6. Lucunya Kanaya

1863 Words
Beberapa hari kemarin Kanaya sibuk dengan orang tuanya. Kanaya tetap pergi ke kampus diantar oleh ayahnya. Bertemu Cia sebentar di kelas. Tak sempat untuk sekedar nongkrong karena usai kuliah Kanaya langsung di jemput. Sekarang orang tua Kanaya sudah kembali ke Jember. Kanaya belum bertemu Wira sama sekali. Meskipun begitu komunikasi mereka tetap intens, melalui chating dan sesekali telponan di malam hari. Wira tak sanggup jika tak mendengar kabar Kanaya. Buktinya hari ini dia maksa mau ikut Kanaya check up ke dokter untuk mengetahui perkembangan kakinya sekaligus terapi. "Bisa ngak jalanya?" merentangkan kedua tanganya di belakang Kanaya, jaga-jaga takut Kanaya oleng. "Bisa bisa Wira, uda tenang aja. Aku uda pinter tau pakek tongkat" berusaha berjalan sendiri dengan tongkat. Wira tetap menjaga di belakang, mengikuti langkah perempuan yang disukainya. Memperhatikan upaya Kanaya berjalan sendiri. Sesekali merekam Kanaya dari belakang, tanpa terasa menarik kedua sudut bibirnya. Para perawat tertawa saling berbisik melihat Wira yang membawa tas hitam dengan tali rantai milik Kanaya di lengannya. Wira menyadarinya dan segera mengadu pada Kanaya. "Nay, ayo donk agak cepet" menghampiri Kanaya. "Iya ini uda brusaha cepet Wir" mempercepat langkahnga. "Aku di ketawain suster loh dari tadi" Langkah Kanaya terhenti, dan segera menatap Wira. "Kenapa?" menunjukkan raut wajah kebingungan. "Liyat aja aku bawa apa" Kanaya tertawa renya sekali, baru sadar Wira membawakan tasnya sejak tadi. "Adugh sini sini tas aku. Kasian banget ilang maconya bawa tas gemes gini" mengulurkan tanganya meminta tasnya. "Uda gapapa. Aku yang bawa. Kamu susah tuh kalo bawa tas juga" berlalu meninggalkan Kanaya. "Dih Wira plin plan, dasar cowok plin plan" sedikit kesal pada Wira. Kanaya berusaha mengerjar Wira yang berjalan di depannya. Kanaya harus menunggu 3 antrian lagi untuk bertemu dengan dokternya. Kanaya dan Wira duduk di ruang tunggu yang disediakan pihak rumah sakit. "Aku haus" Kanaya terdengar manja kali ini. Seperti memohon untuk diberi minum oleh Wira. "Hmmm haus, aku belikan minum ya" bergerak dari kursinya untuk berdiri. "Tapi ngak mau ditinggal" mengerucutkan bibirnya tak ingin di tinggal. "Terus gimana donk?" mengulurkan tangannya bahu Kanaya, merangkul perempuan yang sedang terlihat manja kali ini. "Nanti aja deh minumnya, abiz periksa" melemparkan senyumnya pada Wira. Kanaya bukanlah tipe orang yang mudah beradaptasi apalagi dengan orang baru. Maklumlah Kanaya tidak begitu suka bergaul. Dia hanya punya beberapa teman saja tak banyak. Entah kenapa dengan Wira ia bisa begitu nyaman berteman seperti pada Cia sahabatnya. Padahal mereka belum lama kenal. Mereka menunggu satu antrian lagi yang sedang berada di dalam ruangan dokter. Tak lama kemudian, nama Kanaya di panggil oleb suster untuk masuk ke ruangan praktek dokternya. "Selamat siang Kanaya" melempar senyum kepada Kanaya dan Wira yang baru saja memasuki ruanganya. "Siang dokter" balas Kanaya dengan senang. "Loh ini siapa lagi? Beda lagi yang nganter. Kak icha, lalu kak Jaya, terakhir sama mama dan ayah. Pasti ini pacarnya ya?" Dokter paruh baya itu memang dokter yang ramah dan suka bercanda dengan pasienya. Kanaya tertawa mendenger pertanyaan ingin tahu dari sang dokter. "Dokter ih ingin tahu aja. Ini tuh temen aku. Dia baik loh dok" jelas Kanaya pada dokter. "Ngak dok, bukan gitu. Saya mau PDKT cuma Kanayanya cuma nganggep temen" lanjut Wira. Mereka bertiga tertawa. Benar-benar seperti komedi. "Dasar anak muda" tungkas sang dokter mengakhiri tawanya. "So, gimana Nay. Masih sakit kakinya?" "Uda ngak sih dok. Emm cuma kalo dipaksa jalan aja agak sakit" "Emm gitu. Langsung fisioterapi dulu ya. Sama latihan jalan. Saya amati lagi" Agak lama rangkaian proses pemeriksaan yang dilakukan Kanaya. Wira menyaksikan bagaimana Kanaya kesakitan saat belajar berjalan. Tak tega rasanya. Namun ini demi kesembuhan Kanaya. Sambil menunggu Kanaya, Wira memesan minuman boba yang sering Kanaya minum. Wira menyelinap keluar ruangan, mengangkat telfon dari abang ojek yang sudah sampai di parkiran rumah sakit. Wira meletakkan minumanya di mobil, sebagai reward buat Kanaya. Pasti dia haus banget habis latihan jalan. Wira kembali ke ruangan dokter Kanaya. Ternyata Kanaya sudah selesai melakukan terapi dan sedang konsultasi dengan dokter. Kanaya di sarankan untuk banyak berlatih berjalan secara normal tanpa tongkat. Karena cedera akibat kecelakaan itu sudah berangsur pulih. Kanaya hanya perlu banyak berlatih berjalan. Dan tetap mengkonsumsi s**u dengan teratur. Kanaya dan Wira berpamitan dengan dokter, segera keluar dari ruangan. "Wir" "Hmmm" menatap Kanaya. "Ngak jadi, uda ayo balik" melangkahkan kakinya. "Idih, kenapa sih?" mengerjar Kanaya karena penasaran. "Gapapa, uda ayo balik" tetap berjalan nyelonong aja. Wira bingung, sebenarnya Kanaya mau ngomong apa sih. Tapi sudahlah. "Wira, pegangim tongkat aku ya. Tolong" tiba-tiba berhenti, bersandar pada dinding di sisi koridor rumah sakit. "Kamu mau ngapain?" Wira mulai curiga dengan tingkat Kanaya yang memintanya membawakan tongkat. Wira terdiam, memegang tongkat Kanaya. Dan Kanaya tiba-tiba melompat dengan satu kaki sambil berpegangan pada dinding. Wira tertawa melihat tingkat lucu Kanaya. "Kamu ngapain sih begini Nay. Malu tau, lompat-lompat kayak kelinci aja" menghampiri Kanaya yang melompat dengan satu kaki. "Aku capek wir. Pengen cepet ngadem di mobil. Tongkat itu bikin lama" setengah terengah-engah Kanaya menjelaskan. "Ya ampun Kanaya. Bilang donk. Mau aku gendong aja?" "Ngak mau. Malu" mengerucutkan bibirnya. Tanpa aba-aba Wira merangkul pinggang Kanaya. Membantunya berjalan. Menarik tangan Kanaya untuk merangkul pinggangnya. Kanaya terdiam, membantu sejenak. Kanaya bisa merasakan hebusan nafas Wira yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Detak jantungnya berdebar lebih kencang. "Nay, nay, nay ayo jalan" Panggilan Wira segera menyadarkan Kanaya. "Eh iya ayo" bergegas berjalan bersama Wira. Mereka berjalan menunju parkiran rumah sakit. Wira membantu Kanaya masuk kedalam mobil. Segera menyimoan tongkat dibagasi dan menyusul Kanaya masuk ke mobil. "Ini minuman siapa?" tanya Kanaya sambil menunjuk minuman di sisi kursinya, saat Wira baru saja duduk di kursi kemudi. Berharap minuman itu Wira beli untuk dirinya. "Oh ini punyaku" menjawab datar sambil menarik sabuk pengaman. "Tumben minum boba, ada dua lagi" berbicara kecil. Kanaya heran biasanya Wira itu pesen kopi atau air. Ini kenapa tiba-tiba minum boba. Sama caramel maciato ajandia ngak suka. Ini mala boba. "Emang kenapa kalo minum boba? Ngak boleh?" mulai meyalakan mobil, bersiap untuk pergi. "Ya gapapa. Biasa minum kopi soalnya" sambil memasang sabuk pengaman. "Cie perhatian banget sampek inget minuman yang biasa aku pesen" melempar senyumnya pada Kanaya. Sedangkan Kanaya agak kesal, tumben banget Wira ngak peka. Padahal dia tahu Kanaya sedang haus. Wira ngak nawarin minuman itu pada Kanaya. "Kok diem aja, katanya haus" Kanaya hanya diam, mengerucutkan bibirnya. Memandang keluar jendela mobil yang sedang melaju, melihat pepohonan di sepanjang jalan. "Kok ngambek sih" sesekali menolek pada Kanaya dan memperhatikan jalana di depannya. "Nay...Kanaya" Namun Kanaya tetap membisu. Tak sedikitpun mengeluarkan sepatah kata. Wira akhirnya menghentikan mobilnya di tepi jalan. Untuk membujuk perepuan tang sedang merajuk dihadapannya. "Kok diem sih. Kamu marah? Katanya haus. Ini boba aku beli buat kamu loh" menatap penasaran pada Kanaya. "Katanya ini punyamu" menghepaskan tangan Wira. Tanpa terasa air matanya mengalir, dadanya terasa penuh. Seketika Kanaya menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganya. Menundukan kepala hingga condong ke bawah. Sedikit terdengar isakan tangisannya. Wira sontak terkejut, kenapa Kanaya menangis histeris begini. Wira ngak paham dengan keadaan ini. Kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga Kanaya seperti sekarang. Tak mau membiarkan Kanaya menangis lagi, lantas Wira segera melepaskan sabuk pengamannya. Meraih tubuh Kanaya yang meringkut, memeluk tubuh perempuam itu dengan erat. "Its ok Nay. Gapapa ya. Uda jangan nangis donk. Aku minta maaf ya kalo salah. Aku pasti bikin kamu kesel ya. Maafin aku ya. Mau ngak maafin aku?" terus mengelus punggung Kanaya. Kanaya masih terisak dalam pelukan Wira. Kanaya paling ngak bisa di perlakukan seperti tadi. Dia tidak bisa diabaikan sedikitpun. Sifatnya yang sensitif akan menangkap perlakuan itu seperti sebuah penolakan. Tentu membuat hatinya sakit dan ya seperti yang terjadi. "Uda ya. Jangan nangis lagi. Aku dimaafin ngak nih" Wira masih berusaha membujuk Kanaya. Namun Kanaya masih diam membisu. Wira menyodorkan minuman pada Kanaya. "Minum dulu deh, biar agak enakan" Kanaya sejak tadi memang haus sekali, menerima minuman dari Wira. Meminum sedikit demi sedikit minuman kesukaannya itu. Wira masih setia mengelus punggung Kanaya, menenangkan Kanaya. Cukup lama Kanaya berada dalam pelukan Wira. Hingga tak terdenger lagi isakannya. "Nay udahan ya. Tangan aku pegel ini. Aku juga ada janji sama Prof Nyoman 30 menit lagi. Ngak sampek-sampek donk aku ke kampus kalo kamu begini" Kanaya baru sadar. "Ya ampun bodohnya Nay, kenapa betah banget tiduran di d**a Wira. Sambil minum boba lagi" gumamnya dalam hati. Kanaya menarik kepalanya dan kembali duduk dengan tegak. "Nah gitu donk. Uda ya jangan ngambek lagi. Aku panik tau. Aku di maafin ngak nih? Belum di jawab loh tadi" menatap wajah Kanaya dengan hangat, mengelus ujung kepala Kanaya. "Iya dimaafin" sambil memukul lengan Wira. "Aduh" namun Wira tetap tersenyum. Merasa lega karena Kanaya sudah normal kembali. Wira baru sadar ternyata Kanaya sensitif sekali. Mereka melanjutkan perjalanan ke kampus. Sekitar 15 menit perjalanan, mereka tiba di kampus. Wira memarkir mobilnya di parkiran gedung pasca. "Nay kamu tunggu di sini aja ya. Aku keburu soalnya" sambil merapikan beberapa kertas di tasnya. Tak mendengar respon dari Kanaya, membuat netra cokklatnya menatap ke arah Kanaya. Ternyata Kanaya sudah tertidur dengan pulas. Wira menarik kedua sudut bibirnya. Merasa tergelitik dengan semua tingkah Kanaya hari ini. Manja, melompat-lompat, menangis sampai ketiduran seperti sekarang. Wira memilih tetap menyalakan mobilnya, kasian Kanaya kalo kepanasan. Dan dia berlalu meninggalkan Kanaya yang tertidur di mobil. Cukup lama Kanaya tidur, hingga dia terbangun karena dering ponselnya yang sejak tadi berbunyi. Melihat sedikit layar ponselnya ternyata panggilan dari Cia. KANAYA : "Halo, assalamualaikum" dengan suara parau bangun tidur. CIA : "Walaikumsalam, dimana kamu beb?" menatap penuh penasaran pada Kanaya lewat layar ponsel. KANAYA : "Emmm, aku" kebingungan melihat sekitar dan baru sadar bahwa sedang berada di parkiran. CIA : "Lah, dia yang bingung" Kanaya tak menjawab Cia masih memngumpulkan kesadarannya. Netra coklatnya memperhatikan sebuah note yang tertempel di dashboard mobil. Tertulis sebuah yang segera Kanaya baca. "Aku bimbingan dulu. Aku ngak tega bagungin kamu. Kunci mobil ngak aku bawa. Aku agak lama ya" -Wira- Begitu rupanya, Kanaya menepuk kepalanya sadar bahwa dia tadi ketiduran setelah drama nangis-nangis. CIA : "Nay woi, mala aku di cuekin" terdengar suara Cia yang masih tersambung melalui sambungan telpon. Segera Kanaya ambil ponselnya lagi dan berbicara pada Cia. KANAYA : "Beb, aku ketiduran di mobil Wira. Sekrang aku di parkiran kampus. Kebodohan banget ngak sih beb" terdengar menyesal kenapa bisa tertidur di mobil orang. Cia masih bingung dengan apa yang dikatakan sahabatnya. CIA : "Aku ngak paham deh Nay. Emangnya kamu habis dari? Trus ngapain di parkiran kampus" sambil mengernyitkan dahinya. Kanaya menjelaskan semua kejadian hari ini kejadian hari ini pada Cia. Termasuk drama-dramaan yang dia dan Wira lakukan. CIA : "Gila, makin deket aja kalian. Pinter juga si Wira ya cari kesempatan" sambil tertawa lebar. KANAYA : "Apaan sih Ci, kita temenan tau. Kayak aku sama kamu gitu" setengah ngotot biar Cia percaya kalo dirinya dan Wira memang cuma temen. CIA : "Iye iye, percaya. Ngak usa berapi-api segala. Oh iya aku telpon mau bilang besok mau dateng ngak ke acara fans club BTS" KANAYA : "Ya ampun kok aku lupa ya beb sama acara sepenting itu" CIA : "Lah gimana sih. Kalo kaki kamu ngak sakit. Yakin aku pastikan kita dateng. Tapi sekarang kaki kamu lagi sakit. Gimana?" KANAYA : "Aku sih maunya dateng beb. Tapi aku ngak mungkin motoran berangkatnya. Apa kita naik ojek mobil aja ya?" CIA : "Duh Kanaya cerdas, butuh uang berapa untuk naik ojek mobil?" Mereka berdua berpikir keras, hingga sampai pada kesimpulan memilih absen dulu dari acara itu karena kondisi Kanaya. Kanaya mengakhiri sambungan teleponya dengan Cia. Kanaya menatap layar poselnya melihat-lihat sosial medianya. Ternyata ada sebuah unggahan video pendek di sosial media milik Wira. Video Kanaya sedang berjalan di rumah sakit tadi yang diambil dari belakang dengan becksound lagu Pamungkas yang berjudul To The Bone. "Dih ni anak ya" gumam Kanaya sendiri. Kanaya membalas unggahan video Wira. KANAYA : Siapa nih? Cantik amat jalannya. (Dengan emoticon menutup mulut) Kanaya bosan melihat sosial medianya. Dia putuskan beralih ke youtube menonton video-video BTS sambil bersenandung menyanyikan lagu BTS. Sesekali melihat jam di pojok atas layar ponselnya. Dia merasa lapar sekarang dan di mobil hanya ada minuman boba yang tadi sudah diminumnya setengah. Kanaya memesan makanan pesan antar melalui aplikasi ojek online. Dia memesan mie level-level dan dimsum kesukaanya. Tak lupa Kanaya juga memesankan untuk Wira. Tak lama ojek online itu sampai di parkiran kampus. Kanaya buru-buru turun dari mobil untuk mengambil sekaligus membayar makanan pesanannya. Dari kejauhan Wira melihat Kanaya mengambil tentengan plastik putih dari abang ojek online. Memperhatikan dari jauh dan menyusul Kanaya yang berjalan kembali ke mobil. Wira sedikit berlari untuk menyusul Kanaya. Wira tiba-tiba memegang legan Kanaya yang membawa tentengan makanan. "Sini aku bawain" Kanaya terkejut dengan kedatangan Wira yang tiba-tiba. "Astagfirullah" membalik badannya ke arah Wira dan refleks nepok d**a Wira. "Ih bikin kaget dech" kesal dengan tingkah Wira. "Laper bangun tidur?" menarik kedua sudut bibirnya. "Iya" Kanaya menutup mulutnya dengan tangannya. Mereka berjalan kembali ke mobil. "Kamu pesen makanan apa?" "Mie level-level. Kamu aku pesenin yang level M. Sama udang keju. Bener ngak?" sambil mengeluarkan satu persatu makanan dari dalam kantong plastik. "Kok tau sih. Bener loh" "Aku inget waktu kamu cerita kepedesen karena pernah makan mie level L. Jadi ya aku pesin yang M aja" "Cuma ada yang kurang" jawab Wira datar. "Ice coffe" menyodorka minuman yang selau always di pesen Wira. "Subhanallah, calon istri banget dah nih" merasa tersanjung karena Kanaya bisa hapal kebiasaannya. Kanaya merasa canggung mendengar ucapan Wira yang sedikit berlebihan memujinya. Dia memilih segera makan saja tanpa membalas pujian Wira. "Uda berdoa?" Wira menahan tangan Kanaya yang hendak menyuap makanan ke mulutnya. "Oh iya" nyengir malu karena lupa baca doa. Maklum abis dipuji Wira mala jadi salting. "Doa bersama yuk" ajak Wira yang kemudian membaca doa. Mereka segera menghabiskan makanannya. Wira kemudian mengantarkan Kanaya pulang seperti biasa. (Bersambung) Terima kasih telah membaca episode ini.??? Mohon berikan komentar/saran membangun untuk judul ini.??? Follow me? IG Maylafaisha.rl
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD