51. Baru Permulaan

2167 Words

“Y-yang... kamu bercanda—” “Aku nggak bercanda, Mas. Aku mau naik kuda!” Ya Tuhan, cobaan macam apa ini... Divan menundukan kepalanya, memejamkan mata dan berusaha untuk berpikir jernih agar apa yang dikatakannya tidak menyinggung keinginan istrinya. Benar, Divan tidak boleh menanggapi situasi ini dengan gegabah, karena bisa-bisa Risa menangis lagi dan merasa dikhianati karena keinginannya tidak dipenuhi. Oh, jangan sampai terjadi lagi. Mengingat kembali bagaimana Divan memberikan pengertian pada Risa bahwa wanita itu tidak boleh makan durian saja sudah membutuhkan waktu yang cukup panjang tadi, hingga Risa akhirnya mengurungkan keinginannya itu demi kebaikan janin bayi mereka. Yah setidaknya Divan tadi berhasil, berharap kali ini pun hasilnya sama. “Mas... Ayo, Mas. Aku mau naik kuda

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD