Kebimbangan Nara

1000 Words
Nara tidak tidur malam itu. Bukan karena suara hujan yang terdengar berisik atau kasur tipis yang sudah lama ia keluhkan karena sudah tidak nyaman, melainkan karena satu kalimat yang terus berulang di kepalanya. "Aku butuh seseorang, sorang istri." Ia bangkit sebelum waktu subuh, dan duduk di tepi ranjang dengan mata yang sembab karena ia kurang tidur, udara pagi itu terasa lembap, yang menempel di kulitnya. Di luar, gang kecil kos masih sepi, hanya suara motor sesekali yang melintas. Nara menyalakan ponsel kemudian ia melihat saldo di rekening nya membuat dadanya kembali terasa sesak, angka itu terlalu kecil untuk ukuran hidup yang harus ia jalani untuk sebulan ke depan. Ia menutup aplikasi bank, lalu membuka pesan-pesan yang belum sempat di balas. Email klien yang menunda pembayaran, pesan dari dosen soal biaya praktikum dan ada satu pesan lagi dari Bu Marni yang belum ia buka. Nara memejamkan mata sejenak. Ia selalu percaya bahwa kerja keras akan cukup untuk bertahan. Tapi pada pagi itu, semenjak ada tawaran dari Pak Raka keyakinan itu mulai sedikit goyah. Nara bangkit dari duduknya, ia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu agar terlihat lebih segar pagi itu, setelah selesai ia pun beranjak ke arah dapur untuk membuat serapan. Serapan pagi yang tidak mewah hanya telur ceplok beserta nasi putih juga ada air hangat yang sangat pas diminum pada saat pagi. Setelah selesai dengan serapan paginya, ia pun kembali bersiap untuk pergi ke kampus. Saat sampai di kampus, Nara memilih duduk di bangku paling belakang, ia selalu berusaha tetap fokus pada penjelasan yang dosen katakan. Kata-kata tentang teori komunikasi hanya lewat begitu saja di telinganya. Pikirannya kembali pada wajah Raka, wajahnya yang tenang baginya. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menawarkan pernikahan pada perempuan yang hampir tidak ia kenal. “Nar,” bisik Nadira dari sampingnya. “Kamu kenapa dari tadi aku perhatiin lagi melamun, apa yang lagi kamu pikirkan?” tanya Nadira. Nara tekejut tapi akhirnya ia tersenyum tipis. “Aku kurang tidur, Dir,” jawab Nara cepat. Nadira menatapnya curiga, lalu tersenyum. “Nanti siang aku mau ke kantor Ayahku, kamu ikut, ya?” ajak Nadira. Nara menegang. “Ngapain aku ikut, Dir?” ucapnya heran. “Ada berkas yang harus aku ambil, sekalian kita makan siang, mau ya.” ucapnya lagi seperti biasa sedikit memaksa. Nara ragu. “Aku ada ker..” “Ah, sekali ini aja, Nar.” potong Nadira cepat. Akhirnya Nara mengangguk pelan, ia tidak tahu kenapa ia setuju begitu saja. Mungkin karena sebagian dirinya ingin memastikan bahwa semua tawaran itu hanya mimpi semalam. Siang pun telah datang, kini mereka sedang menuju kantor Ayahnya Nadira. Saat sampai di sana Nara merasa kagum melihat kantor Atmaja Group yang berdiri dengan menjulang tinggi, dingin dan rapi. Lobi marmernya memantulkan bayangan orang-orang yang berlalu-lalang dengan langkah pasti. Nara merasa kecil saat berada disana. Raka sedang berdiri di dekat resepsionis ketika mereka masuk. Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap, dengan lengan yang digulung dengan rapi, wajahnya terlihat datar tapi ia tetap fokus dan terlihat tampan. “Nadira,” sapa Raka singkat. “Ayah,” jawab Nadira ceria. “Aku cuma sebentar.” ucapnya. Tatapan Raka beralih ke Nara. Kali ini tidak lama dan tidak menekan, tapi cukup membuat Nara kembali gugup. “Kita bicara nanti,” katanya pelan, hampir tak terdengar. Nara mengangguk cepat tanpa ia sadar. Setelah urusan Nadira selesai, mereka pergi untuk makan siang bersama. Makan siang yang berlangsung kaku bagi Nara. Ia duduk berhadapan dengan Nadira yang sibuk bercerita, sementara Raka lebih banyak diam. Namun sesekali menatap Nara, dan Nara merasa tatapan itu kembali padanya, bukan tatapan yang tajam, melainkan seolah sedang memastikan sesuatu. "Ayah, Nara, aku ke toilet bentar ya!" Ucapnya pamit pada mereka. "Iya, Nak." Ucap sang Ayah. Nara hanya mengangguk saja. Setelah Nadira pamit ke toilet, Raka mencondongkan badan sedikit ke depan. “Aku tidak menuntut jawaban cepat,” katanya. “Tapi aku ingin kamu mempertimbangkan ini dengan serius.” ucapnya lagi. Nara menatap meja. “Kenapa harus pernikahan, Pak? Apa tidak ada tawaran yang lain?” ucapnya lirih. “Karena itu adalah satu-satunya cara.” jawab Raka dengan santai. “Untuk apa?” tanya Nara. Raka terdiam sejenak. “Untuk menjaga beberapa hal agar tetap pada tempatnya.” jelasnya pada Nara. Nara mengerutkan kening. “Saya tidak mau jadi alat.” ucap Nara tegas. Raka menatapnya lurus. “Kamu bukan alat dan kamu bebas untuk menolak.” kata Raka. Nada suaranya terdengar jujur, itulah yang membuat Nara semakin bingung. Tak lama kemudian Nadira kembali, dan mereka kembali hening sambil menikmati makan siang itu sampai selesai. "Kamu uda kenyang belum, Nar, mau tambah lagi, atau kamu mau coba makanan yang lain? Tanya Nadira penuh perhatian. "Aku uda kenyang Dir!" Tolak Nara halus. Setelah selesai dengan acara makan siang itu, mereka kembali ke tempatnya semula. Raka yang kembali ke kantor, Nara kembali ke kosnya dan Nadira tentunya kembali kerumahnya. Siang itu, di kamar kosnya, Nara membuka kembali kalender kecil yang terletak di dinding. Tanggal dua puluh lima yang ia janjikan pada Bu Marni terasa semakin dekat. Ia mengambil kertas kosong dan mulai menulis. "Jika aku menolak, hidup ku tetap seperti ini, kuliah pun terancam. Bertahan ? entah sampai kapan aku harus bertahan dalam situasi yang sulit ini. Dan jika aku menerima, hidup ku langsung berubah total, menjadi istri seseorang yang nyaris asing, menyimpan sebuah rahasia yang besar." Tangannya seketika berhenti. Ia tahu, apa pun pilihannya nanti, tidak akan ada yang benar-benar mudah. Namun untuk pertama kalinya, Nara menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa berat, ia tidak hanya mempertimbangkan tawaran itu karena uang tapi ia mempertimbangkannya karena ada ketenangan aneh setiap kali Raka menatapnya seolah dunia yang kacau bisa berhenti sejenak. Kesadaran itu membuat Nara menutup kertas dengan cepat. “Jangan bodoh, Nara,” bisiknya pada diri sendiri. Tapi malam itu, sebelum tidur, ia menulis satu pesan singkat. "Pak Raka, saya butuh waktu. Tapi saya tidak langsung menolak." Pesan itu langsung terkirim, dan bersamaan dengan itu, Nara tahu ia baru saja melangkah satu langkah ke arah hidup yang tak akan pernah sama lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD