Seekor kuda berderap menembus malam, melintasi sebuah lembah yang sunyi. Hawa dingin membekukan tulang, mencengkeram kulit. Panji Panuluh menggigil, saat serangan hawa dingin itu menembus tiap lubang pori-pori kulitnya, sementara Dewi Selendang Merah memacu kudanya semakin kencang. Bahkan mereka tak peduli akan rasa lelah yang mendera. Mereka hanya ingin segera sampai ke Padepokan Tapak Suci, tempat Ki Lodaya berdiam. Lembah itu dikelilingi tebing-tebing berbatu yang ujungnya runcing, menyembul dari permukaan tanah tak beraturan. Sesaat setelah kuda itu berlari kencang, tiba-tiba ia berhenti di tengah lembah, di bawah naungan langit malam yang gelap. Panji sempat heran mengapa kuda itu berhenti berlari, sedangkan Dewi Selendang Merah menekan telunjuk pada bibirnya. Kuda itu meringkik de

