Bab 13 Nini Gandamayit

1455 Words
Tapak kaki mungil Panji Panuluh serasa melepuh dan hancur saat berlari-lari kecil menjauhi perkampungan. Ia memutuskan untuk berjalan melewati tempat-tempat yang sepi, agar tak menarik banyak perhatian banyak orang. Ia merasa sangat letih, tubuhnya juga terasa remuk-redam. Dalam keadaan seperti itu, ia harus mencari tempat untuk beristirahat, sekadar melemaskan otot-otot kakinya yang kaku, atau berlindung dari pedihnya udara malam yang menggigit tulang. Kini ia telah menjauh dari perkampungan, tepatnya di pinggir hutan yang tak banyak dilalui penduduk. Sengaja ia tak berjalan di jalan setapak, melainkan menerjang belukar, semak, dan duri. Agak sulit mencari tempat yang layak digunakan untuk istirahat di dalam hutan. Lantai hutan tertutup semak dan duri, serta tanah lembap yang dipenuhi dedaunan kering. Ia berharap menemukan sehamparan rumput di bawah pohon besar, agar ia bisa merebahkan diri di sana, sambil menatap langit yang kelabu kebiruan. Ketika ia hampir putus asa, sayup-sayup ia mendengar gemercik air tak jauh dari tempatnya berdiri. Panji menajamkan pendengaran, untuk meyakinkan apa yang sebenarnya ia dengar. Dari suara aliran air yang ia dengar, ia berpikir mungkin tak jauh dari situ ada sungai yang mengalir di antara bebatuan. Ia bisa mendengar suara air yang memecah kesunyian hutan. Harapannya perlahan bangkit. Ia penasaran dengan suara aliran air yang kian jelas mengusik pendengarannya. Setelah menelusur jalan setapak yang diapit pohon-pohon raksasa dan semak-semak rimbun, Panji sampai pada bibir tebing yang cukup terjal. Apa yang ia pikirkan ternyata tak salah. Di bawah sana, ia melihat aliran sungai, dengan airnya yang cukup jernih mengalir melalui batu-batu kali yang berserak. Panji merasa girang melihat aliran sungai yang tak seberapa besar itu. Paling tidak ia bisa membasuh tubuh dan mengisi botol minumnya. Syukur-syukur kalau ada beberapa ekor ikan yang bisa ditangkap. Namun, tebing ini cukup terjal. Bagaimana ia bisa turun ke bawah sana? Panji berjalan ke sekeliling tebing, mencari celah agar bisa turun menuju aliran sungai di bawah sana. Tebing itu bertanah licin, dipenuhi lumut dan tumbuhan paku-pakuan. Panji sudah tak sabar ingin merasakan sejuknya air yang mengalir di bawah sana. Tanpa berpikir panjang, ia meluncur begitu saja menuruni tebing, tak peduli dengan apa yang terjadi. Kakinya meluncur, bersaput tanah liat dan daun kering, mendarat tajam sampai ke bawah tebing. Sesampai di bawah tebing, ia merasa gembira karena ia masih dalam keadaan baik-baik. Ia segera menghambur ke arah aliran sungai, mencelupkan kedua kakinya, merasakan kesejukan yang tak terbayangkan. Rasa sejuk itu seolah menjalar ke seluruh tubuh, sampai ke otaknya. Ia benar-benar menikmati sepuas-puas hatinya. Sesaat, ia merasa seperti terdampar di sebuah tempat yang mirip surga kecil. Hamparan tanah berumput di bawah pohon besar juga ia temukan di tepian sungai, persis seperti harapannya. Panji merebahkan tubuhnya di atas hamparan rumput, mengambil sebatang rumput, mengunyahnya sambil menatap ke arah langit. Matahari bersinar tak terlalu menyilaukan. Angin semilir seolah menyirap Panji dalam rasa kantuk yang luar biasa. Rasa lelah membuat sepasang matanya terasa berat. Rambutnya serasa dibelai para bidadari dengan gaun yang berjumbai-jumbai. Plak! Panji terbangun tiba-tiba. Ia merasa ada sesuatu yang menepuk pipinya. Ia menatap sekeliling sungai yang sunyi. Tak ada siapa-siapa di sekitar. Atau jangan-jangan cerita para tetua itu benar, kalau di aliran sungai biasa dihuni sebangsa jin yang bisa menjelma menjadi wanita cantik? Panji tak mau berpikir tentang itu. Ia duduk, menyandarkan tubuh ke sebuah pohon besar dambil menatap aliran sungai. Terbayang kembali, betapa berat tugas yang harus ia pikul. Tugas yang seharusnya tak pernah ia ambil. Di saat kawan sebayanya tengah asyik bermain atau berburu kelinci di hutan, ia harus mengembara di antah-berantah, demi menyelamatkan sebuah kitab yang menjadi incaran banyak pendekar di dunia persilatan. Tiba-tiba ia teringat akan Kumbara, sahabatnya. Bagaimana nasibnya sekarang? Dalam kekhawatirannya, ia berharap agar sahabatnya itu dalam keadaan baik-baik saja. Dari balik bajunya, Panji mengeluarkan barang-barang yang pernah diberikan Pendekar Tanpa Nama kepadanya. Sebuah golok yang berjuluk Golok Halilintar. Ia belum pernah menggunakan golok itu sama sekali, karena memang belum terlalu perlu. Namun, Panji dapat merasakan ada kekuatan luar biasa yang timbul dari golok yang saat ini berada di pangkuannya. Sarung golok itu berwarna kusam, mungkin terbuat dari kulit binatang. Gagangnya terbuat dari kayu berukir gambar naga. Panji merasa ragu untuk mengeluarkan golok itu dari sarungnya. Selain itu, Panji juga mengeluarkan buntalan kain yang berisi beberapa butir kerikil, arau yang disebut dengan Kerikil Api. Sejatinya, kerikil ini diberikan Pandekar Tanpa Nama kepada Kumbara, tetapi entah mengapa buntalan ini tak sengaja terjatuh, dan Kumbara juga menghilang entah kemana. Panji merasa sedih karena berpisah dengan sahabatnya itu. Masih segar dalam ingatannya saat mereka berpetualang bersama dalam hutan, mencari buruan, atau sekadar iseng membidik burung dengan ketapel. Tiba-tiba dari arah seberang sungai, Panji melihat seorang perempuan renta dengan rambut yang telah memutih, dengan tongkat di tangannya, tampak bingung berdiri di tepian sungai. Ia memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan, seolah tengah mencari-cari sesuatu. Tentu saja, hal itu sangat menarik perhatian Panji. Ia hanya melihat sosok nenek tua itu dengan penasaran, tak berani menyapa. Seberapa lamanya, nenek itu masih berdiri dengan paras kebingungan di tepi sungai, membuat Panji merasa iba. Bagaimanapun, ia tidak bisa membiarkan seorang perempuan tua kebingungan di tengah hutan begini. Ia beranjak mendekati tepian sungai yang ada di seberang. Ia hendak menyeberanginya, walau arus cukup deras. Mungkin nenek itu hendak menyeberang, tetapi merasa takut karena arus air mengalir cukup deras. “Aku akan menolongmu, Nek! Nenek tunggu saja di situ! Airnya cukup deras!” pekik Panji. Nenek itu hanya terperangah melihat kemunculan Panji yang begitu tiba-tiba. Ia menatap sosok Panji yang lincah dan cekatan menyeberang sungai. Panji segera mendekati nenek tua itu begitu sampai di seberang. Si nenek tua hanya tersenyum terkekeh, memperlihatkan deretan giginya yang ompong dan menghitam. “Nenek mau ke mana?” tanya Panji. Nenek itu tak berkata apa-apa, tetapi dengan isyarat tangan ia menunjuk seberang sungai. Panji segera mengerti maksud si nenek. Ia menggamit lengan keriput perempuan renta itu, kemudian mengajaknya turun ke dalam aliran air dengan hati-hati. Kondisi air yang begitu dingin membuat si nenek agak menggigil. Panji bisa merasakan kalau si nenek sangat khawatir terpeleset, sehingga ia memegang tangannya dengan erat.   Dua manusia beda generasi itu berjalan tertatih menyeberang sungai. Tangan si nenek memegang pundak Panji dengan erat. Awalnya, pegangan nenek itu terasa biasa saja, tetapi saat di pertengahan sungai, Panji merasakan cengkeraman nenek itu berubah menguat. Panji merasakan rasa sakit di pundaknya, sehingga ia memalingkan kepala ke belakang. Dalam waktu yang bersamaan pula, Panji juga dapat mencium bau busuk luar biasa seperti bau mayat yang tiba-tiba menusuk hidung. Sosok nenek tua yang renta dan lemah di belakangnya tiba-tiba berubah garang. Parasnya menghitam, matanya melotot menakutkan. Paras nenek berubah bak paras setan penunggu sungai. Si nenek menyeringai, kemudian berusaha merebut buntalan yang ada di pinggang Panji. Tentu saja, Panji sadar bahwa semua yang ia alami barusan adalah jebakan. Belum lagi sadar, ia menangkis tangan si nenek , sambil berusaha meloloskan diri dari cengkeramannya. “Kau tak akan bisa lolos lagi bocah tengik!” Saat tangan si nenek hampir berhasil merebut buntalan yang disimpan di pinggang, tiba-tiba sekelebat kain berwarna merah dengan kecepatan dahsyat menyentak kuat tubuh si nenek, sehingga perempuan tua itu terlempar ke samping, jatuh ke dalam aliran sungai yang dangkal. Byuur! “Kurang ajar! Siapa yang berani turut campur urusanku!” desis nenek tua sambil mencoba berdiri. Rambut si nenek yang riap-riapan terlihat basah. Si nenek merasa kesal karena kali usahanya untuk merebut kitab dari tangan Panji tidak menemui hasil. Malah, ia merasa gusar karena ia mendapat serangan tiba-tiba. Segera ia memasang posisi kuda-kuda, bersiaga. Walaupun tubuhnya renta, ia sama sekali tak seperti nenek pada umumnya. Gerakannya sangat lincah dan tangkas, apalagi saat memutar-mutar tongkat yang ada di tangannya. Panji yang lolos dari serangan si nenek segera bergerak ke tepian sungai. Dari atas tebing, seorang wanita dengan pakaian merah melayang turun dengan anggun, tersenyum penuh arti. Panji segera sadar bahwa kali ini yang tiba di tempat itu adalah Dewi Selendang Merah. Rupanya wanita sakti itu berhasil menemukan dirinya, setelah kali terakhir bertemu di Kampung Ringin Sewu, saat pendekar wanita itu bertarung dengan Jalak Hijau dan Jalak Biru. “Menyingkirlah, Panji! Lindungi dirimu! Biarlah aku yang mengurusi nenek bau tanah ini!” ucap Dewi Selendang Merah. “Oh, sudah kuduga itu kau, Dewi Selendang Merah!” gumam si nenek sambil menyeringai. “Kenapa nenek busuk? Kau kaget? Ya, aku Dewi Selendang Merah. Kuharap namaku tidak membuatmu gemetar. Aku seringkali mendengar kabar di hutan ini adalah tempat bersemayam seorang nenek peyot yang suka merampas barang-barang pedagang yang lewat, bahkan menculik para pria untuk dijadikan tumbalnya. Siapa lagi kalau bukan kau, Nini Gandamayit? Aroma busukmu itu tak dapat mengelabui hidungku. Masih hidup, tapi berbau mayat. Sekarang aku akan menjadikanmu mayat yang sesungguhnya!” Gertakan Dewi Selendang Merah membuat amarah wanita tua yang bernama Nini Gandamayit itu memuncak. Ia menatap Dewi Selendang Merah penuh amarah, bersiap melancarkan serangan mematikan ke arah wanita bersenjatakan selendang itu! ***      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD