BAB 2 - Malvino Revaldy

747 Words
BAB 2 Entah sudah berapa gelas yang Malvin habiskan malam ini, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan bayangan Vania dari dalam ingatan. Vania adalah wanita yang sudah dipacarinya sejak tiga tahun terakhir, yang pada akhirnya meninggalkan dirinya dan lebih memilih selingkuhan bulenya. "Come on bro, mending Lo stop dan pulang sekarang. Keadaan Lo bener-bener buruk. " Raymond, sang bartender berusaha menghentikan aksi gilaa teman sekaligus pelanggan setia night club ini sejak seminggu terakhir. "Diem Lo! Mending Lo ambilin gue sebotol lagi," pinta Malvin dengan nada sarkas. Raymond hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu apa yang harus dilakukan demi menghadapi orang mabuk seperti ini. "Cukup, Vin! Lo udah ngabisin hampir lima botol. Mending Lo pulang sekarang dengan taksi. Gue nggak yakin Lo bisa selamat kalo nyetir sendiri. Mobil Lo biar tinggal di sini. Besok gue anter ke rumah Lo." "Sialan! Lo ngusir gue?!" Umpat Malvin tidak suka karena kesenangannya harus diganggu. Meski pun begitu, pria itu tak lagi memberontak atau pun mengelak. Menurut saja dengan yang Raymond katakan. Pada akhirnya Malvin beranjak juga, dengan kepala berat dia berjalan limbung berusaha keluar dari dalam night club. Tiba-tiba .... Bught! Auw! “s**t!" Untuk ke sekian kalinya Malvin mengumpat. Dia menabrak seorang perempuan hingga terjatuh di atas lantai. Maksud hati Malvin mau menolong perempuan itu. Tapi tanpa diduga justru perempuan itu memuntahinya. Hoek ... hoek .... Wanita itu muntah dan parahnya telah mengenai kemejanya. "Sial! Apa yang Lo lakuin huh! Lihat baju gue kotor dan bau." Malvin mengibaskan tangannya. “Hufft. Kenapa bau banget.“ Malvin masih saja menggerutu. Dan apa-apaan ini, perempuan itu ambruk, untung saja Malvin sigap menangkap tubuhnya. "Hei Nona bangun!" Malvin menggoyang-goyangkan tubuh lemah perempuan yang baru saja pingsan di dalam dekapannya. Tetap tidak ada reaksi. "Ya, Tuhanku. Dia mabuk," geram Malvin untuk kesekian kali. Merasakan kepalanya sendiri yang semakin berdenyut luar biasa akibat kebanyakan minum. Ditambah perempuan yang ada di pelukannya saat ini juga tak kunjung bangun. Dengan langkah sempoyongan, Malvin mengangkat tubuh perempuan itu dan dibawanya keluar dari night club. Sampai di parkiran Malvin kebingungan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan mobilnya. Tapi nihil, penglihatannya semakin buram. Hingga sebuah taksi yang kebetulan melintas di depan night club segera dia hentikan. Malvin memasukan tubuh perempuan itu di jok belakang dan setelahnya dia ikut duduk dibelakang sopir. Malvin menyebutkan sebuah alamat kepada sopir taksi sebelum akhirnya mata pria itu tertutup sempurna. Selama dalam perjalanan, Malvin benar-benar sudah tidak ingat apa-apa. Pikirannya linglung hingga hanya memejamkan mata lah yang sanggup Malvin lakukan. "Mas ... Mas. Kita sudah sampai." Sopir taksi berusaha membangunkan Malvin dengan menggoyang-goyangkan lengan lelaki itu. Mata Malvin menyipit, kesadarannya sedikit terkumpul. Meski rasa sakit di kepalanya semakin menjadi dia paham betul tengah berada di mana sekarang. Sedikit kesulitan mengobok-obok kantong celananya demi bisa mendapatkan lembaran rupiah untuk membayar ongkos taksinya. Malvin ulurkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah kepada sopir taksi sebelum dia keluar dari dalamnya. Malvin berjalan sempoyongan menuju gerbang rumahnya hingga panggilan sopir taksi menghentikannya. Menolehkan kepala ke belakang dengan ekspresi kebingungan. "Mas! Pacarnya ketinggalan. Ini masih di dalam taksi saya." Malvin mengernyit berusaha mengerti maksud dari ucapan sopir taksi. Lelaki itu berpikir sejenak. Pacar? Pacar yang mana? Batinnya dalam hati. Hingga kilasan kejadian beberapa saat lalu kembali diingat olehnya. "Oh My God!” Malvin menepuk dahinya. Wanita yang dia bawa dari club tadi masih ada di dalam taksi. Malvin kembali menuju pada taksi di mana si sopir dengan maksud membantu, sedang mengeluarkan Aira dari dalam taksinya. Susah payah Malvin menggendong wanita itu, lalu dibawanya masuk ke dalam rumah dengan langkah sempoyongan. Saat Malvin kesulitan membuka pintu rumahnya, kebetulan Bik Siti yang memang masih terjaga segera membuka pintu rumah setelah dia diberitahu oleh satpam jika tuan mudanya sudah pulang. "Bener-bener merepotkan!" Malvin terus menggerutu sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya berada. Dia baringkan wanita itu di atas ranjang besar miliknya. "Sial! Bau banget! " Malvin melepas kemejanya, membuangnya ke sembarang tempat. Sambil berjalan sempoyongan dia menuju ranjang. Niatnya yang ingin tidur tertahan, saat dia melihat baju wanita yang terbaring di sebelahnya, sangat kotor dan bau akibat muntahan tadi. Malvin mulai melepas satu persatu kancing kemeja yang dikenakan wanita itu dan melemparkannya asal ke sembarang tempat. Jakunnya naik turun tak beraturan. "Apa-apaan ini. s**t!" umpat Malvin lagi. Pandangannya tidak lepas dari dua gundukan yang menyembul dari balik bra yang dikenakan wanita itu. Dengan hati-hati Malvin mulai menciumi tubuh wanita itu hingga matanya terasa berat dan mulai terpejam, dalam posisi dia masih memeluk tubuh wanita yang tak lain adalah Aira Maharani. ### Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD