Arsen tertegun, menatap punggung Freya menjauh hingga hilang di balik pintu.
Arsen menghembuskan nafasnya berat. Memejamkan mata, dia memijat pelipisnya pelan. Dia memang keterlaluan. Tapi sebelum ayahnya memeringati, Arsen memang agak takut dengan perasaannya sendiri. Akhir-akhir ini Freya seperti terlalu memenuhi isi kepalanya.
Ada ketukan pelan sebelum Freya masuk lagi, menyerahkan notulen yang Arsen pinta tanpa bicara apa-apa.
“Freya…” panggil Arsen merasa bersalah.
“Ada yang Bapak butuhkan lagi?”
Dirimu…
Arsen memeringati dirinya sendiri, jika dia harus bisa mengontrol hasratnya, atau dia akan tersesat. “Tidak ada.”
“Kalau begitu saya undur diri.”
Setelah hari di mana mereka bercinta di sofa kantor, tiga hari lalu, mereka belum bersama lagi. Padahal semalam mereka keluar, tapi hanya untuk makan malam. Arsen masih bersikap baik. Perhatian. Dia menyiapkan makan malam romantis dan bisa membawa suasana dengan candaan-candaannya. Dan Arsen seperti tau kalau Lea belum siap bercinta lagi setelah yang terakhir hampir saja mereka kepergok. Lalu kenapa hari ini dia seperti sosok yang berbeda?
Apa katanya tadi? Jangan mentang-mentang akhir-akhir ini mereka dekat? Freya jadi bertanya-tanya sebenarnya hubungan mereka ini arahnya kemana? Jika memang dia menginginkan sekat, kenapa harus jalan mendekat?
***
“Freya!” panggil Arsen, menghampiri Freya yang sedang siap-siap mau pulang.
Freya berdiri, bersiap menerima perintah sebagai bawahan. Tapi sampai beberapa lama, Arsen hanya berdiri diam.
“Ada apa, Pak?”
“Saya minta maaf atas kejadiaan tadi. Saya banyak pikiran, jadi agak kehilangan kontrol diri.”
Freya menganggukan kepala. “Tidak masalah. Saya juga sudah lupa.” Kebohongan kecil dilontarkan Freya agar semuanya berlalu cepat.
“Kamu mau keluar lagi sama saya malam ini? Saya kangen…”
Freya tau kata kangen itu untuk apa. Ajakan keluar Arsen tentu bukan hanya untuk sebuah makan malam romantis. Lebih dari pada itu. Dan hanya membayangkannya, Freya hampir saja menyerah oleh amarah yang masih menyala di dalam hati.
Tapi kemudian Freya sadar, jika dia membiarkan, kedepannya mungkin Arsen akan menganggapnya terlalu mudah sehingga bisa melakukan hal seenaknya seperti tadi. Freya juga tidak bisa membiarkan dirinya sendiri terlalu lemah atas pesona Arsen. Jadi dia menolak.
“Saya harus pulang cepat, pak, Nia sudah menunggu.”
“Freya…” Arsen maju, namun mengurunkan niatnya untuk meraih tangan wanita itu, karena Freya langsung menjauh. Tau Freya masih marah, jadi dia tidak memaksa.
Arsen hanya melihat Freya merapihkan barang-barangnya sebelum pamit pulang, kemudian buru-buru pergi seolah takut Arsen akan mengejarnya.
***
Freya berusaha mengenyahkan rasa bersalah meski sulit dan membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Berkali-kali dia membuka handphone, berniat menghubungi Arsen namun diurungkan lagi. Dia harus menguatkan hatinya. Dua hari tanpa bertemu Arsen kemudian melihat apa mereka layak untuk terus berhubungan.
Tapi rupanya bukan hanya Freya yang gelisah, Arsen juga. Arsen terus mencari alasan agar bisa menemui Freya di akhir pekan ini, namun tidak ada yang menurutnya benar-benar pas. Sampai akhirnya sebuah ide yang benar-benar cemerlang muncul di otaknya.
Arsen mengirimkan dua e-tiket konser musik yang hanya bisa Freya pandangi dengan gamang.
Kamu bisa ajak Nania nonton konser ini, pasti dia senang. Tulis Arsen dalam pesan. Jika hanya begitu Freya harus membalas apa? Arsen tidak ada menanyakan kabar Freya atau pertanyaan basa-basi yang bisa Freya balas. Membalas dengan ucapan terimakasih sudah paling benar tapi tidak akan ada percakapan lanjutan. Memulai percakapan baru akan sangat mencolok jika Freya ingin tau kabar lelaki itu. Jadi, ya, Freya hanya membalasnya dengan kata terimakasih yang singkat.
“Nia?” panggil Freya, masuk ke dalam kamar adiknya yang sedang berbaring sambil membaca buku. “Nia mau nonton konser ini besok?” Freya menunjukan e-tiket dari layar hanphone, dan Nia langsung bangkit duduk penuh semangat.
“Wah! Kakak dapet dari mana tiket konsernya? Gila! VIP lagi! Temen-temen Nia pada ngomongin konser ini tau! Nyari tiketnya susah banget katanya soalnya banyak yang mau nonton!”
Freya tersenyum melihat antusias adiknya. “Nia mau nonton?”
“Maulah! Kakak dapet dari mana tiketnya?”
“Dikasih bos kakak.”
“Ih, baik banget sih dia! Tadinya Nia emang mau nonton ini tapi sayang uangnya. Tiketnya juga udah gila harganya karena cuma ada di calo! Di official-nya udah sold dari kemarin-kemarin.”
“Kebetulan banget kalau gitu dong? Nia ajak temen Nia aja buat nonton konser. Ini ada dua tiketnya.”
“Ih apa sih, sama kakaklah! Nia kalau ajak temen cuma satu yang lain nanti iri. Lagian Kakak dari dulu, kan, kerjanya cari uang aja! Nggak pernah tuh Nia liat Kakak seneng-seneng karena Kakak harus nabung. Jadi karena ini gratis, kita bisa seneng-seneng, oke?”
Melihat Nia begitu senang, Freya merasa Arsen terus mencoba menyenangkannya lewat Nia. Mungkin karena tau, tujuan hidup Freya hanyalah Nia.
Freya menganggukan kepala, membuat Nia berteriak kegirangan.
Besoknya Nania sudah heboh dari pagi, padahal konsernya baru mulai jam tujuh malam nanti. Nia bilang Freya nggak punya baju yang cocok untuk nonton konser, jadi di ajaknya Freya belanja dulu. Nia yang bayarin. Sebagai ucapan terimakasih kepada Freya katanya. Membuat Freya terharu.
Sampai pada akhirnya di dalam vanue, Freya baru bisa merasakan excited. Melihat betapa megahnya konser musik tersebut dengan panggung besar dan lighting yang tidak main-main. Seluruh kursi sudah hampir terisi, bahkan di depan panggung orang-orang yang membeli tiket festival sudah berdiri berdesakan.
“Keren banget, kan, Kak!” seru Nia yang dari tadi terus bersenandung gembira.
Saat konser di awali dengan musik yang penuh semangat dan lighting hanya menyorot panggung saja, orang-orang bersorak untuk mengekpresikan antusias mereka. Nia bernyanyi penuh semangat, sementara Freya hanya menikmati musik yang familiar di telinga. Karena pada dasarnya Freya tidak pernah mengikuti artis, penyanyi, atau band yang sedang hits. Dia hanya mendengar ketika orang lain sedang mendengarkan.
Setelah beberapa lagu yang dibawakan dengan musik semangat, performance selanjutnya membawakan musik acoustic yang romantis dan terdengar halus di telinga. Orang-orang ikut bernyanyi sambil melambai-lambaikan tangan, termasuk Nia.
Kursi di sisi Freya yang dari tadi kosong kemudian terisi. Freya tidak memperhatikan sampai orang tersebut meraih tangan Freya membuat Freya terkesiap dan otomatis menoleh.
Lelaki bertopi hitam tersebut menatapnya penuh senyum. Lampu panggung hanya menyorot satu sisi wajahnya yang sedang menoleh kearah Freya, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan aura menawan lelaki itu. Apa lagi, tubuh yang biasanya berbalut suits mahal dan sepatu hitam mengilap itu kini memakai jeans, kaos, boomber dan sepatu kets yang hampir semuanya hitam. Pesona Arsenio Jarvis memang tidak main-main.
Freya menatap panggung lagi, tapi pikirannya sudah tidak fokus. Jemari mereka saling bertautan di bawah kursi menjalarkan rasa hangat kehatinya.