusan melamun?” tanya Andi, teman sebangku Malik yang mengetahui bahwa Malik sepertinya tidak konsentrasi sejak istirahat tadi.
Malik menghela napas.
“Aku mengkhawatirkan Isha,” jawab Malik dengan suara rendah.
Andi mengerutkan keningnya.
“Isha?” tanya Andi.
Malik mengangguk. “Ya. Isha. Teman kecilku yang sekarang kelas satu di sini,” jawab Malik.
Andi tersenyum. “Isha yang dulu selalu kamu ceritakan itu?” tanya Andi.
Malik mengangguk.
“Sepertinya kamu terlalu protektif sama dia. Apakah kamu menyukainya?” tanya Andi dengan polos.
Seketika Malik terkesiap dan menatap Andi. Awalnya dia ingin menyangkal, akan tetapi dia mengurungkan niatnya karena teringat bahwa jantungnya berdebar saat beberapa saat tadi Isha memegang tangannya ketika meninggalkan kantin.
“Menyukai Isha?” Malik balik bertanya dengan ambigu.
***