“Masih sakit, ya?” Tama meringis saat Rhea meringis, duduk tak nyaman di kursinya. “Maaf,” ucapnya pelan. Ya, bagaimana dia tak merasa bersalah? Memang dia melakukannya atas keinginan dan izin Rhea, tapi tetap saja melihat gadis itu belum terbiasa, meringis sakit membuatnya tak enak hati, merasa bersalah tapi tak bisa melupakan apa yang mereka lakukan semalam. Pada pengalaman pertama yang penuh ragu, tapi akhirnya tetap menyatu. “Nggak apa-apa. Aku obati juga nanti,” kata Rhea setenang mungkin. “Memangnya bisa diobati?” Sebelas alis Tama terangkat, heran. “Entah.” Rhea menyahut, menghindari tatapan pria itu. Pipinya terasa panas. Dia malu dengan apa yang terjadi semalam. Sepanjang ritual mandi tadi, Rhea merutuki dirinya yang larut dalam kabut hasrat. Mereka sama-sama sadar saat m

