Nayara begitu sibuk dengan segala macam buku mata pelajaran yang berada di depannya. Dia mengerjakan semua soal-soal yang ada di dalam buku itu dan terus mencoba walau memang akhirnya selalu mendapati kebuntuan yang akhirnya dia terhenti namun bukan untuk menyerah. Dia mencari soal lainnya untuk dia kembali kerjakan. Dan pada akhirnya hanya beberapa soal saja yan dapat dia kerjakan dari ratusan soal yang dia kumpulkan. Itu pun dia belum tahu kebenaran mengenai jawaban dari soal yang dia kerjakan tersebut.
“Nay?! Istirahat dulu deh!” Ujar Ana dengan nada berbisik karena Nayara dan dirinya saat ini sedang berada di dalam perpustakaan. Ana membawakan sebuah kantong plastik hitam yang berisikan beberapa makanan yang sengaja dia siapkan untuk makan siang sekaligus sarapan yang sempat terlewatkan oleh Nayara karena terlalu disibukkan dengan mengerjakan soal-soal yang dia kerjakan.
“Nanti!” Singkat Nayara bicara dia masih fokus pada buku dan pensilnya.
Ana menghela napas. Dia sudah kehabisan cara untuk membujuk Nayara agar tak memaksakan dirinya belajar hingga melupakan makan dan waktunya untuk beristirahat.
***
Jam bel terdengar berbunyi kembali. Nayara kembali ke kelas. Kebetulan jam pelajaran di kelas Nayara guru mata pelajarannya tidak dapat hadir karena berbagai macam alasan. Dan membuat para murid bisa berleha-leha dan saling mengobrol satu sama lain terkecuali Nayara. Dia kembali membuka buku soal yang baru dia kerjakan di perpustakaan tadi.
Hal tersebut membuat Ana sahabatnya tampak agak geram. Sebab Ana mengkhawatirkan kesehatan Nayara jika terus menerus meninggalkan jam makan dan jam istirahatnya.
“Nay! Makan dulu deh!” Paksanya sambil menyodorkan sekotak susu segar ke atas meja di hadapan Nayara. Namun Nayara tak menggubrisnya.
Ana yang sudah terlanjur sangat kesal. Tangannya mengepal. Sudut matanya melirik ke arah Ariel yang sedang fokus melamun ke arah luar jendela dengan telinga yang di tutupi oleh sepasang headset. Ana seketika bergegas berjalan menghampiri Ariel dan langsung menggebrak mejanya dengan wajah yang penuh amarah.
Ariel yang terkejut dia langsung melepaskan headset dari telinganya dan langsung melipat kedua tangannya di depan dadanya yang bidang.
“Rusuh amat lo? Gak punya sopan santun?” Ketus Ariel yang tak terima jika dirinya dibuat terkejut oleh Ana seenaknya seperti itu.
Ana tak menggubrisnya. Dia duduk di bangku depan meja Ariel.
“Lo harus tanggung jawab!” Ujar Ana dengan nada yang menunjuk ke arah Nayara yang sedang fokus berkutat mengerjakan soal yang lupa segalanya itu.
Mata Ariel seketika mengernyit. Dia tertawa sinis seperti menantang.
“Apa urusannya dia sama gue?”
Mendengar pertanyaan dari Ariel membuat Ana semakin geram dan semakin menguatkan kepalan tangannya yang terletak di atas meja di depan Ariel.
“Asal lo tahu! Dia jadi fokus belajar kayak gitu! Gara-gara lo!” Geram Ana dengan tangan yang menunjuk ke arah Nayara.
Ariel malah mendengus tertawa. Dia mendelikkan matanya. “Baguslah dia jadi rajin. Ada kemajuan buat nentuin masa depannya sendiri. Gak kayak lo yang masih gak bisa berubah!” Tandas Ariel sambil melirik sebentar ke arah Nayara yang sudah tampak berwajah pucat dan terlihat tetesan keringat didahinya.
“Lo?! Bener-bener ya!” Kesal Ana sambil menunjuk ke arah wajah Ariel yang kesal dengan sikap dinginnya Ariel yang tak mau memperdulikan sahabatnya tersebut.
“Asal lo tahu! Dia bela-belain belajar kayak gitu karena dia pengen satu sekolah sama lo di sekolah Bina Bakti! Dia gitu karena diri lo! Tapi lo?? Acuh gitu sama dia!” Tambah Ana yang meluapkan kekesalannya pada Ariel si manusia sedingin es di kutub utara.
“Gue gak pernah nyuruh dia atau siapa pun buat ngikutin gue!” Ujar Ariel seraya berdiri dan pergi meninggal Ana yang masih tampak kesal dan masih ingin meluapkan kekesalannya pada Ariel karena melihat sahabatnya yang begitu keras kepala.
Ana mendelik penuh rasa kekesalan. Kekesalan atas nama Nayara dan juga kesal karena diacuhkan oleh Ariel yang selalu bersikap dingin dan juga berhati dingin.
***
Seusai jam pulang sekolah Nayara tak langsung pulang sekolah. Dia malah langsung pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku soal untuk nanti dia kerjakan untuk berlatih ujian, semacam simulasi ujian yang dia lakukan sendiri.
Ketika dirinya usai meminjam buku. Di bibir pintu langkahnya dihentikan oleh halangan kaki Ariel yang menghadang jalannya. Seketika Nayara pun berhenti dan menatap Ariel yang berwajah datar dengan menenteng kantong plastik hitam yang hanya tekait pada jari telunjuknya saja.
“Ariel? Kamu ngapain?” Tanya Nayara yang tampak sedikit terkejut melihat Ariel yang tiba-tiba ada didepannya.
“Ini!”
Ariel menyodorkan kantong plastik itu dan menyimpannya ditumpukan buku yang tengah dibawa Nayara. Nayara semakin kebingungan. Dia menatap kembali Ariel yang tak berkata apapun.
“Ini... Dari kamu?” Tanya Nayara setelah mengintip isi kantong plastik itu yang isinya ternyata ada: dua buah roti, susu kotak, sebotol vitamin, dan sebotol air mineral. Nayara tersenyum tersipuh.
“Bukan!” Ariel dengan segera menyangkal pertanyaan dari Nayara seolah bah kebakaran jenggot. “Eu.. Itu dari Ana temen lo! Dia nitip ke gue!” Ujar Ariel sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu. Dia seperti tampak salah tingkah.
“Oohh” Mulut Nayara membentuk huruf O.
“Ya udah makasih yah!” Senyum Nayara yang kemudian langsung pergi meninggalkan Ariel yang masih salah tingkah sesekali dia tersenyum tipis lalu kembali berwajah yang datar.
***
Nayara duduk di sebuah bangku yang ada di taman sekolah. Dia menyimpan buku-buku pinjamannya dari perpustakaan disampingnya. Lalu melahap isi dari kantong plastik hitam yang diberikan Ariel padanya yang titipan dari Ana untuk dirinya.
Nayara makan dengan sangat lahap. Tampak dia seperti orang yang tak makan selama berhari-hari. Mulut Nayara mengunyah dengan makanan yang penuh didalamnya. Tak pernah hilang pula senyumannya dari wajahnya.
Dari arah kejauhan, Ariel memperhatikan Nayara yang tengah lahap makan sambil mengayun-ayun kakinya yang menggantung di atas kursi. Ariel tersenyum secara tersembunyi melihat Nayara yang tersenyum dengan riang dan membuat hatinya menjadi penuh dengan kebahagiaan.
“Woy! Ngapain lo!” Kejut Radit sambil menepuk pundak Ariel dari arah belakang. Ariel yang tampak terkejut dia dengan segera menutup tirai jendela tempat dimana dia menatap Nayara yang sedang makan. Ariel langsung menghadap Radit dan merubah wajah senyumannya dengan wajah datarnya kembali.
“Apaan sih lo?” Kesal Ariel yang tak suka dikejutkan seenaknya oleh siapapun. “Sorry sorry! Habis gue lihat lo serius banget lihat ke arah luar jendela emang ada apaan sih?” Ujar Radit dengan tangan yang bergerak mendekati jendela dan akan membuka tirainya.
“Bukan apa-apa!”
Dengan segera Ariel bergerak mengahalangi tangan Radit yang hendak bergerak mendekati jendela. “Udah sana!!” Ariel dengan segera mengusir Radit untuk menjauhi jendela dan keluar dari kelasnya. Radit memasang wajah yang penuh curiga. Dia menyipitkan matanya ketika menatap ke arah Ariel sambil menunjuk Ariel dengan jari telunjuknya.
Melihat Ariel yang gelagapan Radit mengerjainya dengan berpura-pura hendak mendekat dan membuka tirai jendela. Ariel pun dengan segera memasang kuda-kuda segera menghalangi jendelanya dan Radit pun segera pergi ketika Ariel sudah memasang wajah yang penuh dengan amarah.