Halo guys... salam kenal ya.. yuk dibantu follow dan komen cerita ini biar aku semangat dan bisa update lebih sering. Happy reading ^^...
================================================================
Jantung yang tadi seolah berhenti, kini berdebar tidak karuan.
“Ada apa?” tanya Vlora datar.
“Tidak, Bu. Silahkan.” Freya menahan pintu agar Vlora berjalan masuk, dan sekilas pandangannya bertemu dengan mata Arsen sebelum dia keluar dan pintu tertutup.
Freya menghembuskan nafas yang tertahan karena ketegangan dari dasar perutnya. Dia memegangi d**a dengan tangan gemetar. Rasa bersalah berbalut takut seperti gelombang besar menghantam Freya.
Vlora yang selama Freya bekerja di sini tidak pernah memijakan kaki di kantor Arsen tiba-tiba saja datang. Insting seorang istrikah?
“Mengapa sekertarismu menatapku seperti melihat hantu?” tanya Vlora menghampiri dan duduk di sofa yang baru saja dipakai Arsen mencumbu Freya.
Arsen berdehem semata-mata untuk menenagkan dirinya.
“Mungkin terkejut karena tiba-tiba kamu ada di depan pintu. Baru aku tegur juga masalah pekerjaan. Bay the way, ada apa kamu kesini?”
“Kamu tidak mau duduk di sini menemaniku?”
“Aku banyak kerjaan, Vlo, sebentar lagi juga ada meeting. Katakan saja apa yang membawamu kesini?”
Vlora mengedikan bahu. “Oke, teruskan saja pekerjaanmu.” Vlora berdiri, berjalan perlahan untuk melihat setiap sudut kantor. “Hanya kebetulan aku ada pertemuan di dekat sini, karena masih terlalu awal, aku pikir tidak ada salahnya aku mampir dan melihat-lihat.”
Melihat-lihat bukan kebiasaan Vlora. Waktunya terlalu berharga jika hanya dibuang untuk melihat-lihat.
Arsen menutup map ditangan, memberikan perhatian sepenuhnya kepada Vlora yang sekarang sedang melihat lukisan yang ada di sebrang ruangan.
“Jika kamu kesini karena masalah anak yang kamu mau itu, aku tegaskan sekali lagi, aku tidak mau!”
Vlora berbalik, menghampiri Arsen dan berdiri di depan meja lelaki itu dengan kedua tangan melipat di d**a. “Aku sudah berkali-kali memintamu dengan sabar, kenapa kamu seperti ini?”
“Bukan ini yang aku harapkan darimu!”
“Kamu mengharapkan apa? Make it easy!”
Arsen menghela nafas. Vlora dan arogansinya tidak akan pernah mengerti. “Aku nggak mau kita memiliki anak, jika hanya menjadi alat untukmu, Vlora!”
“Aku nggak ngerti kenapa, Arsen! Toh anak itu akan tetap kita besarkan. Aku nggak akan mungkin melahirkannya, menunjukan ke papa, lalu aku membuangnya!”
“Lalu bagaimana jika yang lahir anak perempuan?”
Untuk sesaat Vlora nampak bingung. Seolah-olah kemungkinan melahirkan anak perempuan tidak pernah terlintas dalam benaknya. “Ya, kita berusaha lagi.”
Arsen menggelangkan kepala. sudah pasti apa bila anaknya terlahir perempuan, Vlora hanya akan membesarkannya, tanpa mencintainya. Arsen tidak mau anaknya kekurangan kasih sayang karena ibunya sendiri nanti mengabaikannya.
“Aku sibuk, can you go?”
“Oke jika kamu tidak mau bekerjasama denganku. Aku bisa hamil tanpa kamu! Ada yang namanya inseminasi. Setelah kupikir lagi, justru bagus kamu tidak ikut campur dengan urusan ini. Jadi ketika kita bercerai, kita tidak perlu sibuk dengan hak asuh, karena itu bukan anakmu!” langkah tegas Vlora meninggalkan Arsen yang masih terpaku.
Bercerai?
Arsen memijat keningnya yang pening. Mungkin memang bercerai adalah pilihan terbaik untuk mereka. Tapi mengingat perusahaan ini berkembang pesat akibat nama besar mertuanya, Arsen sepertinya harus memikirkan strategi yang bagus agar ketika bercarai nanti, tidak berimbas banyak pada harga sahamnya.
***
Maafkan saya tidak bisa, Pak. Saya harus pulang cepat malam ini.
Freya membaca pesannya berulang kali sebelum dikirim untuk balasan pesan Arsen yang mengajaknya makan malam.
Kedatangan Vlora tadi pagi masih menyisakan ketakutan dalam hati Freya. bagaimana jika Vlora datang sepuluh menit lebih awal? Sementara mereka masih bercinta di dalam, di luar Vlora menggedur pintu kantor suaminya karena terkunci. Alasan apapun nampaknya tidak bisa menghindari kecurigaan.
Tengkuk Freya meremang membayangkannya. Dia tidak siap jika di hadapkan pada situasi seperti itu!
Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, Freya buru-buru mengemasi barang. Biarlah hari ini dia pulang terlebih dahulu dari pada bosnya. Biar nanti di tengah jalan Freya mengirimkan pesan ijin. Yang terpenting adalah, dia tidak berjumpa Arsen. Karena jika mereka berjumpa, Freya tidak akan sanggup menolak lelaki itu.
Tapi rupanya Arsen lebih cerdik daripada dirinya. Sepertinya Arsen bisa membaca sikap Freya yang masih merasa tidak nyaman dengan kejadian pagi tadi. Jadi baru juga Freya berdiri, Arsen sudah keluar dari ruangan dan memanggilnya.
Duh!
“Kamu benar tidak mau keluar sama saya?” tanya Arsen meyakinkan.
Freya tidak langsung menjawab. Menatap wajah menawan Arsen membuat keinginannya menolak atau menerima sama-sama kuat. Tapi bayangan ketika dia membuka pintu dan Vlora sudah ada di depannya tadi terbesit dalam ingatan, Freya cepet-cepat menggelangkan kepala.
“Maafkan saya, Pak, Nia sudah menunggu di rumah. Saya juga sudah janji pulang cepat hari ini.”
Arsen nampak kecewa, tapi memaksakan dirinya tersenyum. “Baiklah, hati-hati di jalan, ya.”
Ada perasaan bersalah di hati Freya, namun pada akhirnya dia tetap meninggalkan lelaki itu. “Saya permisi dulu, Pak.” Pamitnya mulai berbalik dan berjalan pergi, meski tatapan Arsen masih bisa dirasakan dan membuat pundaknya terasa berat.
Ketika menerima permintaan Arsen untuk menjadi wanitanya, Freya tidak tau akan seperti apa hubungan mereka. Selain memang bersama Arsen membuat hati dan tubuhnya menjadi hangat, di samping daya tarik lelaki yang sulit untuk ditolak, Freya ingin sekali menghapus label “menjual diri”. Tapi rupanya menjadi simpanan tidak membuatnya menjadi lebih baik.
Entahlah. Jika memang bersama Arsen menimbulkan banyak ketikdaknyamanan untuk mereka berdua, mungkin Freya akan membicarakannya lagi dengan lelaki itu. Sebelum semuanya terlalu jauh menyentuh perasaannya.
Turun dari ojek online, Freya sedikit terkejut mendapati satu buah motor matic yang terlihat masih baru karena tidak ada plat nomer dan jok yang masih terbungkus plastik.
“Udah bayar lewat aplikasi ya, Pak. Terimakasih.” katanya memastikan sambil menyerahkan helm.
“Iya, Kak, sama-sama.” Bapak ojek mengambil helm sebelum berlalu pergi.
Freya masih terpaku dan bertanya-tanya, milik siapa motor ini, saat Nia menghambur keluar dan dengan senang memeluknya.
“Kakak makasih, Lho! Ya ampun, kok bisa tau Nia lagi ngumpulin uang buat beli motor tapi nggak kekumpul-kumpul karena tugas kuliah banyak! Orang dealernya sampai repot-repot ngeprint ginian!” Nia menunjuk ke arah depan motor yang belum sempat Freya lihat.
UNTUK NANIA BERANGKAT KULIAH. SEMANGAT YA CALON DOKTER!
“Kakak, makasih, ya!” ujar Nania lagi. Freya masih bengong, belum tau apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang mengirimkan motor ini. “Kakak mandi lalu istirahat deh. Hari ini Nia akan masakin Kakak makan malam yang spesial!” Nia kembali kedalam rumah masih dengan riang.
Dalam kebingungan, Freya mendapatkan pesan masuk.
Nania suka motornya? Tadinya aku mau belikan mobil, tapi takut Nia bertanya-tanya lagi dari mana uang Kakaknya. Jadi coba dulu kamu omongin sama Nia, mau beli mobil atau nggak.
Freya tidak membalas pesan Arsen tersebut. Perhatian Arsen menimbulkan banyak perasaan yang tidak semuanya menyenangkan. Dan yang paling mengganggu Freya adalah pertanyaannya sendiri. Apakah semua ini untuk membayar Freya karena telah mau tidur dengan lelaki itu?