Kalageni menatap keberadaan Dewi Selendang Merah yang berdiri di depannya dengan mata menyala bak lidah api. Ia sudah siap menyerang dengan segala ilmu tarung yang dimilikinya. Nama Dewi Selendang Merah memang sering ia dengar, tetapi untuk bertarung langsung jelas baru pertama kali ini. Kabar yang banyak beredar, perempuan ini akan sangat sulit ditaklukkan. Namun, ia memilih untuk bertaruh nyawa untuk itu. “Berhadapan denganku adalah keputusan yang salah. Tetapi karena kau yang menghendakinya, maka jangan salahkan aku kalau kau akan menerima akibatnya!” ucap Dewi Selendang Merah. Kalageni tak ingin membuang banyak waktu lagi. Ia memulai penyerangannya dengan bola-bola api yang sudah disiapkan sebelumnya. Dua buah bola api melesat tajam ke arah Dewi Selendang Merah siap menghanguskan tub

