Malam itu, cahaya lampu kota masuk lewat jendela besar apartemen Rhea, membentuk garis keemasan di dinding. Rhea baru saja keluar dari kamar mandi, rambutnya masih lembap, hanya mengenakan kaus tipis dan celana pendek rumah. Dia tampak terkejut melihat Tama sudah duduk di sofa, jasnya terlepas, dasinya terurai longgar, ekspresinya letih namun matanya langsung melunak begitu menatapnya. “Kau sudah datang?” Rhea tersenyum kecil, mendekat sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Tama tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya meraih pergelangan tangan Rhea, menariknya duduk di pangkuannya. Gerakan tiba-tiba itu membuat Rhea terkikik, hampir kehilangan keseimbangan, tapi tubuh Tama menopangnya erat. “Ada apa? Kau terlihat seperti baru saja berperang,” ujarnya lembut. Padahal Rhea tahu, Ta

