KU ikat tali sepatuku sekali lagi, memastikan agar tak terlepas saat berlari, mendadak diterpa rindu dengan sensasi udara sejuk pagi hari. Sudah lama berkeinginan untuk rutin berolahraga, kenyataannya sekali seminggu pun hampir tak pernah. Dengan airpods yang terpasang ditelinga, kaki ku bersemangat melangkah mengitari satu kampus bak seorang atletik.
Belum sampai seluruh fakultas tertawafi, perut ku sudah terlilit kram, seolah berontak ingin tetap menjadi kaum rebahan. Aku memilih menepi di trotoar jalan untuk menenangkan aksi mogok tak terduga ini, kemudian membuka kamera handphone, gemas sekali tangan ku ingin menjepret momen golden hour sepanjang jalan tadi. Saat tangan ku akan mengabadikan perpaduan langit yang biru bersih, seorang laki-laki berkaos putih dengan sengaja mengisi seluruh layar kamera handphone ku, menghalangi objek fotografi. Aku sedikit terkejut saat dia berhasil melepas maskernya.
“Sudah berapa putaran?” ujarnya di depan kamera handphone ku dengan senyum tertahannya.
“Hah?” aku terkejut, bagaimana mungkin dia muncul disini, bukannya baru bulan lalu dia kembali bertugas, apakah mata ku sekarang sudah mulai minus lantaran terlalu sering menatap layar laptop.
“Surprise” tambahnya dengan gerakan membuka tangan lebar.
Laki-laki itu Rais, jadi ini yang dia maksud kejutan waktu itu?
“Aku dipindahkan tugas ke Banjarmasin, Sal. Kita bakalan sering ketemu” serunya antusias. Baiklah sekarang kehadirannya disini cukup masuk akal.
Aku langsung berdiri dan membersihkan celana ku dari debu. Kemudian memasangkan lagi airpods yang sempat ku lepas, Rais yang sedari tadi mengamati pergerakan ku akhirnya ikut menyusul berlari disamping ku.
“Habis ini kamu ada rencana lagi, gak?” ujarnya sembari mengibaskan tangannya didepan wajah ku. Aku mengangkat sebelah alis. Dia menunjuk ke arah ke telinganya kemudian menunjuk ke telinga ku. Ah, mungkin dia pikir aku tidak bisa mendengar suaranya.
“Kenapa? Kamu ngomong sesuatu?” sengaja berpura-pura tidak mendengar.
“Disekitar sini ada bubur ayam yang enak, gak? Belum sarapan nih” tanya dia.
Aku berpikir sejenak, mengingat-ingat. “Ada, di komplek sebelah, tapi yang jual gerobakan, mau?” tanya ku.
“Dekat, gak?” tanya Rais.
“Dekat kok, jalan lima belas menit juga nyampe” sahut ku.
“Ya udah, hayuk” ujarnya lalu menarik pergelangan tangan ku, refleks tangannya ku kibaskan agar terlepas. Dia melirik kebingungan.
“Bukan muhrim” jelas ku, berhasil membuatnya tersenyum kikuk.
“Temenin, aku gak tau jalannya” ujarnya sembari mengangkat kedua tangannya.
***
Kalian tim bubur diaduk atau tidak? Ah lupakan pertanyaan randomku. Baru kali ini aku melihat orang makan selahap dia, macam orang yang tidak makan seminggu. Porsinya gila-gilaan, belum lagi pesanannya yang selalu request toping tambahan. Dengan semangat Rais mengaduk isi mangkoknya. Rasanya dengan melihatnya makan saja sudah membuat ku kenyang.
“Biar kecampur rata bumbunya, Sal” ujarnya dengan wajah kelaparan seakan makanannya akan direbut orang. Dia benar-benar menikmati sarapannya yang entah masih bisa disebut sarapan atau tidak, melihat porsi makannya macam kuli bangunan.
“Pelan-pelan aja kali makannya, aku gak bakalan rebut bubur kamu juga!” ujar ku sembari menghabiskan isi mangkok ku.
“Beneran enak, Sal, kaldunya berasa banget. Kamu sering sarapan disini?” tanya Rais melahap mangkok kelimanya.
“Gak juga, kalo lagi malas aja baru kesini” jawabku.
“Kalo gitu sering-sering aja malasnya, ntar aku temenin deh” sahut Rais sambil mengedipkan sebelah matanya.
Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya aku berhasil pulang sendiri menggunakan motor ku. Sebenarnya aku tidak ingin dia mengetahu lokasi tempat tinggal ku. Membayangkan dia yang tiba-tiba muncul di depan kostan saja sudah sangat menggelikan, apalagi benar kejadian.
***
Perpaduan antara aroma citrus dengan aroma terapi benar-benar menenangkan, ritual wajib yang baru-baru ini mulai ku sukai yaitu memasang diffuser dan bersantai di kasur, seluruh ruang kamar benar-benar segar saat aku selesai mandi. Aku membuka aplikasi forest dan memasang airpods, suara kicauan burung dan air yang mengalir benar-benar membuat suasana semakin calming. Aku mengambil buku rich dad poor dad, hasil rekomendasi bacaan dari akun i********: pasal literasi percuanan, ini penting sekali terutama bagi mahasiswa seperti ku. Pada dasarnya aku memang suka membaca, tapi masih selevel novel dan komik saja. Khusus untuk sekarang, karena sudah semester akhir juga, jadi aku mencoba menaikkan level bacaan seperti ini. Selain memang membutuhkan informasi yang lebih konkrit untuk bekal terjun kedunia nyata, bacaan yang isinya ‘daging’ ini sangat bagus dijadikan sebagai panduan menata finansial agar tidak melarat dimasa depan.
Sesekali aku menyesap es kopi yang ku taruh diatas rak kecil samping tempat tidur, perpaduan kopi dan krim susunya mantap sekali, investasi jangka kilat untuk mendukung misi menyelesaikan buku setebal 240 halaman. Saking cepatnya efek kafein ini hilang tertelan rasa kantuk, mata ku akhirnya perlahan menutup, beruntung suara adzan zuhur lebih dulu berkumandang, sehingga jiwaku batal terlempar kedimensi alam bawah sadar. Ku lihat buku yang tengah k*****a sudah tergeletak dilantai dengan keadaan terbuka, aku meringis melihatnya. Ternyata membiasakan hal baru tidaklah mudah. Ku bereskan barang-barang yang berserakan dilantai lalu berjalan mengambil air wudhu.
Drrt … drrt ...
Dering handphone terus bergetar mengusik tidurku yang terlanjur nyenyak, rupanya pelupuk mata ini memaksa istirahat meskipun masih berada diatas sajadah lengkap dengan mukena yang masih melekat. Tangan ku mencari benda yang terus bergetar itu, sebuah panggilan dari nomor yang tidak ku kenal. Masih dalam keadaan mata terpejam ku angkat panggilan itu.
‘Assalamu’alaikum, Kamu dimana?’ ujar seseorang diseberang sana. Rasa-rasanya aku mengenal suara ini.
‘Halo? Kamu gak lupa kan, jam tiga ini kita ada rapat?’ tambahnya lagi.
Mendengar itu mata ku langsung terbuka lebar,
“Oh iya, rapat!” ujar ku mengulangi pertanyaan orang diseberang sana. Aku benar-benar lupa soal rapat, segera aku bersiap setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 03.00 PM. Sebelumnya aku sudah memutus telepon orang diseberang sana yang ternyata adalah Zico.
***
“Untuk Tim konsumsi beranggotakan Wiwid, Salwa, Sulis dan Rini, kalian satu tim ya. Nanti kalian list aja berapa budget yang dibutuhin trus kasih kebendahara biar dananya segera dicairkan”,
“Untuk hari H, kita kumpul dicamp aja dulu, berangkat ke lokasinya nanti konfoian aja”,
“Lalu Tim dokumentasi saya ingatkan lagi, saat pengambilan fotonya usahakan tidak secara terang-terangan, sebisa mungkin jangan sampai membuat yang dibantu tersinggung, meskipun kita perlu bukti fisik untuk dilaporkan ke donator”,
“Tim humas pastikan sudah lapor dulu sama ketua RT atau kepala desa disana, kita harus tetap sopan berkunjung ke desa orang meskipun niat kita baik”,
“Dan gak ada capeknya saya ingatkan, untuk semuanya usahakan datang on-time ya, semangat dan terus infoin digrub progresnya, kalau ada kendala jangan sungkan buat konsultasi” ujar bang Dayat menutup rapat kali ini, pernyataannya barusan berhasil membuat kepala ku sedikit menunduk lantaran merasa tersindir.
Ini proker pertama ku setelah bergabung di komunitas MRI, proker kali ini bernama Gajuba, Gerakan Jum’at Baik. Tujuan proker ini untuk berbagi dengan sesama, sesuai hasil rapat, kegiatan yang akan kami lakukan yaitu bagi-bagi makanan untuk masyarakat sekitar yang membutuhkan.
Semangat ku tiba-tiba menggebu, seperti ada panggilan nurani untuk membantu, apa ini yang dimaksud lingkungan membawa pengaruh pada kepribadian seseorang? Aku bersiap pulang, saat seseorang mengetuk bahu ku, dia nampak ragu-ragu,
“Nanti boleh nebeng gak, Sal?” tanya gadis berkerudung merah muda. “Minggu depan motor ku kepake sama bapak buat jualan, kira-kira kamu keberatan gak?” jelas Rini.
“Bisa kok, nanti mau ku jemput ke rumah?” tanyaku.
“Gak usah, nanti ketemunya dicamp aja, berangkatnya aku masih bisa diantar bapak, soalnya searah” sahut Rini.
“Oke deh, Rin, sampai ketemu minggu depan!” seru ku.
“Makasih banyak ya, Sal” ujarnya ku balasi dengan anggukan.
Sepulang rapat Gajuba aku tak langsung pulang ke kostan dan melipir ke siring Banjarmasin. Bersantai diantara para pedagang yang mulai ramai membuka jualannya. Aku baru ingat, ini malam minggu, banyak rombongan keluarga berdatangan untuk bertamasya diakhir pekan, mereka menaiki kapal menyusuri sungai martapura. Memang tidak secantik kota Venesia, tapi bisa ku katakan kalau sungai ini kw kesekiannya sungai Thames, dengan kearifan lokal tersendiri versi Banjarmasin yang tidak akan kalian temukan dimanapun.
Hari semakin gelap, lampu-lampu dijalan sudah mulai kerlap-kerlip, dan jalan raya dipenuhi dengan muda-mudi yang sedang bermalam mingguan, entah dengan pasangannya atau dengan teman-temannya. Aku berdiri mencari masjid terdekat untuk melaksanakan sholat magrib.
“Salwa?” ujar seseorang menegurku saat akan memasangkan helm.
“Eh? Zico, kenapa ada disini?” sahut ku.
“Kebalik, harusnya aku yang nanya gitu, kenapa belum pulang? Mau malam mingguan?” tanya Zico bertubi-tubi.
“Gak lah! Kalo orang ke masjid itu, ya pasti mau sholat, emang mau ngapain?” tanya ku balik.
“Ya, kali aja numpang ke toilet” ujarnya tertawa kecil, “Bercanda, jadi kenapa belum pulang?” tanyanya lagi.
“Jalan-jalan bentar, mumpung masih semester akhir, ntar kalo udah wisuda bakalan jarang banget bisa jalan-jalan disini” sahut ku.
“Nikah sama orang BJM aja, Sal, auto sering disini kamu atau malah pindah domisili sekalian” ujarnya masih becanda.
Saat akan membantah ucapan Zico, tak sengaja mata ku menangkap sesosok laki-laki berseragam hijau loreng, itu Rais! Dia berjalan menuju parkiran. Aku malas bertemu dengannya lagi.
“Ide bagus” sahut ku seadanya, memilih tidak memperpanjang perdebatan dan buru-buru ku hidupkan motorku, “Duluan, ya, Assalamu’alaikum”. Lalu meninggalkan Zico diparkiran.
***