Rhea terhenyak ketika tubuhnya menabrak d**a bidang itu. Hangat, keras, berbalut kemeja hitam yang rapi. Pandangannya mendongak perlahan, dan matanya membeku. “Tama,” suaranya tercekat, lirih. Senyum tipis menghiasi wajah pria itu, namun sorot matanya jelas menyimpan kegelisahan saat melihat wajah Rhea yang pucat dan mata yang berair. “Aku melihatmu tadi, Rhe. Kau keluar dari ruangan itu dengan wajah berbeda, apa yang mereka lakukan padamu?” tanyanya pelan, suaranya dalam dan hangat. Rhea buru-buru menggeleng, berusaha menutupi kekacauan di hatinya. “Aku baik-baik saja. Hanya, masalah pasien,” kilahnya setengah berdusta. Namun sebelum dia sempat melangkah pergi, Tama dengan lembut menahan pergelangan tangannya. Tidak menuntut, tidak memaksa, hanya sentuhan ringan yang seakan menahan d

