Walaupun masih marah pada Byunggyu, Bomin tetap memenuhi janjinya untuk membantu bocah itu dalam misinya. Byunggyu sendiri masih bersikeras kalau bukan dia yang menyarankan film itu pada Byungjin. Tapi Bomin tak peduli. Ia terlalu marah untuk mendengar penjelasan Byunggyu.
"Kak Bomin! Berhenti memasang wajah seperti itu!" marah Byunggyu.
Bomin tak peduli. Ia terus memasang wajah cemberut sambil bersedekap. Benar-benar tak seperti Bomin yang biasanya yang selalu tersenyum seperti orang bodoh di depan Byunggyu.
"Kalau tak percaya, ayo kita tanyakan pada ayahku." Byunggyu meraih tangan Bomin dan menyeret gadis itu ke parkiran.
Tanyakan pada Byungjin? Oh tidak! Bomin belum siap untuk bertatap muka dengan Byungjin. Ia pasti sudah dicap sebagai gadis m***m.
"Ayah! Ayah!" panggil Byunggyu.
Byungjin yang menunggu anak-anaknya di dalam mobil seperti biasa menatap Byunggyu sambil tersenyum. Taeoh sendiri sudah lebih dulu menunggu dalam mobil.
Byunggyu dan Bomin masuk ke dalam mobil. Kali ini Taeoh yang duduk di depan. Dan Bomin bersyukur untuk itu.
"Ayah, soal flashdisk yang kau hadiahkan pada Kak Bomin itu, aku menyarankanmu mengisinya dengan drama kan?" tanya Byunggyu.
"Ya, yang flashdisk kelinci itu kan?" tanya Byungjin memastikan.
"Tunggu dulu! Kau memberiku flashdisk panda." ucap Bomin heran.
"Apa? Aku ingat dengan jelas flashdisk itu berbentuk kelinci. Benarkan Taeoh-ya?" tanya Byungjin pada Taeoh.
Taeoh mengangguk sebagai balasan dari pertanyaan Byungjin. Bomin jadi bingung. Lalu flashdisk yang ada padanya itu milik siapa?
"Memangnya flashdisk yang ada padamu itu apa isinya Bomin-ah?" tanya Byungjin.
"Kalau aku jadi kau, aku takkan menanyakan hal itu, Kak." Bomin tersenyum kecut.
Byunggyu tertawa. Baiklah lupakan saja masalah flashdisk itu. Biar jadi rahasianya, Bomin, Eunjin dan Junso. Ini akan jadi kartu asnya bila menginginkan sesuatu dari Bomin nantinya. Karena bila ia menceritakan hal ini pada ayahnya, Bomin pasti takkan punya muka lagi untuk bertemu dengan ayahnya.
Sementara itu, Taeil yang mengintip mereka hanya berdecak kesal. Bomin tetap bertemu dengan Byungjin? Ahh, apa Bomin benar-benar sudah berubah dari Bomin yang ia kenal? Setahunya Bomin adalah orang yang cenderung menghindari masalah dan segala sesuatu yang membuat gadi itu malu. Tapi sekarang? Ahh, sepertinya ia harus membuat rencana baru lagi.
***
Wooseok menunggu Taeoh, Byunggyu dan juga Bomin di depan gerbang sekolahnya dengan tidak sabar. Ia ingin pergi ke apartemen Byunggyu tadi untuk bertemu Bomin bila tak ingat kalau gadis itu melarangnya. Padahal ia rindu setengah mati pada kakak kesayangannya itu.
"Wooseok-ah!" panggil seseorang.
Wooseok menoleh. Dan langsung melotot melihat siapa yang memanggilnya. Oh tidak! Gadis genit yang selalu mengejar-ngejarnya sudah kembali bersekolah. Bagaimana ini?!
Gadis genit itu datang bersama Gaeun. Setahu Wooseok, gadis itu sedang liburan bersama orang tuanya ke Belanda dan izin tidak hadir ke sekolah selama satu bulan. Ini baru dua minggu berlalu. Kenapa gadis ini ada di sini?
"Pagi Wooseok-ah! Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja? Pasti tidak karena dua minggu ini kau tak bertemu denganku. Tenanglah, obat rindumu sudah datang khusus untukmu!" ucap gadis genit itu ceria.
Di samping gadis genit itu, Gaeun menggembungkan pipinya menahan tawa yang hampir menyembur. Wooseok melotot pada Gaeun. Sahabatnya itu tertawa di atas penderitaannya! Menyebalkan!
"Pergilah Nayoung-ah." usir Wooseok singkat.
"Eh? Kenapa? Apa kau marah karena aku terlalu lama meninggalkanmu? Kumohon jangan marah. Aku janji akan bersamamu terus hari ini untuk menebus kesalahanku." ucap Nayoung lagi.
Wooseok menghela nafas. Memberi kode pada Gaeun untuk membawa sahabatnya itu pergi. Tapi Gaeun malah mengendikkan bahu dan kembali tertawa.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka. Wajah Wooseok yang tadinya mendung seketika cerah. Saat Byunggyu, Taeoh dan Bomin keluar dari mobil itu, Wooseok segera menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Pagi, Kak Bomin!" sapa Wooseok.
Bomin hanya meliriknya sekilas. Lalu kembali acuh.
Nayoung sendiri menyadari aura Wooseok yang seketika berubah. Ia menatap Bomin heran. Siapa wanita ini?
Bomin yang sadar Nayoung menatapnya pun tersenyum ramah pada gadis kecil itu. Menurut Bomin, gadis yang sepertinya seumuran dengan Byunggyu itu benar-benar manis. Apa itu teman Byunggyu, Gaeun dan Wooseok?
"Hai, kau temannya Byunggyu ya?" sapa Bomin pada Namjoo.
"Sudah tahu tapi masih bertanya." ketus Nayoung.
Jleb...
Sepertinya Bomin menemukan Byunggyu kedua.
***
Setelah Bomin pergi, sikap Wooseok kembali menjadi tak acuh. Itu menyebalkan bagi Nayoung. Kalian tahu? Nayoung bahkan mempercepat kepulangannya ke Korea khusus untuk Wooseok. Tetapi Wooseok malah mengabaikannya. Sangat berbeda bila Wooseok bersama kakak perempuan yang bernama Bomin itu.
"Hei Gaeun-ah, apa kau mengenal Eonni yang bersama Byunggyu tadi?" tanya Nayoung.
"Eum, ya. Itu Kak Bomin. Dia cantik bukan?" puji Gaeun.
"Tidak, biasa saja lebih cantik aku. Apa kau tahu hubungannya dengan Wooseok?" tanya Nayoung.
Gaeun berpikir sebentar, tidak langsung menjawab pertanyaan Nayoung. Haruskah ia memberi tahu Nayoung? Tapi kalau Nayoung mengamuk bagaimana?
"Eh, Kak Bomin itu ... Ah, bagaimana menjelaskannya ya? Eum, dia tetangga Byunggyu dan Taeoh tapi mereka sangat dekat dengan Kak Bomin. Ia hanya dekat dengan Wooseok karena Wooseok sahabat Byunggyu." jelas Gaeun. Dia tidak berbohong, kan? Bomin memang tetangga Byunggyu dan Wooseok dekat dengan Bomin karena Byunggyu.
Nayoung mengangguk-angguk mengerti. Wajahnya kembali cerah.
"Kau lihat ini?" Nayoung mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Coklat?" Gaeun menatapnya heran.
"Aku ingin mencoba menyatakan cintaku pada Wooseok lagi. Aku yakin kali ini pasti di terima!" ucap Nayoung bersemangat.
Gaeun menatap Nayoung khawatir. Tapi ia memilih diam. Bagaimana bisa anak berusia sepuluh tahun terlibat cinta-cintaan seperti ini?
***
Nayoung menghampiri Wooseok dengan riang. Ia siap untuk menyatakan cintanya.
"Hai Wooseok-ah!" sapa Nayoung.
Wooseok hanya menoleh sebentar, lalu kembali berbincang lagi dengan Byunggyu. Nayoung tetap tak menyerah. Kali ini ia menyapa dengan suara yang keras.
"Hai Woseok-ah!" teriaknya.
Wooseok mengernyit dan menoleh. Ada apa lagi ini?
"Apa?"
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu." ucap Nayoung. Ia mengeluarkan coklat itu dan menyodorkannya pada Wooseok.
"Mungkin kau sudah bosan mendengar hal ini. Aku menyukaimu! Kumohon jadilah pangeranku!" ucap Nayoung tanpa ragu. Terlihat sekali ia sudah melakukan ini berkali-kali.
Wooseok menghela nafas. Mau bagaimana lagi? Ini resiko jadi orang tampan bukan?
"Berapa kali kubilang Nayoung-ah, aku tak bisa menjadi pangeranmu," ucap Wooseok, "Lagipula sekarang aku telah menemukan putri yang selama ini aku cari."
"Siapa?"
"Kak Bomin! Dia sangat cantik dan menakjubkan." ucap Wooseok sambil membayangkan wajah kakak kesayangan yang dipuja-pujanya.
Bibir Nayoung mengerucut. Ia melirik Gaeun yang sedang bermain bersama anak lainnya. Ia sebal karena sahabatnya itu membohonginya.
"Bagaimana bisa? Lagipula Kak Bomin itu lebih tua dari kita. Dan lagi, aku lebih cantik dan imut darinya." ucap Nayoung percaya diri.
Wooseok mengernyit. Ia tak suka mendengar Nayoung menghina kakak kesayangannya.
"Aku tak peduli. Walaupun kau lebih cantik, muda dan lebih waras dari Kak Bomin pun aku akan tetap memilih Kak Bomin." ucap Wooseok tegas.
Byunggyu menyikut lengan Wooseok. Saat Wooseok menoleh padanya, ia memberi kode pada Wooseok untuk diam. Byunggyu rasa ucapan Wooseok terlalu kasar, tak seperti Wooseok yang biasanya.
"Aku tak peduli. Kau mungkin memilihnya saat ini. Tapi akan kupastikan kau lebih memilihku suatu saat nanti! Aku akan menempel dengan erat seperti lem padamu hingga saat itu tiba." seru Nayoung bersungguh-sungguh.
Ia berjalan melewati Wooseok dengan kaki yang dihentak-hentakkan karena marah.
"Ini berbahaya. Akan ada perang dunia di sini. Lebih baik aku menelpon Ayah agar menyuruh Kak Bomin untuk tidak ikut menjemput kita." ucap Byunggyu.
"Jangan!" cegah Wooseok.
Byunggyu mengernyit heran. Kenapa Wooseok melarangnya?
"Aku ingin lihat, apa Kak Bomin akan memperjuangkanku seperti drama di TV? Menurutmu apakah akan ada adegan jambak-jambakan? Tarik-tarikan? Atau lebih dari itu? Huaaa aku tak sabar!" jerit Wooseok girang.
Byunggyu hanya terdiam. Ini benar-benar berbahaya! Sepertinya sahabatnya ini benar-benar gila dan tak memikirkan masalah yang akan timbul setelah ini.
***
Seperti biasa, Bomin juga ikut menjemput Byunggyu dan Taeoh. Byungjin awalnya selalu menanyakan mengapa ia selalu bersama Byunggyu dan Taeoh. Tapi karena Byunggyu tak ingin ayahnya tahu, Bomin hanya mengatakan kalau ia dan Byunggyu memiliki sebuah misi penting. Hanya anak-anak yang boleh mengetahuinya. Eh? Tunggu! Bukannya Bomin itu bukan anak-anak ya?
"Itu mereka." ucap Bomin sambil menunjuk Taeoh, Byunggyu, Gaeun dan juga Wooseok.
Eum, tunggu! Sepertinya bertambah satu lagi. Oh iya! Anak yang bernama Nayoung itu.
Bomin membuka pintu mobil untuk mereka.
"Ayo masuk." ajak Bomin.
Mereka semua masuk ke dalam mobil termasuk gadis bernama Nayoung itu. Baiklah, lagipula ini juga bukan urusan Bomin. Walaupun Bomin agak risih dengan tatapan anak itu.
"Ehm, namamu Nayoung bukan?" Bomin mencoba ramah pada Nayoung.
Nayoung hanya menoleh sebentar, lalu kembali menatap ke arah jendela. Wooseok yang kesal karena kakak kesayangannya diabaikan oleh Nayoung pun menegur gadis itu.
"Nayoung-ah, Kak Bomin sedang bicara padamu!" tegur Wooseok.
Nayoung menoleh dengan kesal. Ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah Bomin. Tangan gadis kecil itu menunjuk tepat ke arah wajah Bomin.
"Kau! Dasar selir! Beraninya kau merebut pangeranku!" marah gadis itu.
Bomin melongo, Byungjin terkejut, Gaeun menahan tawanya sedangkan Wooseok dan Byunggyu memasang wajah datar mereka.
"Pangeran?" Bomin menatap Nayoung heran. Maksudnya bukan Byungjin, kan?
"Hm, pangeran! Wooseok adalah pangeranku. Aku tak akan memaafkanmu karena berani menggodanya. Kau akan merasakan kemarahan dari putri Nayoung!" Nayoung menatap Bomin penuh dendam.
Bomin menoleh pada Wooseok. Jadi gadis kecil ini menyukai Wooseok?
"Wooseok-ah, selamat! Kau membuatku mendapatkan musuh lagi." ucapnya lemas.
****
Makassar, 19 Maret 2016