Bab 11 Tamu tak Diundang

1461 Words
Ledakan pedati itu menerbangkan serpihan-serpihan kayu ke udara. Pedati itu telah hancur menjadi kepingan-kepingan kecil, nyaris tiada bersisa. Asap mengepul tipis, segera menghilang didera rinai hujan yang turun. Untuk sejenak, Kalageni melepas cekikannya pada leher Panji, seraya mengehempas bocah itu ke samping. Ia merasa gusar, karena ada orang lain yang mencampuri urusannya. Sementara, Kalagendis menebar pandangan ke sekeliling, mencari asal-muasal sinar biru yang melesat cepat meluluhlantakkan pedati. Ia bergidik. Untung saja, sinar biru itu tak menghantam raganya. Ia percaya, sinar biru itu pasti akan meletupkan tubuhnya menjadi potongan-potongan daging hangus tak berharga. “Keluar kau, Pengecut!” teriak Kalageni. Kalageni segera sadar bahwa di sekitar tempat itu ada seorang pengintai yang tengah mengawasi apa yang tengah terjadi. Tatapannya nanar ke segala arah, menembus kegelapan malam, menyusur di antara pepohonan yang berdiri tegak di sekitarnya. Tak lama, terdengar suara terkekeh, tetapi tak diketahui dengan jelas, dari mana asal suara itu. “Kau yang pengecut, Kalageni! Beraninya hanya dengan bocah kecil! Kalau kau memang pendekar besar, maka aku adalah lawanmu yang sepadan! Kau tak tobat setelah Kalasoka menemui ajal? Atau kau akan segera menyusulnya ke akherat?” Suara pria terdengar agak berat, tiba-tiba terdengar begitu saja di antara gemercik hujan. Kalageni dan Kalagendis saling berpandangan. Siapa gerangan yang berani mengusik urusan mereka? Kedua pendekar itu segera bersiaga, sementara Panji mundur ke belakang beberapa langkah. Mereka memasang pendengaran dengan tajam, agar bisa menangkap suara pria yang baru datang itu dengan lebih jelas. Wuuss! Tiba-tiba di langit malam, mereka mendapati sekelebat bayangan berwarna biru di antara pepohonan yang tumbuh di sekitar. Tak lama, sesosok pria dengan hiasan burung di kepala, melayang turun dari sebuah pohon tinggi, dengan senyum seolah mengancam. Sosok pria tinggi besar, yang parasnya langsung bisa dikenali oleh Kalageni dan Kalagendis. Mereka tidak menyangka akan kedatangan tamu di malam buta seperti ini. “Kalian kaget? Tentu kalian sudah tak asing dengan diriku. Aku kesini untuk mengambil sesuatu yang selama ini menjadi incaran para jawara di rimba persilatan. Sesuatu yang akan menjadikan kita sebagai jawara tanpa tanding dan menguasai dunia persilatan. Kudengar, benda yang diperebutkan itu di sekitar sini. Tak akan kubiarkan kalian mendapatkannya!” Kalageni dan Kalagendis segera maklum bahwa tamu yang tak diundang itu adalah sosok Jalak Biru. Kali ini Jalak Biru datang sendirian, karena beberapa rekannya tewas terbunuh saat bertarung dengan Dewi Selendang Merah. Namun, mereka melihat lengan Jalak Biru kali ini tampak buntung sebelah, karena dibabat oleh Dewi Selendang Merah. Melihat kedatangan Jalak Biru yang datang seorang diri, Kalageni hanya menyunggingkan senyuman. Ia sadar Jalak Biru bukan lawan sembarangan. Bahkan ia menduga yang telah menghabisi Kalasoka adalah Jalak Biru.  Gerombolan Jalak dan Komplotan Kalasoka memang sejak dahulu terlibat persaingan sengit. Bukan kali pertama mereka saling berhadapan, tetapi berulang kali. Mereka berusaha menunjukkan pada pendekar-pendekar lain, siapa yang terkuat di antara mereka. Malam ini, mereka hendak bersiap mengulang pertarungan dahsyat itu. “Kau benar Jalak Biru. Kitab itu memang sedang dalam incaran kami, dan tentu saja kau tak bisa mengambil begitu saja. Kau harus langkahi mayat kami terlebih dahulu. Untunglah kau datang sendirian dan dalam keadaan cacat, Jalak Biru. Itu artinya kami akan lebih cepat menghabisimu. Akherat sudah tak sabar menantimu. Tentu saja tak akan kubiarkan kau merebut kitab yang berharga itu. Lebih baik kau kubur saja rencanamu itu, dan pergilah dari hadapanku, sebelum kuantar kau ke akherat!” Gertakan Kalageni hanya ditertawakan oleh Jalak Biru. Ia tidak mau banyak berbasa-basi lagi. Ia memulai gerakan cepat, dengan menghentak kakinya, kemudian melambung ke udara, melancarkan serangan ke arah Kalageni, bagai pusaran udara bergulung-gulung, menerjang rintik hujan. Kalageni tentu sudah bersikap waspada. Ia sudah menyiapkan pertahanan sekaligus serangan balik, untuk menangkis serangan maut dari Jalak Biru. Serangan bagai angin p****g beliung menderu tajam ke arah Kalageni, segera disambut dengan tangkisan tenaga dalam.  Dua kekuatan dahsyat beradu di udara, menimbulkan ledakan, sehingga kedua pria itu terhempas ke belakang, karena dorongan tenaga dalam yang luar biasa kuat. Dhuarrr! Empasan tenaga dalam itu membuat Kalageni terlempar ke belakang, hampir menimpa pohon. Pada saat bersamaan, Kalagendis tak membiarkan Kalageni sendirian melawan Jalak Biru. Ia sudah menyiapkan serangan mematikan ke arah Jalak Biru. Kedua telapak tangannya menggenggam meluncur deras ke arah Jalak Biru yang masih terjajar beberapa langkah ke belakang. Serangan dari Kalagendis yang begitu cepat, tentu membuat Jalak Biru tidak siap. Ia terlambat menghadapi, sehingga ia hanya bisa menangkis seadanya. Daak! Serangan Kalagendis yang bertubi-tubi membuat Jalak Biru cukup kerepotan. Ia mundur beberapa langkah, sementara Kalagendis terus bernafsu untuk menyerang. Jalak Biru mulai memutar otak. Ia tak boleh memandang remeh, walau lawannya adalah seorang perempuan. Walau tak seberapa terkenal, ia kerap mendengar bahwa Kalagendis mempunyai senjata rahasia berupa Sisir Gading yang bisa ia keluarkan begitu saja dari ikatan rambutnya. Sisir itu bukanlah sembarang sisir, karena ujung-ujung sisir itu mengandung racun yang sangat berbahaya. Apabila mengenai tubuh, maka sulit untuk bertahan hidup, karena racun bekerja sangat cepat menghentikan aliran darah, bahkan detak jantung! Khawatir akan senjata rahasia Kalagendis, Jalak Biru terpaksa membuat gerakan mencengkeram di saat Kalagendis terus melancarkan serangan. Ia membuat suatu gerak tipuan, sehingga ia berhasil mengecoh pergerakan Kalagendis. Cengkeraman itu mendarat di pinggang Kalagendis, menimbulkan rasa panas luar biasa, karena Jalak Biru mencurahkan tenaga dalam di cengkeramannya. “Aaaahhh!” Kalagendis terpekik. Wanita itu mundur seketika, mendapati pinggangnya tampak hangus, kulitnya terkelupas, menampakkan daging yang seperti terpanggang. Asap biru mengepul dari luka di pinggangnya. Wanita itu meringis menahan sakit. Ia terpaksa menghentikan serangannya, seraya terduduk. Mengetahui hal itu, Kalageni tak tinggal diam. Setelah memulihkan diri, kini gilirannya untuk merangsak maju. Ia menyadari bahwa Jalak Biru bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng. Ia harus mengerahkan segala kekuatannya untuk menaklukkan Jalak Biru. Kalageni melesat maju, dengan tatapan berkilat-kilat, tanda amarahnya tak terbendung. Sebersit cahaya merah melesat dari arah mata Kalageni, mengarah pada Jalak Biru. Tentu sinar ini bukanlah sembarang sinar. Senjata mematikan ini biasa digunakan oleh Kalageni apabila menghadapi lawan yang tangguh. Cahaya panas berwarna merah akan membakar tanpa ampun, apabila lawan tak mampu berkelit. Jalak Biru tak meremehkan sinar merah yang melesat cepat ke arahnya. Ia segera melayang dengan tenaga yang masih dimilikinya untuk menghindari serangan Kalageni yang mematikan. Sayangnya, gerakannya agak lambat, sehingga sinar merah itu sempat mengenai jubah birunya. Tak ayal, jubah itu menyala karena jilatan api membakar dengan cepat. Kondisi hujan tak membuat api yang membakar jubah Jalak Biru segera padam. Kini ia kerepotan, karena rasa panas mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ia tak punya pilihan, selain melepas jubahnya, kemudian melempar ke arah Kalageni. Wuuut! Blaar! Perhatian Kalageni jadi terpecah saat jubah penuh api itu dilempar ke arahnya. Ia melesat ke samping kiri saat jubah biru milik Jalak Biru tiba-tiba meledak. Kalageni kembali mencari keberadaan Jalak Biru, karena ia ingin segera menyelesaikan urusan dengan cepat. Namun sayangnya, ia tak menemukan sosok Jalak Biru. Ia seperti menghilang di telan malam. “Keluar kau, Bangs*t! Pikirmu kau akan lolos dariku? Beersikaplah seperti seorang ksataria dan jangan meninggalkan medan petarungan begitu saja!” Dalam derai hujan yang masih turun rintik, Kalageni berteriak dengan murka. Parasnya masih diliputi amarah, karena Jalak Biru begitu saja menimbulkan arena pertempuran. Sementara pandangannya berpaling kepada Kalagendis yang tergeletak di tanah karena terluka akibat cenkeraman Jalak Biru. Wanita itu terlihat lemah, sehingga Kalageni tak tinggal diam. Sejenak ia lupa akan Panji Panuluh yang ternyata juga menghilang. Rupanya bocah kecil itu sengaja meninggalkan tempat pertempuran, saat pertikaian terjadi. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Panji Panuluh. Ia mengambil kitab yang sebelumnya ia sembunyikan di balik semak-semak, kemudian mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu. “Bertahanlah Kalagendis! Kau akan selamat!” Kalageni segera memegang tubuh Kalagendis yang terbaring di atas tanah. Wanita itu hanya menggeleng, menahan sakit yang teramat sangat pada lukanya. “Aku ... aku tak akan bisa bertahan, Kalageni!” “Tidak Gendis! Kau akan bertahan. Aku akan membawamu ke tabib  terkenal di Kotaraja. Kau akan sembuh. Kau tidak akan mati seperti Kalasoka. Bertahanlah! Kau akan baik-baik saja!” Kalageni melihat dari ujung mulut Kalagendis mulai mengucurkan darah yang menghitam, pertanda wanita itu sedang terluka di bagian dalam tubuhnya. Ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Gerakannya melemah, dan napasnya mulai tersengal. Ia mengambil sebuah sisir berwarna gading dari rambutnya, kemudian memberikan pada Kalageni. “Sisir gading ini milikmu, Kalageni. Balaskan dendamku pada Jalak Biru. Aku ingin dia mati dan merasakan penderitaan sama dengan apa yang aku alami .... “ Kalageni menerima sisir itu dengan perasaan sedih. Paras Kalagendis memucat, dan sesaat kemudian wanita itu tak bergerak-gerak lagi. Luka yang dialaminya cukup parah, sehingga ajal menjemputnya dengan cepat. Kalagendis tewas dengan mata masih terbelalak menatap ke arah langit. Kalageni hanya bisa menahan napas, sembari menutup mata wanita yang berada dalam pangkuannya. Hatinya terbakar dendam yang begitu membara. Ia bersumpah akan memburu Jalak Biru, kemana pun dia berada, untuk menuntaskan dendamnya yang berkobar. “Nyawa dibayar nyawa, Jalak Biru! Kukejar kau kemana pun berada!” pekik Kalageni disambut dengan gelegar kilat yang sambung-menyambung. ***    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD