Chapter Six: I Am Okay!

1426 Words
Jika aku merasa sesuatu itu hilang adalah saat aku tak lagi melihatnya tersenyum. Segalanya akan tenggelam dalam kegelapan dan aku akan menunggunya untuk kembali memberikanku cahaya   *   MARIENNE   Sepanjang akhiir pekan ini aku terus berusaha untuk menyibukkan diri, paginya hingga siang hari aku menghabiskan waktu untuk bekerja di Chuck’s, malam harinya aku memutuskan untuk menggunakan waktunya dan menghabiskannya di perpustakaan. Apapun akan aku lakukan asalkan aku bisa tidak berusaha untuk terus menerus memeriksa ponselku. Walau begitu aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku terus memikirkan Nathan dan berharap dia akan menghubungiku hanya sekedar mananyakan kabarku.   Tapi sepertinya aku salah, sama sekali tidak ada pesan darinya. Kurasa mungkin dia sedang sibuk bersenang-senang di pesta yang lain. apakah aku terlalu berlebihan? Entahlah, aku bahkan tidak memahami diriku sendiri, mengapa au begitu peduli dia sedang ada di mana.   Helaan nafasku terdengarcukup berat, seperti aku memikul beban yang cukup banyak. AKu menatap buku di depanku. Buku ini hampir selesai aku baca, akan tetapi aku tak ingin buru-buru menghabiskan sisanya, tapi jam di dinding perpustakaan menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Sebentar lagi tempat ini akan ditutup. Walau begitu aku enggan pulang ke rumah.   Setiap kali pulang aku hanya akan sendiri, rasanya sepi sekali tinggal di rumah sendiri. Saat aku pulang tidak ada yang menyambutku, atau menungguku. Tidak ada yang peduli aku ada di mana, sedang apa, dan bersama siapa. Bahkan tidak ada lagi sapaan hangat ibuku tiap kali aku bangun tidur, tidak ada yang akan memarahiku jika aku terlambat bangun … sungguh rumahku rasanya begitu hampa.   “Nona Arshen ….” Aku mendengar sebuah panggilan dari Nyonya Grishnor, penunggu perpustakaan, tanda-tanda dia akan segera mengusirku sebentar lagi. sepertinya aku memang harus pulang. “Kami akan segera tutup, apa kau sudah selesai?” benar ‘kan dugaanku?   “Ya, Nyonya Grishnor aku akan segera keluar,” balasku sambil memasukkan barang-barangku kembali ke dalam tas.   Setelah selesai memsukkan semua barang ke dalam tas, aku pun bergegas untuk pergi dari perpustakaan ini dan memberi salam pada Nyonya Grishnor yang sedang bersiap-siap untuk menutup perpustakaan. Aku mengambil sepeda Nathan, aku menyadari satu hal, sebenarnya cuku menyenangkan pergi ke mana saja menggunakan sepeda. Mungkin aku harus meminjam sepeda ini untuk selamanya … atau aku akan membeli satu.   Jalanan sangat sepi, tidak kulihat kendaraan lain lewat, hanya ada aku, suara kayuhan sepedaku dan hembusan angin malam. Berhenti sejenak, aku mengambil ponselku, memasang earphone lalu menyalakan musik lagu pertama yang terputar adalah milik Harry Styles, Sweet Creatures. Aku menyukai lagu ini. aku cukup suka dengan lagu-lagu yang dibawakan oleh salah satu mantan anggota One Direction itu. Selain suara Harry yang serak dan berat, di telingaku suaranya terdengar seksi, mungkin karena pengaruh figur Harry yang tampan dan humoris sehingga aku pun tertarik dengannya. Entahlah.     Perjalananku baik-baik saja, sampai aku melewati area pertokoan, tanpa sengaja aku menoleh pada salah satu kaca etalase toko dan melihat seseorang dengan jaket hitam dan tudung yang menutupi kepalanya menggunakan sepeda seolah-olah sedang membuntutiku. Apakah hanya perasaanku saja, tapi jantungku berdebar dengan sangat kencang dan pikiranku tak bisa bekerja dengan baik.   “Sejak kapan dia mengikutiku?!” gerutuku smabil memacu lagi sepedaku.   Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk mengayuh sepeda agar laju sepedaku lebih cepat. rumahku tidak jauh lagi, aku hanya perlu belok kiri dan melewati beberapa gang lagi. sedikit saja aku tidak berani untuk menoleh ke belakang, sementara aku juga merasakan jika gerakan sepedanya juga lebih cepat.   Rumah yang aku kira sudah dekat, ternyat terasa begitu jauh. Astaga! Aku terus memacu sepedaku sampai melihat pohon oak tinggi yang tumbuh di halaman rumahku. Ayo, Mary! Kau bisa! Aku menyemati diriku sendiri, dan setelah beberapa saat aku sampai di depan rumahku, segera aku meletakkan sepedah Nathan sembarangan dan berlari menuju ke dalam rumah. Buru-buru aku mengunci pintu rumah, setelah itu aku bersandar di pintu.   Nafasku sungguh tidak beraturan hingga aku merasa sangat sesak, mungkin paru-paruku akan segera meledak jika aku tidak bisa mengendalikan laju nafasku. Kakiku terasa lemas hingga tubuhku pun merosot ke bawah, semua tenagaku terkuras habis. Aku tidak menyangka jika akhir pekanku berakhir sangat menegangkan.   Ini sungguh malam yang panjang dan cukup mengerikan. Tidak pernah aku membayangkan akan diikuti oleh orang tak dikenal seperti itu. Apa yang ada di otakku adalah hal-hal buruk. Bagaimana jika dia menyakitiku? Menganiayaku? Memperkosaku? Semua itu menghantuiku! Bukankah itu kombinasi yang cukup bagus? Seorang gadis kesepian di temukan tak bernyawa di pinggir jalan setelah diperkosa atau dianaiaya sebelumnya.   “Sial,” umpatku kesal. Malam ini aku sungguh lelah, aku tak ingin berpindah barang sejengkal. Mungkin aku akan tidur disini. Memastikan tidak ada orang yang akan masuk ke rumahku. Akhirnya, mataku perlahan mulai terpejam. *   Sebuah ketukan dipintu membuatku terperanjat, aku terpaksa ditarik dari alam mimpiku. Kepalaku pusing karena bergerak mendadak, aku mengerjapkan mataku berkali-kali lalu memeriksa di sekitarku memeriksa tempatku tidur. Karena sungguh, tubuhku rasanya pegal-pegal setelah bangun. Ternyata aku tertidur di ambang pintu, sama sekali tidak berpindah dari tempatku saat ini.   DOK! DOK!   Pintuku digedor dengan keras, keningku berkerut dalam. Siapa gerangan pagi-pagi begini mengetuk … menggedor rumah seseorang. Aku melihat jam di tanganku, bahkan ini masih jam delapan pagi … tunggu … jam delapan pagi?! Astaga! Kelas pertamaku akan segera dimulai dalam waktu satu jam, aku tidak akan bisa pergi ke kampus dan datang tepat waktu jika menggunakan sepeda Nathan.   Sekali lagi, pintu rumah ini digedor. Aku pun segera berdiri dan memutar knop pintu untuk melihat siapa orang yang menggedor pintu rumahku.   “Holy s**t!” Suara Nathan menyembur membuatku tersadar. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk memastikan jika pria itu benar-benar Nathan. Itu memang dia, sedang berdiri di depanku begitu rapi dengan kaos navy, celana denim berwarna gelap, di bahunya tersangkut ransel, dan rambutnya yang di beri gel. Tunggu … tunggu … tunggu … sejak kapan Nathan menggunakan gel pada rambutnya?   “Kau belum bersiap ke kampus?” tanyanya sembari menilai penampilanku pagi ini yang aku yakini terlihat sangat buruk sekali. “Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat seperti ….” Nathan masih ragu-ragu untuk mengatakan kata-kata buruk padaku.   Tapi sungguh, kenapa pagi-pagi begini dia harus menodongku dengan beragam pertanyaan seolah-olah dia sedang menginterogasiku seperti aku ini penjahat. Aku menghela nafasku, sambil menatapnya.   “Bagaimana pestamu?” tanyaku, aku berbalik masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air. Tenggorokanku terasa kering, dan saat membuka mulut rasanya menyakitkan. Aku bisa merasakan Nathan mengikutil langkaku, dia berdiri di balik konter dapur, tampak gelisah.   “Kau tahu?”   Aku hanya mengangjat bahuku acuh tak acuh, lalu mengambil air untuk menyegarkan tenggorokanku. Setelahnya aku berbalik dan menatapnya sambil menghela nafas panjang. Nathan tidak mengatakan apapun lagi, sampai terdengar bunyi klakson mobil yang mengganggu sekali.   “Kau tidak ingin berangkat ke kampus bersamaku?” tanya Nathan akhirnya. Nathan terlihat begitu gelisah, dia mengetukkan kakinya di lantai. Aku bahkan lupa bagaimana keadaan kakinya, apakah kakinya sudah membaik? Kenapa dia terus saja berkeliaran dengan keadaan kaki yang seperti itu? walau rasa penasaranku tentang kesehatan kakinya cukup besar, aku memilih untuk diam. Aku merasa sedang tidak ingin bicara banyak hari ini, aku belum bisa melupakan apa yang terjadi tadi malam, juga fakta bahwa Nathan mulai menyembunyikan sesuatu dariku juga membuat suasana hatiku tidak begitu baik.   “Aku berangkat dengan Brienne, dia sudah menunggu … kau yakin tidak ingin berangkat bersama kami?”   Tunggu … aku menatapnya lekat-lekat, tidak percaya dengan pendengaranku sendiri. Dia pergi dengan Brienne? Si pirang strawberry yang agresif itu? Miss Popular? Apakah itu sebabnya Nathan menggunakan gel rambut? Untuk memberikan kesan baik pada Brienne?   “Mary?” Nathan menatapku dengan lekat-lekat selagi aku berusaha untuk mengumpulkan pikiranku yang sering kali terpisah dan membuatku melamun.   “Tidak,” balasku terlalu tegas, “Tidak … maksudku aku akan naik bus saja karena aku belum bersiap, aku tidak ingin kalian menunggu lama.” Aku mencoba memberikan alasan yang selogis mungkin.   “Bus? Serius Mary? Kau bisa menumpang mobil Brienne, bersama denganku.”   “Tidak, sungguh, pergilah … kau akan terlambat.”   “Apa kau baik-baik saja?” Nathan tiba-tiba bertanya padaku, dia mulai melangkah mendekat padaku. Sekarang dia mulai bertanya?   “Ya, aku baik-baik saja.” Sebelum Nathan dekat denganku, aku mangangkat tanganku untuk menghentikan langkahnya. “Pergilah!” kataku dengan sedikit menaikkan volume suaraku dan berlari melangkah ke kamar, meninggalkannya.   Rapat-rapat aku menutup pintu kamarku, mengantisipasi seandainya saja Nathan tidak menyerah dan mencoba untuk masuk ke dalam kamarku. Sayangnya, apa yang aku perkirakan tidak terjadi. Dia pergi begitu saja, aku bisa mendengar suara deru mobil meninggalkan jalan.   Aku menghela nafasku. Aku baik-baik saja … ya, sungguh! Aku … aku akan berusaha baik-baik saja … Ah, sial! Aku tidak baik-baik saja! Puas?      * To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD