“Momyyyy!” Suara nyaring seorang anak laki-laki di lorong rumah sakit area naratama yang sepi itu mengejutkan Rheana.
Belum sempat Rheana menghindar agar anak kecil itu lewat dengan aman, dia dikejutkan dengan pelukan si anak pada kakinya. Dia melirik Hanin kebingungan.
Kedua alis Rheana terangkat, bingung sambil menunduk, menatap pada kakinya yang dipeluk anak kecil itu.
“Momy.” Senyum si bocah lucu sekali dengan gigi putihnya yang kecil dan terawat. Anak itu tampak ceria.
“Adik kecil, kamu siapa?” Rheana bertanya sambil berjongkok. Dia menoleh ke depan, belakangan, kanan dan kirinya yang sepi, hanya ada dia, Hanin, dan anak itu.
“Momy.” Bukannya menjawab, anak itu malah mengulang panggilan yang membuat Rheana makin bingung.
“Momymu mana?” Rheana bertanya. Kedua tangannya menahan lengan anak itu yang kisaran usianya lima tahun.
Tapi si anak hanya nyengir lucu. Rheana ikut nyengir.
“Ibumu mana?” Rheana mengulang pertanyaan.
“Momy.” Justru telunjuk anak itu yang mengarah pada Rheana, membuatnya menelengkan kepala ke kanan, semakin bingung saja.
“Saya?” Rheana berharap itu salah, dia terlalu percaya diri bukan? Dia mendongak, menatap Hanin yang masih berdiri, tapi rekannya itu hanya mengedikkan bahunya.
Anak itu justru mengangguk cepat dan berulang. Mata Rheana mengejerjap. Ada binar indah di kedua mata polos itu.
“Kenapa?” Rheana bertanya lagi, sedikit meladeni anak itu. Siapa tahu bisa mengantarkannya pada orang tuanya nanti.
“Papa bilang, yang menyelamatkannya itu Momy. Jadi, Momy … peluk.” Senyumnya begitu polos dan lucu. Untuk Rheana yang biasa bicara dengan anak kecil, bahkan dikelilingi dia menerima anak itu dalam pelukannya, mengusap lembut meskipun ada sebuah tanya besar dalam kepalanya.
“Papa kamu mana?” Rheana bertanya usai melepas pelukan itu.
“Papa sakit,” jawabnya singkat. Rheana mengejerjap, dia makin bingung saja. Terlebih ketika wajah mungil itu mengingatkannya pada seseorang.
“Tuan muda!” Seseorang datang memanggil, sosoknya muncul tak lama kemudian. Pria dengan setelan formal yang tampak masih muda itu berlari kecil menghampiri anak tersebut. “Astaga. Tuan muda, Anda dari mana saja? Direktur sudah sadar dan mencarimu,” kata pria itu yang ikut berjongkok di depan anak tersebut.
Mendengar itu, Rheana bangun dari bongkoknya tapi anak kecil itu tidak mau melepaskannya.
“Momy ikut,” katanya.
“Hah?” Rheana jelas tidak mengerti kenapa anak itu memanggilnya ibu dan memintanya ikut? Rheana bahkan merasa tak punya anak, bagaimana bisa dia melahirkan padahal tidak pernah mandi keringat dengan si b******n itu.
Tapi belum sempat Rheana bicara, seorang perawat datang menghampiri. Perawat itu melaporkan kalau pasien yang Rheana periksa tadi sudah sadar. Dia mengangguk.
“Adik kecil, maaf, saya harus pergi,” ucap Rheana seraya membungkukkan badannya agar sejajar dengan anak itu. Tangannya terangkat menyentuh kepala si anak.
“Tidak. Momy yang ikut.”
Belum sempat Rheana menolak, anak itu sudah lebih dulu menarik tangannya kuat, dan membawanya ke salah satu ruangan naratama di rumah sakit tersebut.
Siapa yang menyangka, ayah yang dimaksud bocah itu adalah pasien yang Rheana periksa. Suster yang mengikuti pun tampak heran.
“Kau sudah bangun?” Rheana menghampiri ranjang, di mana si pria terbaring.
“Aku ini pasienmu, bicaramu tidak profesional, Dokter,” balas pria itu yang kepalanya diperban.
Rheana menyipitkan mata, menatap pria itu lantas membuang napas.
“Apa yang Anda rasakan, Tuan? Bagian mana saja yang sakit?” tanya Rheana dengan nada seramah mungkin.
Pria itu malah menahan senyumnya. “Tidak ada. Tapi bagian ini sakit,” katanya menunjuk bagian d**a kirinya dengan tangan.
“Anda mengalami trauma ringan di bagian kepala. Ada pecahan kaca yang menancap di lengan dan perut, jadi kami melakukan tindakan operasi sebab di bagian perut, itu lumayan dalam dan melukai organ, untungnya tidak fatal,” jelas Rheana dengan gaya profesional seorang dokter muda. “Selain itu, kaki Anda juga mengalami luka dan patah tulang ringan, untuk beberapa waktu Anda disarankan untuk beristirahat, Tuan.”
Pria itu hanya mengangguk, tapi raut wajahnya itu membuat Rheana tampak jengkel.
“Semua tes Anda normal, tidak ada yang salah. Tapi Anda tetap harus dipantau untuk beberapa hari. Jadi, Anda adalah tangung jawab saya. Itu saja. Jika perlu sesuatu, silakan beritahu suster. Terima kasih. Saya permisi.” Itu tampak jelas sekali kalau Rheana enggan berlama-lama di sana. Dia bahkan sudah siap melangkah ketika suara berat nan serak itu bicara.
“Kau bertugas dengan pakaian seksi seperti itu, Rhe? Kau berniat menggoda setiap pasien yang menjadi tanggung jawabmu?” Sindirannya tajam juga dan membuat Rheana tampak kesal. Dia berbalik, melipat kedua tangannya di depan d**a dan menatap pria itu tajam.
Hanin yang memang ikut ke ruangan itu diam.
“Kau itu pasien, kenapa bicaramu seperti bocah?” balasnya.
Pria itu terkekeh. Tapi matanya menatap lurus pada Rheana yang tampak gondok.
“Sudah. Aku masih ada urusan. Lekas sembuh lagi dan pergilah dari sini,” katanya mengusir halus. Rheana melangkah, hendak meninggalkan ruangan itu tapi sekali lagi di langkah kedua, suara itu menghentikannya.
“Apa kabar Rheana? Kau tak rindu padaku? Aku, rindu.” Ucapannya itu membekukan seluruh persendian Rheana. “Sudah sepuluh tahun, ya? Atau lebih? Atau kurang? Tapi … kau tak berubah, masih ada sisi liar yang sangat ingin aku kendalikan sejak dulu,” lanjut pria itu.
Sialan! Rheana merutuk dalam diam. Teringat pada waktu itu.
Membuang napasnya, Rheana berbalik dan menghampiri pria itu lagi.
“Memangnya kenapa? Aku kembali, atau kau yang muncul? Itu tidak ada hubungannya, bukan?” Rheana melotot ketika pria itu malah terkekeh.
“Mungkin keduanya. Kita masih ada hal yang belum selesai, kan, Rhe?”
“Tidak ada. Semua sudah selesai ketika kau melakukan hal menjijikan itu, lalu pergi begitu saja, Tama Evander.” Rheana menekankan setiap ucapannya tapi itu malah semakin membuat pria bernama Tama Evander itu menyeringai. Jelas saja, dia menyukai taring yang Rheana tunjukkan.
“Marahmu semakin menawan saja, Rhea. Aku rindu sekali. Melihatmu sekarang, seperti menghirup udara segar bagiku.”
“Huek! Nggak usah gombal. Kau tetap b******k yang bermain dengan banyak wanita, sialan!” Rheana tidak peduli jika yang dia ajak adu mulut itu adalah pasien. Tapi sejak beberapa waktu tadi dia memang sudah kesal.
“Sambutanmu itu lain sekali, sih, Rhe. Tapi aku tetap suka,” balas Tama santai. “Dan, aku yakin kau tak lupa dengan cumbuan yang kita lakukan semalam?”
Kedua mata Rheana melebar, terkejut dengan perkataan pria itu. Dia melirik ke orang-orang yang ada di sana. Hanin menatapnya penuh curiga.
“Heh! Tama, kau —”
“Papa, kenapa buat Momy marah?” Suara polos itu menyelip pertengkaran yang memanas di antara kedua orang dewasa yang membuat suster dan seorang pria di ruangan itu berdeham canggung melihat mereka berdebat dengan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan saat ada anak kecil di sana.
Hening. Ruangan itu mendadak tidak ada suara manusia, hanya terdengar suara alat.
“Momy?” Tama mengulang apa yang diucapkan anak itu. “Siapa?” tanyanya.
“Momy,” jawab anak itu menunjuk pada Rheana.
Tama mengikuti arah telunjuk anak itu, terdiam sesaat lantas menarik senyum seringai. “Momy? Kenapa?”
“Papa bilang yang bakal selamatin Papa kalau bahaya itu Momy. Jadi, Momy di sini tapi Papa marah?” Anak itu bicara dengan polosnya tapi dijadikan kesempatan oleh Tama.
“Papa nggak marah, kok, Sayang. Momy kamu itu nggak mau peluk Papa, makanya Papa marah.”
Kedua mata Rheana membulat, melotot tajam pada Tama yang justru semakin melebarkan seringainya. Hanin menutup mulutnya, dia seakan menemukan sesuatu yang lain dari Rheana, sebuah rahasia mungkin.
“Aku? Kau bilang apa? Hei, Tama, dia bukan —”
“Momy nggak suka sama aku, ya?” Anak itu menyela dengan polos, membuat Rheana salah tingkah ketika dilihatnya air mata menggenang di pelupuk mata anak itu.
“I-itu … aku tidak … .” Rheana justru kebingungan harus menjelaskan bagaimana, terlebih ketika wajah mungil itu nyaris saja menangis. “Sayang, nggak apa-apa. Aku akan … aku harus melakukan apa?” Matanya mengerjap, cosplay jadi anak kecil sekarang.
“Peluk Papa,” kata anak itu.
“Hah?” Tentu saja Rheana shock. Harus ya peluk pria itu?
Rheana melirik pria itu yang tersenyum jahil. Melihat bagaimana wajah itu menyebalkan, Rheana justru enggan menurut. Tapi, dia sedikit banyak paham anak kecil. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, dia pasti akan menangis. Duh, Rheana bingung apa yang mesti dia lakukan?