25. Kecupan Singkat Tama

1130 Words

Dia menghala napas saat menyadari Rhea tidak seperti biasanya yang senang sekali adu mulut, mengelak, menyindir serta sebagainya. Dia hari ini banyak diam, tampak sensitif pula. “Kalau begitu, izinkan aku untuk ada di sisimu. Setiap kali kau keluar dari ruangan ini, aku akan pastikan kamu nggak sendiri.” Rhea menghela napas panjang. “Aku nggak minta kau melindungiku, Tama. Aku cuma nggak mau orang mengira aku merebutmu dari orang lain. Aku nggak sanggup dicap seperti itu, lagi.” Tama berdiri, menunduk mendekat, menatapnya lekat. “Kita nggak perlu membuktikan apa-apa ke mereka. Yang penting kau tahu, aku memilimu bukan karena katar belakang, penampilan atau apapun. Bukan karena kasihan, bukan karena terpaksa. Tapi karena aku mau, dan karena hatiku mau.” Kalimat itu membuat d**a Rhea te

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD