Dies Natalis Sekolah

1415 Words
Malam yang bertabur bintang menghiasi angkasa, langit seolah menampakkan keindahan yang mendamaikan suasana. Mata Luna seakan berbinar menatap indahnya langit malam itu. Kesunyian yang dirasakan malam itu mengingatkan Luna pada Rakha. Seseorang yang tiba-tiba hadir dalam hatinya dan memberikan warna baru dalam hidupnya. Seseorang yang ia sebut sebagai sang penyemangat baru. “Gilar Rakha Pradipta, entah bagaimana aku mengenalnya, dimana rumahnya aku pun tidak tahu, dia seseorang yang baru dalam kehidupanku, tapi aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hatiku.” “Lunaaa...kamu kenapa sih? Ayooo fokus sekolah, huft...!!!” Luna menggerutu pada diri sendiri, antara memikirkan Rakha dan keinginan untuk fokus belajar. Raut wajahnya menggambarkan kegelisahan hatinya. Ia mencoba mengartikan semua hal yang terjadi yang berkaitan dengam Rakha. Namun semua itu mengalami kebuntuan karena Luna belum bisa terbuka dengan perasaannya. Hari terus berganti, waktu terus berlalu dan tibalah hari dimana akan dimulai pertandingan olahraga antar kelas dalam rangka dies natalis sekolah. Hal itu diumumkan sewaktu upacara bendera dihari Senin. Acara dies natalis sekolah ini diadakan sehubungan dengan HUT sekolah, yang biasanya diisi oleh berbagai kegiatan siswa, di antaranya pertandingan olahraga antar kelas dan puncak acaranya yaitu acara syukuran sekolah berupa pengajian yang diadakan pagi hari, berlanjut acara ramah tamah di siang hari. Biasanya acara ramah tamah diisi dengan pameran kesenian, acara pentas seni, dan Live musik yang di meriahkan oleh siswa siswi dan guru, pengumuman pemenang pertandingan antar kelas beserta penyerahan hadiah, tak lupa pembagian doorprise untuk menambah keseruan dalam acara itu. Malam harinya diisi dengan acara perkemahan yang pesertanya terdiri dari seluruh siswa siswi yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah, beserta perwakilan guru yang menjadi pembina kegiatan ekstrakurikuler. Biasanya acara perkemahan dies natalis ini diadakan sebagai acara syukuran dan ramah tamah yang dikhususkan untuk membahas acara bakti sosial yang biasanya diadakan setiap HUT sekolah. Kemudian dilanjutkan pembentukan panitia bakti sosial, serta kilas balik perjuangan seluruh siswa siswi dan guru atas pencapaian prestasi sekolah dan prestasi sekolah di bidang ekstrakurikuler. Jadwal kegiatan dies natalis dan pertandingan olahraga antar kelas sudah terpampang di mading sekolah, diantara-Nya pertandingan futsal putra dan putri, pertandingan basket putra dan putri, pertandingan voli putra dan putri, serta pertandingan badminton. Jadwal pertandingan setiap hari dimulai dari jam 15.30 WIB, sampai jam 18.00, selama kurang lebih dua minggu, sehingga tidak akan mengganggu jam pelajaran di pagi hari. “Luna besok kelas kita ada jadwal pertandingan futsal putri dan basket putra, wah asyiiiik kelas kita harus kompak!” Vina sangat antusias berpartisipasi dalam pertandingan. “Pokoknya kita berikan yang terbaik untuk kelas kita, oh iya Vin, berarti tim PMR sudah disebar di masing-masing tempat pertandingan Atau keliling seperti tahun kemarin?” Luna bertanya tentang tim Palang Merah Remaja yang bertugas mengawal jalannya acara. “Tenang saja, kami sudah membentuk beberapa tim yang siap menjaga dan merawat siswa yang membutuhkan pertolongan pertama. Jadi kami sudah menyiapkan tim di tiap-tiap lapangan pertandingan.” “Mantap ,Vin.” Mereka berdua berdoa untuk kelancaran acara dies natalis sekolah. “Nanti kamu meliput pertandingan apa Luna?” “Hari ini aku meliput pertandingan di kelas Rakha.” “Ciyeeeee...uye uye...kenapa enggak bilang kelas 2 IPA 3 atau kelas Juna, hahaha...” Vina semakin meledek Luna karena Vina sudah mempunyai feeling bahwa ada sesuatu antara Luna dan Rakha. “iiiihhhhh Vina, apaan sih?” Luna gregetan sambil mencubit Vina dan raut wajah Luna mulai terlihat memerah. “Hahahaha... Ciyeeee cinlok yaaa?” Sambil tertawa cekikikan Vina terus-terusan meledek Luna cinta lokasi dengan Rakha. “iiiiih Vinaaaaa...!!! Cinlok apa sih? Sebatas teman.” Wajah Luna mulai sewot. “hahaha... Bercanda ah.” Vina mengakhiri untuk meledek Luna. Matahari siang ini begitu terasa sangat terik dibanding hari-hari kemarin. Namun teriknya matahari siang ini tak membuat resah peserta pertandingan sore hari nanti. Siang itu Luna berjalan menyusuri lorong kelas menuju halaman sekolah. Luna sangat bersemangat dan berniat pulang sekolah tepat waktu, karena Luna ingin mempersiapkan diri untuk peliputan redaksi sore nanti. Langkah Luna semakin cepat, ketika ia sampai di halaman sekolah, tiba-tiba Rakha menepuk pundak Luna dari belakang. “Luna.” “Eh...Rakha bikin kaget saja.” Kemudian Luna berhenti dan terlihat mengobrol dengan Rakha di halaman sekolah. “Oh iya nati sore kelas aku ada pertandingan futsal putra, jadi nanti aku izin buat mengikuti pertandingan, ya.” “Oke sip.” Sambil mengacungkan jempol ke arah Rakha. “Oh iya, sampai jumpa nanti sore ,ya.” Rakha berpamitan pada Luna. “Iya Rakha.” Rakha berlalu dari pandangan Luna. Dalam hatinya ia masih ingin mengobrol dengan Rakha, tetapi waktu terus melaju, Luna tak mau sampai ia terlambat pulang, akhirnya Luna melanjutkan langkah kakinya menuju halte sekolah. Sesampainya di rumah, Luna masih memikirkan Rakha, seolah Rakha itu sangat dekat dihatinya. Setelah selesai makan siang, Luna menceritakan jadwal kegiatannya untuk beberapa hari ke depan kepada Mamanya. Kemudian Luna beristirahat sebelum ia menjalankan peliputan perdananya di tahun ajaran baru. Rakha yang tengah bersiap untuk pertandingan pertamanya di sekolah barunya, sangat bersemangat, apa lagi pertandingan itu akan diliput oleh si gadis manis. Setelah sholat ashar, Rakha langsung berangkat ke sekolah, ketika sampai di tempat parkir, Rakha makin percaya diri karena ia sudah melihat Luna di halaman sekolah. Tampaknya Luna juga baru saja sampai. Tanpa basa basi Rakha langsung memanggil Luna. “Lunaaa...” Rakha melambaikan tangan pada Luna. Tampak dari kejauhan Rakha memanggil Luna, tapi Luna hanya melambaikan tangan ke Rakha, dan Rakha segera menghampiri Luna. “Hai... Rakha.” Luna tersenyum pada Rakha. Ia merasa sangat terpesona pada Rakha. Karena Rakha tampak sporty dengan kostum sepak bola. Perasaan gugup mulai menghantui Luna, telapak tangannya semakin dingin, ia berusaha menutupinya, namun Luna merasa kali ini ia tak dapat menutupi rasa gugupnya yang akan membuat salah tingkah di depan Rakha. Dari pada terlihat salah tingkah di depan Rakha, ia memilih untuk pergi lebih dahulu ke lokasi pertandingan. “Kalau kamu sudah siap langsung saja ke lapangan, oke ? Aku duluan.” Luna pergi sambil berjalan dengan sangat cepat. “Luna ,tunggu!” Rakha yang bingung dengan sikap Luna, mencoba mengejar Luna dengan mempercepat langkah kakinya. Tetapi langkah kaki Luna sangat cepat, ia selalu berdoa dalam hati agar ia diberi kekuatan untuk melawan rasa gugup itu. Namun semakin Luna terlihat salah tingkah, semakin membuat Rakha penasaran dengan perasaan Luna. Setelah sampai di lokasi pertandingan, Luna mencoba berdamai dengan hatinya. Ia duduk di tepi lapangan. Tatapan Luna seakan terpaku untuk menatap Rakha di seberang sana, saat itu Rakha dan teman-temannya sedang melakukan stratching. Jantung Luna berdebar kencang saat Rakha menatapnya dari kejauhan. Luna yang sesekali terlihat salah tingkah ketika melihat Rakha, merasa malu pada dirinya sendiri. Ia merasa sikapnya sangat konyol. Luna mencoba mendamaikan hati dan pikirannya sambil menonton jalannya pertandingan. Menit demi menit pun berlalu, namun pandangan Luna tak terlepas dari Rakha. Ia selalu menatap Rakha dalam pertandingan, hal itu sempat terlihat oleh Vina yang sedang bertugas sebagai PMR. Vina mengamati Luna yang selalu melihat Rakha, begitupun Rakha disela-sela pertandingannya, ia menyempatkan memberikan senyuman dan mencuri pandang pada Luna. Saat ini para peserta pertandingan sedang beristirahat di babak pertama. Rakha berkumpul dengan timnya, namun Rakha tahu bahwa sesekali Luna mencuri pandang pada Rakha. Saat itu pun Juna mengamati mereka, Juna merasa ada sesuatu antara Luna dan Rakha. “Bro , kamu sedang memperhatikan Luna ya?” Juna bertanya pada Rakha sambil berbisik. “Ah biasa saja Bro, aku hanya mengawasinya barangkali ia butuh bantuan, kan kita satu tim buat meliput ini.” Rakha berusaha menutupi perasaannya. “Jujur saja bro, kita kan sobat.” Juna memancing pembicaraan serius. “Kapan-kapan kita cerita, enggak enak cerita disini.” Rakha merasa hal ini sangat privasi. “Oke.” Babak kedua telah dimulai. Luna benar-benar kagum dengan Rakha ketika ia bertanding futsal. Namun lagi-lagi Luna mengakui bahwa Rakha memang terlihat tampan, smart, karismatik, dan sporty. Tetapi Bukan tipikal laki-laki idaman Luna. Karena sesungguhnya perasaan Luna masih polos, belum pernah jatuh cinta, dan mengasumsikan pria tampan itu seperti aktor drama korea atau boy band K-pop. Maklum lah karena Luna masih remaja. Namun hati tetap lah hati, saat kita merasa nyaman di dekat seseorang maka hilanglah semua kriteria dalam asumsi kita. Itulah yang sebenarnya Luna rasakan. Sore menjelang petang, pertandingan futsal laki-laki antara kelas 2 IPA 3 dan 2 IPS 1, akhirnya dimenangkan oleh kelas 2 Ipa 3. Rakha dan teman satu kelasnya sangat senang. Setelah pertandingan selesai, Luna bersiap melangkah menuju halte sekolah, karena Vina dan Juna sudah sepakat untuk pulang bersama, maka mereka berpamitan dan memberikan kesempatan pada Rakha untuk mengantar Luna. Namun Rakha terlambat, karena Prima si kapten sepak bola Like FC telah menawarkan tumpangan kepada Luna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD