“Hai, Ren!” Aku menyapa asisten yang telah lama tak bertemu. “Sehat?” Aku bertanya demikian karena aku melihat matanya yang sembab. “Sehat, Tuan Muda. Terima kasih karena sudah kembali.” Dia tersenyum dengan wajah yang bengkak. “Apa kau baru saja menangis?” Aku memberanikan diri untuk bertanya. Dia terdiam, lalu mengangguk. “Maaf, bukannya saya tidak profesional. Tapi ….” Tiba-tiba dia tersungkur di hadapanku. “Saya dan yang lainnya benar-benar merindukan Anda.” Dia mengucapkan kalimat tersebut sambil memeluk ujung kakiku. “Berhenti, Ren! Jangan seperti ini.” Aku mencegah Rena agar tak meneruskannya, namun ia tetap menangis di hadapanku sambil tersungkur. “Tolong kembalikan para pengawal ke mari. Buat keberadaanku tetap menjadi rahasia.” Aku memerintahkan padanya. Rena langsung me

