Tak ingin membuang waktu, Malik kembali naik ke atas motornya dan melarikannya menuju rumah Isha. Dia sungguh ingin memperbaiki pertemanan mereka yang entah mengapa selalu saja menemui kendala dari hal-hal tak terduga lainnya. Namun, ketika sampai di rumah Isha, rumah itu sepi. Pak Tono yang mendengar suara motor Malik, segera datang menemui laki-laki itu. “Ada apa, Mas?” tanya pak Tono. “Rumah sepertinya sepi, Pak. Bisa ketemu sama Isha, nggak?” tanya Malik penuh harap bahwa Isha tidak akan salah paham, apalagi marah dan dia akan bisa menemuinya lagi. “Iya, Mas. Sepi. Bapaknya pak Ridwan meninggal dunia,” jawab pak Tono. “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Kapan meninggalnya, Pak?” tanya Malik kaget. “Siang ini juga, Mas. Makanya semua berangkat ke rumah duka, baru sepuluh menit yan

