Sarapan pagi itu telah usai. Irvan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap-siap pergi ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan bersama Medina, karena perintah bos waktu itu. Sebelumnya, dia sempatkan diri untuk mencuci piring, walaupun Cheryl sudah melarangnya, karena takut adik iparnya itu akan telat pergi ke kantor.
Ponsel irvan berdering nyaring, Medina–dengan nama kontak Kunti, yang menelpon.
“Halo, kamu kapan ke kantor? Kita bukannya mau membahas lebih lanjut terkait pekerjaan kita kan?"
“Iya, aku akan sampai kesana sebentar lagi. Ini masih pagi, jangan terlalu bersemangat begitu. Lagipula, setiap kali diskusi, kamu selalu sibuk menggoda dan pamer tubuh, bukannya fokus. Lalu sekarang, berbicara seakan-akan kau yang paling rajin saja."
Ucapan Irvan jelas membuat hati Medina berdenyut sakit. Apa yang dikatakan oleh pria itu benar adanya, tidak dilebih-lebihkan. Namun, apa lagi yang bisa dia lakukan? Sudah terlanjur tergila-gila pada pria berwajah bak aktor korea itu.
“Aku mengerti. Ayo lakukan dengan serius. Tapi kalau proyek ini berhasil sempurna, mau janji satu hal padaku?"
“Janji apa?" tanya Irvan kebingungan, awas saja jika wanita itu malah meminta hal yang aneh-aneh.
“Aku mau kita kencan, selama satu minggu penuh."
“Loh, maksudmu apa meminta seperti itu? Sama sekali tidak ada hubungannya denganku."
“Kalau proyek pertamamu gagal, semua orang, termasuk bos pasti akan memberikan penilaian buruk pada kinerjamu. Kamu pikir, nanti-nanti masih akan tetap diberikan kepercayaan?"
Irvan diam sejenak. Perkataan Medina ada benarnya juga. Tapi, kenapa harus dia yang mendapatkan kesialan nya? Padahal gadis itu yang membuat gagal, karena bekerja asal-asalan saja.
“Ya sudah. Aku janji akan kencan denganmu. Tapi, awas saja kalau proyek ini gagal akibat dari pekerjaanmu yang kau lakukan main-main. Aku berkata serius, Medina!"
“Wah, aku jadi sangat takut nih, hehe. Iya, kamu tenang saja. Aku tidak akan membuat kamu kecewa kok."
“Bagus, memang seharusnya seperti itu dari awal."
“Oh, iya. Aku masih punya satu syarat tambahan."
“Hah? Apa lagi?" Nada bicara Irvan naik beberapa oktaf. Tidak tahan dengan tingkah wanita sialan satu ini.
“Aku mau, kau tidak bosan-bosan dan tidak akan pernah kapok untuk kencan denganmu. Bagaimana? Syarat tambahannya mudah bukan?"
“Ya, terserah saja. Aku juga tidak akan bersikap kasar seperti kemarin-kemarin jika kamu bukan tukang mengadu."
“Aku hanya mencoba untuk berkata jujur kok."
Irvan menutup sambungan teleponnya secara sepihak. Tidak mau terpancing emosi atas sikap Medina.
Di dapur, Cherly sudah menunggunya untuk menawarkan sesuatu.
“Kamu mau bawa bekal atau tidak? Aku sudah masak sedikit. Siapa tahu kamu sibuk dan tidak ada kesempatan untuk mengantri di kantin."
“Sudah masa?" Melirik ke arah meja makan, ada kotak makan yang didalamnya sudah diisi nasi dan lauk pauk.
Irvan berkata dalam hati, “Wah, kalau begitu caranya, aku malah menganggap ini sebagai rutinitas suami istri. Dia membuatkan aku sarapan dan bertanya dengan lembut seperti itu."
“Kamu tidak apa-apa?" Melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah Irvan. Pria itu akhirnya tersadar dari fantasi indahnya.
“Terima kasih."
“Ya."
‘Aku jarang mendengar kata itu keluar dari mulutnya.'
Sebenarnya Irvan malas beranjak dari rumah karena senang menikmati waktunya bersama Cheryl. Namun apalah daya, berkas-berkas menumpuk di kantor meminta untuk segera dikerjakan.
“Kira-kira, pekerjaan apa yang di rumah saja ya? Tapi bisa menghasilkan uang banyak, tanpa beranjak dari ranjang," pikirnya.
Mobil Leon dia kendaran untuk pergi ke kantor.
Di sana, Medina sudah menunggu. Terlihat bahwa dia memakai pakaian yang lebih sopan, dan tidak menonjolkan bagian atas tubuhnya.
Keduanya lalu pergi ke lantai dua.
“Langsung saja, tidak usah berbasa-basi. Ayo bahas masalah pekerjaan," ujarnya dengan penekanan di akhir kata.
“Iya, ayo mulai."
Irvan hanya tidak bisa menyangka, bahwa Medina bisa diandalkan dalam situasi ini. Hal yang dia sadari dari seorang Medina adalah, meskipun sikapnya sangat menjengkelkan, tapi pekerjaannya bisa dia lakukan dengan sangat baik. Mungkin, itu adalah salah satu alasan mengapa dirinya belum dipecat sampai saat ini. Bos juga bukannya tidak bisa mencari wanita yang lebih cantik bukan?
Diskusi serius itu berlangsung selama beberapa jam, diakhiri dengan hewan nafas keduanya. Lalu, Irvan mengambil laptopnya dan mulai mengerjakan bagiannya sendiri. Begitupun dengan Medina. Sesaat, wanita itu melirik nakal ke arah Irvan.
“Jangan mulai. Kamu sudah janji akan bersikap baik kan? Atau kencannya gagal," kecam Irvan.
“Duh, padahal hanya melirik sedikit, tidak boleh? Ada-ada saja. Ini juga salahmu karena terlalu tampan."
“Terserah. Jangan banyak bicara, dan kerjakan saja bagianmu. Awas saja kalau hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi."
“Iya, iya. Dasar galak!"
Masih berfokus pada laptopnya, Irvan menanyakan sesuatu yang sedari tadi mengganggu pikirannya.
“Kenapa tidak ikut dengan Leon? Biasanya jika ada perlahan bisnis, kalian selalu berdua kan? Tumben sekali."
“Penasaran?"
“Tidak juga. Aku hanya bertanya."
“Yah, aku kan harus mengerjakan banyak pekerjaan disini. Itu bukan perlahan bisnis besar juga, dia bisa melakukannya sendiri kok," nikah Medina. Padahal, dia dan Leon sudah membuat kesepakatan beberapa hari yang lalu. Medina akan membiarkan Leon pergi agar lebih leluasa, sedangkan dirinya dapat keuntungan karena punya waktu lebih banyak bersama Irvan.
“Kamu tidak sedang memberikan alasan saja kan?" tanya Irvan lagi.
“Untuk apa? Toh memang benar kan? Aku harus mengurus proyek kita."
“Hum."
“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"
“Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja. Kira-kira, ada berapa wanita yang tertarik padanya, sebagai seorang yang mapan dan tampan."
Reflek Medina tertawa lepas hingga menggema di seluruh area ruangan. Orang yang sedang berlalu lalang di luar pun terkaget. Mereka sibuk berpikir, “Suara hantu macam apa lagi itu? Hih, kantor ini seramnya minta ampun deh!"
“Sudah jelas kan?" Alis Medina terangkat.
“Apanya yang jelas?"
“Semua karyawan wanita yang ada di sini, tertarik padamu. Kau pikir Leon punya kesempatan untuk sekedar lirik-lirikan? Hahahah, aneh. Makanya, jangan terlalu tampan ya."
“Apaan sih. Tidak masuk akal. Leon juga cukup tampan, padahal."
Suasana di ruangan itu kembali hening. Mereka sama-sama saling diam dan menatap layar laptop dengan serius. Sibuk mengetik banyak kata di sana.
Hingga jam istirahat siang telah datang.
“Kamu mau aku belikan kopi?"
“Aku tidak suka yang murahan loh ya," jawab Irvan sengaja mengambil kesempatan.
“Memangnya aku pernah belikan yang murah? Aku pergi dulu."
“Iya."
Irvan teringat akan sesuatu. Ada satu buah map berisi berkas penting di ruangan Leon. Dia akan mengambilnya untuk dijadikan referensi.
“Huh, andai saja ada anak baru yang bisa disuruh-suruh untuk ambil sana sini. Malasnya aku," gerutu Irvan.