Derai gerimis mengguyur bumi. Langit gelap, awan hitam bergulung-gulung memenuhi angkasa. Sesekali terdengar suara guntur bergemuruh di kejauhan, disertai lecutan kilat yang menyilaukan. Sosok pria tegap tampak baru saja keluar dari sebuah hutan lebat, menyusur jalan yang gelap. Ia memanggul seorang bocah kecil dalam keadaan pingsan di pundaknya. Langkahnya begitu tergesa, tak mempedulikan guyuran air yang turun semakin deras menerpa tubuh.
Suasana jalan setapak begitu lengang, hanya suara kodok bersahut-sahutan di rawa-rawa yang tak jauh dari situ. Binatang-binatang itu bersuka-ria menyambut rinai hujan. Sosok yang tak lain adalah Arya Balawa atau yang juga dikenal dengan Pendekar Mata Iblis itu, rupanya tengah dalam perjalanan menuju Alas Purwo setelah berhasil membawa Kumbara. Awalnya, ia mengira bahwa Kumbara membawa kitab Wasiat Iblis yang selama ini dicari-cari. Namun setelah menyadari kalau Kumbara bukanlah si bocah pembawa kitab, ia mempunyai rencana lain.
Rasa penat rupanya juga mulai mendera kedua kaki pendekar beraliran hitam itu. Arya Balawa mencari tempat yang tepat untuk sekadar melepas lelah. Sejauh mata memandang ia hanya melihat pepohonan di tepi jalan, dan juga rawa-rawa yang luas. Kabut tipis menyelimuti permukaan rawa, sehingga menambah keangkeran tempat itu. Beberapa saat kemudian, matanya tertuju pada sebuah gubuk kecil di tengah rawa. Gubuk itu terlihat tak terawat, tetapi sepertinya bisa digunakan untuk beristirahat barang sejenak.
Setiba di gubuk, Arya Balawa meletakkan sosok Kumbara yang terlihat lemah, seraya duduk di lantai gubuk yang terbuat dari bambu sambil menatap kejauhan. Tiba-tiba matanya menangkap sosok hitam berkelebat dalam gelap malam, menembus derai air yang turun dari langit. Arya Balawa memicingkan mata, menatap sosok hitam yang berjalan cepat mendekati gubuk.
Setelah cukup dekat, Arya Balawa mengenali bahwa sosok yang mendekat itu adalah Jalak Hitam. Rupanya salah satu anggota Gerombolan Jalak Lembah Hantu itu berhasil lolos dari maut, setelah sebelumnya kedua rekan Jalak Hitam yakni Jalak Merah dan Jalak Hijau menemui ajal di tangan Dewi Selendang Merah. Berita kematian para anggota gerombolan itu mulai santar terdengar di dunia persilatan.
Arya Balawa dan Gerombolan Jalak Lembah Hantu sudah saling kenal sejak lama. Mereka berdua sering bertandang ke Padepokan Tapak Seta*n yang berada di Alas Purwo. Padepokan ini adalah tempat berkumpul para jawara beraliran hitam di Pulau Jawa. Mereka memperdalam ilmu untuk menguasai jagad persilatan, sehingga nama mereka begitu tersohor. Dalam setiap Pagelaran Adu Tanding, nama-nama pentolan jawara dunia hitam kerap ditakuti para jawara yang lain.
Jalak Hitam yang telah tiba di gubuk tampak gusar. Kegelisahannya itu sudah dapat dibaca oleh Arya Balawa. Ia berpikir, tentu kali ini Jalak Hitam membawa kabar yang tak begitu baik.
“Yang membawa kitab Wasiat Iblis itu bukan bocah ini, tetapi bocah satunya,” ucap Jalak Hitam, setelah ia duduk di lantai gubuk bersama Arya Balawa.
Arya Balawa hanya duduk bersila dengan tenang, sementara Jalak Hitam tampak menggigil kedinginan karena sekujur tubuhnya basah diguyur air hujan.
“Hmm, aku sudah tahu itu. Ini karena kau memberikan kabar yang salah Jalak Hitam! Si pembawa kitab itu sudah berhasil kabur dan berita buruknya, kudengar saudara-saudaramu yang lain mampu*s di tangan Dewi Selendang Merah. Menghadapi perempuan saja kalian tak becus, lalu bagaimana kalian akan ikut Pagelaran Adu Tanding nanti?” cibir Arya Balawa sambil melirik ke arah Jalak Hitam.
“Perempuan itu akan menemui ajalnya dan aku akan memburunya sampai ke ujung bumi sekali pun. Ia harus membayar semua yang dilakukannya pada Jalak Merah dan Jalak Hijau. Saat ini Jalak Biru tengah memburu keberadaan bocah bernama Panji Panuluh itu. Kudengar ia bergerak menuju lereng Gunung Sindoro yang angker itu. Kalau bocah itu berhasil ke Sindoro, tentu langkah kita akan semakin sulit, karena aku dengar di lereng gunung itu berdiam seorang yang teramat sakti bernama Ki Lodaya. Kita harus menghentikan langkah bocah itu segera!” ucap Jalak Hitam.
Arya Balawa mengatupkan dua rahangnya kuat-kuat. Ia terlalu sering mendengar nama Dewi Selendang Merah disebut. Sepanjang pengetahuannya, perempuan itu tak bisa dipandang sebelah mata. Ia seorang pendekar perempuan yang dikenal karena sabetan selendang mautnya, dan tentu parasnya yang jelita. Tentu bukan perkara mudah untuk mendapatkan kitab yang dibawa Panji Panuluh. Apalagi jika Ki Lodaya juga sudah mulai turun tangan.
Selama ini, jagad persilatan mengenal Ki Lodaya adalah dedengkot dunia persilatan yang sakti mandraguna. Sosok tubuhnya memang renta, seperti orang tua pada umumnya. Namun, siapa yang menduga kalau di balik tubuh renta itu tersimpan kekuatan yang tak pernah dibayangkan? Arya Balawa berpikir, bahwa untuk mendapatkan kitab itu tak boleh mengandalkan kekuatan semata. Apalagi kalau hanya sekadar Jalak Biru yang melawan, tentu akan sangat mudah dilumpuhkan.
“Kita harus pakai taktik!” ucap Arya Balawa kemudian.
“Taktik? Taktik yang seperti apa?” tanya Jalak Hitam.
“Tipu daya! Kita harus lebih pintar. Mengandalkan Jalak Biru atau pun dirimu untuk merebut kitab itu tentu sia-sia. Kupastikan kau akan mampu*s di tangan perempuan itu. Kau harus menggunakan taktik untuk mengambil kitab dari tangan si bocah. Ingat! Bukan hanya kita yang menginginkan kitab itu, tetapi banyak pendekar yang akan berlomba-lomba pula mendapatkannya. Tentu hal itu tidak mudah. Kau harus pintar mencari celah!” kata Arya Balawa.
Jalak hitam berpikir sejenak, mencoba memahami apa yang dikatakan Arya Balawa. Ia menyadari kemampuan dirinya saat ini sedang melemah, karena para anggota gerombolan lain telah tewas. Mengandalkan Jalak Biru tentu juga tidak bisa. Ia harus mencari cara untuk mendapatkan kitab itu, jangan sampai ada pendekar lain yang merebutnya, walau dengan cara licik.
“Aku akan minta bantuan seseorang,” gumam Jalak Hitam.
“Ya, karena aku yakin kau memang tak bisa melakukan sendiri. Banyak pendekar busuk di jagad persilatan ini yang bisa kau ajak. Jangan sungkan! Kau pasti menemukan satu dari mereka. Lakukan segala cara! Aku tidak mau gagal, demi kejayaan Padepokan Tapak Seta*n! Aku harus segera melanjutkan perjalanan ke Alas Purwo bersama bocah ini. Firasatku mengatakan bocah ini akan menjadi jawara yang tak bisa dipandang sebelah mata di masa depan! Aku bersumpah, aku akan menjadikan bocah ini sebagai seorang jawara tanpa tanding, agar d******i pendekar putih di jagad persilatan segera berakhir!”
Blaar!
Tiba-tiba kilatan petir menerangi angkasa, dan selarik lidah api menyambar sebuah ranting pohon tak jauh dari gubuk. Tak lama kemudian, diikuti suara dentuman keras dari arah langit, sehingga membuat bumi terasa bergetar. Jalak Hitam menahan napas. Hatinya terasa kecut mendengar dentuman itu.
“Bahkan alam pun seolah mendengar permintaanku. Hmm, ini pertanda bagus! Kau jangan membuang waktu terlalu lama, Jalak Hitam. Malam ini juga kau lacak keberadaan Jalak Biru dan segera kau atasi si Panji Panuluh! Jangan sampai keduluan jawara lain. Siapa pun yang menghalangi, kau singkirkan saja! Kita tidak punya banyak waktu lagi. Pendekar Tanpa Nama sudah menemui ajal, dan berikutnya kita akan menghabisi mereka semua!” ucap Arya Balawa.
Suara dentuman itu, rupanya juga mengagetkan Kumbara yang tak sadarkan diri. Bocah itu perlahan membuka mata. Ia terkejut mendapati dirinya berada di dalam gubuk di suatu tempat yang gelap dan sunyi. Ia melihat di sebelahnya duduk Arya Balawa dan Jalak Hitam. Ia berusaha mengingat kejadian sebelumnya, saat ia diculik oleh Arya Balawa saat menunggu Panji Panuluh di batas kampung.
Sebenarnya Kumbara ingin berbicara, tetapi lidahnya terasa kelu. Ia sadar, saat ini tengah bersama dengan pendekar tangguh yang tak biasa. Ia takut untuk berbicara, apalagi dilihatnya sosok Jalak Hitam di sana. Ia hanya beringsut, sementara Arya Balawa meliriknya tajam.
“Kau sudah sadar rupanya. Beberapa hari lagi kita akan sampai di Padepokan Tapak Seta*n! Tak perlu risau. Kau akan mendapatkan apa saja yang kau butuhkan di sana. Memulai hidup baru dan belajar. Kau akan jadi raja dunia, jadi kau tak perlu takut kepadaku. Kelak kau akan berterimakasih karena aku membawamu pergi dari kampung miskin itu!” ucap Arya Balawa.
“Pa-panji ... di mana dia?” gumam Kumbara.
“Hmm, hapus nama itu dari otakmu. Mungkin dia tak akan peduli padamu lagi atau mungkin dia sudah mampu*s dimakan binatang buas atau dibunuh oleh pendekar bengis di luar sana. Yang ada di pikiranmu sekarang hanya kekuatan tiada banding yang akan kuajarkan kepadamu, agar kau bisa menguasai dunia. Tak perlu kau berpikir macam-macam!” tegas Arya Balawa.
“Tapi .... “
“Sudahlah! Lebih kau beristirahat karena besok perjalanan kita akan sangat panjang. Pagi-pagi kita akan pergi ke timur. Kita tunggu malam ini agar cepat berlalu, dan jangan membantah lagi apa pun yang kuucapkan!”
Kumbara terdiam. Ia tak berani bertanya apa-apa lagi. Namun, pikirannya terus berputar-putar, memikirkan kejadian-kejadian yang terjadi begitu cepat dalam hidupnya. Semua berubah begitu cepat. Ia ingin menyesali, tetapi semua sudah terlambat. Panji Panuluh, sahabat kecilnya itu tiba-tiba menampakkan bayangan, seolah-olah di depan mata. Ia berusaha memejamkan mata saat deru angin mulai menggigit kulit. Malam kian sunyi, bahkan kodok-kodok di empang juga mulai berhenti bernyanyi. Dalam risau, ia tetap tak bisa memejamkan mata, sampai dini hari menjelang.
***