Chapter Two: I Am Win!
“Tiap geraknya, tiap senyumnya, lesung di pipinya, membuat waktu seakan berhenti begitu saja. Aku buta, karena duniaku telah berpusat padanya. Hanya padanya”
__
MARIENNE
Detik demi detik terasa begitu sangat lama sekali, sementara aku sudah tak lagi fokus pada apa yang dibicarakan oleh Porfessor literaturku, sesuatu tentang prosa? Atau tentang alasan betapa bodohnya, Jay Gatsby yang tergila-gila dengan Daisy. Sungguh aku tak bisa menangkap semua ucapan Professor Calahan. Mataku terus memandangi jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit. Jantungku berpaculebih cepat, perutku rasanya seperti dililit oleh sesuatu, aku panik. TENTU SAJA AKU PANIK! Pertandingan Nathan hanya tinggal tiga puluh menit lagi, sementara aku masih terjebak oleh pelajaran literatur yang tak tahu kapan akan berakhir. Aku hanya tak ingin melewatkan pertandingan Nathan, bisa apa dia jika aku tak menjadi pemandu sorak pribadinya?
“Baiklah, sekianuntuk pertemuan hari ini, dan jangan lupa tugas kalian minggu depan, review Hamlet.” Begitu Professor Calahan mengakhiri kelasnya, dan aku tak sanggup lagi jika harus duduk lebih lama lagi. Segera kakiku ini berlari keluar dari kelas, aku yakin sekali professor dan teman-teman sekelasku pasti memandang tingkahku dengan aneh. Memangnya siapa yang peduli? Karena yang terpenting saat ini adalah aku segera pergi ke tempat pertandingan Nathan. Itu saja.
Tergesa-gesa aku lari dengan sangat kencang menggunakan kecepatan kuda kurasa, keluar dari gedung tempat kelasku berada kemudian melewati sebuah blok lagi sambil terus berlari. Ini aneh, sungguh aneh, aku merasa begitu lamban. Apakah hanya perasaanku saja karena sedang mengejar waktu atau karena memang aku berlari dengan lamban. Entahlah. Namun, apabila kemungkinan ke dua yang benar, berarti aku harus melakukan diet dan sering-sering berolahraga.
Sialan, kenapa jauh sekali?! KENAPA MANCHESTER UNIVERSITY SANGAT LUAS SEKALI!!!! Teriakku dalam hati. Aku masih berlari dengan nafas yang hampir terputus.
Itu dia! Akhirnya aku melihat gedung pusat olahraga, setelah berlari jauh. Tak buang waktu lebih banyak lagi aku segera masuk ke dalam gedung ini. Banyak orang yang sudah masuk untuk menyaksikan pertadingan hari ini, tribun pun hampir penuh, beberapa dari mereka pun bersorak untuk tim yang mereka dukung. Aku menolehkan kepalaku ke kanan lalu ke kiri, menyapukan pandanganku pada seluruh isi gedung untuk mencari rambut brunette ikal milik Nathan.
“Dimana dia?” gumamku. Aku lihat lagi jam tangan, menunjukkan delapan lebih lima puluh lima menit. Seharusnya, tiap tim sudah bersiap di tempat mereka masing-masing. Tak menyerah, aku terus mencari sosok sahabatku itu, sementara semua orang kembali bersorak karena tim pandu sorak sudah mulai masuk ke dalam lapangan.
“Mencariku?” Suara berat milik Nathan mengejutkanku sampai aku terperanjat. Seketika itu aku berbalik dan mendapati Nathan telah berdiri di belakangku. Dia begitu tinggi sekali dibanding denganku hingga aku harus mendongak untuk menatap wajahnya.
“Kupikir aku terlambat,” ujarku dengan nafas yang masih ngos-ngosan, “kenapa kau baru masuk?” tanyaku penasaran.
“Aku baru saja ke toilet, apa kau berlari kemari?” tanya Nathan balik, dia menangkup wajahku yang dipenuhi oleh bulir-bulir keringat, merengkuhnya lembut dan Nathan menunduk sedikit hingga wajahnya begitu dekat denganku.
“Yeah, tentu saja, kau tahu kan aku ini adalah-”
“Pemandu sorak nomor satuku?” Nathan memotong ucapanku. Dia tak sepenuhnya salah. Aku hanya mengangkat bahu saja, tak menyangkalnya. Beberapa saat kemudian jari Nathan beralih ke keningku, mengusap peluh yang merembes.
“Jangan menyulitkan diri sendiri, lihat, wajahmu yang jelek ini jadi tambah jelek karena keringat.” Jika Nathan yang mengatakannya, terdengar seperti sungguh-sungguh. Apalagi dia begitu fokus mengusap keringat di keningku.
Namun … aneh sekali, berdiri begitu dekat dengan Nathan membuatku bisa mencium aroma tubuhnya yang segar sekali ini, dan karena hal itu debaran jantungku yang sudah cepat menjadi tak karuan. Aku ingin memeluknya, sangat.
Ya ampun! Sadar, Mary! Sadarlah!
Perlahan aku menggelengkan kepala, membuang pikiran aneh yang menyerang otakku, kemudian kutatap Nathan, seksama, dia mundur selangkah sembari memiringkan kepalanya ganti menatapku dengan pandangan yang … lembut? Dan seulas senyum samar tersungging. Apa hanya perasaanku saja, tapi pria ini kenapa jadi begitu tampan?
“Aku pasti akan memenangkan pertandingan ini, Mary!” Dia berjanji, aku hanya mengangguk, menyepakati janjinya. Nathan beranjak pergi sembari melambai-lambaikan tangan ke arahku, dia kemudian bergabung dengan timnya.
Tunggu … sepertinya ada yang aneh dengan cara berjalan Nathan. aku perhatikan jalannya agak terseok, seolah-olah kakinya sedang terluka. Ya, kakinya terluka, aku yakin itu. Tapi kenapa? Bagaimana bisa? Sepertinya kemarin masih baik … Oh Astaga! Sialan, ini pasti karena dia menangkapku saat aku tergelincir dari pohon. Apa dia menyembunyikan lukanya dariku? Agar aku tak merasa bersalah? Kenapa dia sama sekali tak berubah? Kenapa dia selalu bertindak bodoh? Apa menurutnya aku tak akan menyadarinya jika dia berusaha menyembunyikannya dariku?
Sekarang yang bisa aku lakukan hanya menghela nafas, aku tak perlu terkejut dengan tingkah bodohnya itu. apalagi jika aku menyalahkannya karena hal itu, hanya akan sia-sia. Pada akhirnya dia hanya akan mengatakan ‘Aku baik-baik saja, Mary, tenanglah, aku tidak ingin kau merasa bersalah’. Cliché Nathan.
Setelahnya, aku beranjak pergi menuju ke tribun penonton, menembus kerumunan dan mencari tempat duduk. Setelah beberapa saat mencari, aku menemukan sebuah bangku kosong, di tengah-tengah, tapi cukup jelas jika hanya untuk menonton pertandingannya. Tak lama kemudian, pertandingan pun dimulai, kedua tim sudah memasuki lapangan. Pandanganku hanya tertuju pada pria tinggi dengan nomor punggung 08 itu. dalam hati aku berharap, Nathan akan baik-baik saja. Tidak. Dia harus baik-baik saja.
Tim lawan mengambil alih bola, menggiringnya melewati lawan. Namun, langkahnya terhalang oleh Nathan dan dengan gerakan sempurna Nathan berhasil merebut kembali bola itu. Nathan berlari dengan langkah yang agak terpincang. Bisa kubayangkan betapa nyerinya, harus berlari dengan kaki yang terluka seperti itu. Hatiku terasa seperti diremas-remas, dia pasti baik-baik saja, harapku cemas.
“Nathan! kau pasti bisa!!” teriakku dengan lantang, entah dia mendengarnya atau tidak.
Nathan melompat, dia melemparkan bola yang dia pegang, bola itu melesat jauh membuat sebuah lengkungan lalu jatuh melewati ring. Semua ornag bersorak sementara jantungku berdebarlebih kencang dan perutku melilit ketika melihat Nathan mendarat dengan terhuyung dan hampir terjatuh. Tanpa sadar aku berdiri, ada perasaan ingin berlari ke tengah lapangan dan menopang tubuhnya yang besar itu. aku hanya bisa berharap pertandingan ini lekas berakhir.
Pertandingan berlanjut, aku tak bisa tenang setiap kali melihat Nathan berlari menggiring bola atau saat ia melompat untuk memasukkan bola. Tapi apa boleh buat, Nathan sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakitnya, aku menghargai itu.
Beberapa waktu kemudian, pertandingan menjelang berakhir. Nilai penenetuan di menit terakhir akan menentukan siapa pemenanganya. Terlihat Nathan merebut bola, dia berlari menggiring bola, namun kali ini ia tak berlari jauh, Nathan berada di luar garis. Dia akan membutuhkan banyak usaha jika ingin memasukkan bola ke ring. Nathan menekuk lututnya, membuat sendi kakinya memiliki beban berlebih, dia mengarahkan bola ke atas dan melompat. Bola itu melayang jauh … dan masuk ke dalam ring! Pertambahan nilai untuk tim Nathan. Dia menang, teamnya menang!!
“UUUYEAAHHHH!!” teriakku sambil melompat girang, dan aku spontan memeluk orang yang ada di sampingku, entah siapa dia, yang jelas dia agak tekejut saat aku memeluknya dengan erat.
Tak sabar lagi, aku pun segera berlari membelah para manusia yang berdesak-desakan ini, mereka terus bersorak merayakan kemanangan tim Nathan. segera aku menuruni tribun, menuju ke tempat Nathan berada. Akan tetapi … langkahku terhenti saat melihat paramedis melewatiku. Aku panik, pandanganku pun megikuti paramedis tersebut. Rupanya mereka berlari ke arah Nathan. tak lama kemudian, mereka mengangkat tubuh nathan ke atas tandu. Setelah mengumpulkan kembali kekuatanku, aku berlari ke arah mereka,menghentikan paramedis tersebut. Terlihat Nathan sedang menutup wajah menggunakan lengannya. Dia tampak begitu kesakitan.
“Maaf, Nona. Kami harus membawanya ke rumah sakit segera,” ujar salah seorang paramedis. Nathan menyingkirkan lengannya, dan melihatku, matanya tampak melebar tapi sedetik kemudian bibirnya tersungging. Bagaimana dia masih bisa tersenyum sementara aku begitu cemas dengan keadaannya saat ini.
“Aku menang, Mary!” ujarnya dengan suara lantang. Aku memutar mataku kesal, hanya dia yang memikirkan janjinya di saat terluka seperti ini.
“Ya, aku tahu kau menang, aku tahu,” balasku, walau aku ingin mengomelinya tapi tak bisa setelah melihatnya tersenyum konyol seperti itu. “Bolehkah aku ikut?” tanyaku ke paramedis. Mereka tampak akan menolak, sampai Nathan membuka mulutnya lagi.
“Tidak apa-apa, dia akan menemaniku.”
Aku pun mengikutinya masuk ke dalam ambulance, dan Demi Tuhan aku taku bisa mengalihkan pandanganku ke kakinya yang yang tampak membengkak itu. bagaimana dia bisa menahannya selama ini.
“Berhenti mencemaskanku, Mary, aku bukan sedang sekarat.” Suara Nathan membelah kesadaranku, aku menatap wajahnya yang masih penuh dengan keringat itu. “Wajah cemas itu tak cocok denganmu.”
“Sangat tidak lucu, Natty.” Aku memukul lengannya, dan dia hanya terkekeh pelan seolah apa yang terjadi bukanlah sebuah masalah. “Bagaimana jika kau-‘ Nathan memotong ucapanku.
“Aku akan baik-baik saja,” ujarnya sepelan bisikan sembari menepuk puncak kepalaku. “Kau tahu aku ini lebih kuat dari siapapun.”
“Tak begitu lama, kami sampai di rumah sakit. Nathan langsung dibawa ke ruang UGD. Walau aku ingin menemaninya, aku hanya menunggu di lorong ruang tunggu dengan cemas. Sungguh, aku takut jika terjadi sesuatu yang lebih buruk pada kakinya. Bagaimana jika dia tidak bisa menggunakan kakinya lagi? karirnya pasti akan berakhir ‘kan? Sialan! Ini semua salahku!
Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit akhirnya seorang perawat datang menemuiku.
“Apa kau yang bernama Mary?” tanya perawat itu dengan tersenyum ramah.
“Ya, itu aku, apakah terjadi sesuatu dengan Nathan?”
“Tidak perlu khawatir, pacarmu baik-baik saja, dia memintamu untuk menemuinya.”
Pacar?
“Baiklah, terimakasih banyak,” ujarku tanpa menyangkal apapun. Perawat itu menunjukkan tempat di mana Nathan sedang dirawat.
Saat perawat menyibakkan tirai putih, Nathan duduk di ranjang dengan kaki menggantung. Aku bisa melihat kakinya di pasang gips. Aku menghela nafas lega, sedangkan anak bodoh itu tersenyum seperti orang konyol padaku.
"Hei." Ucapku dengan canggung yang bercampur khawatir.
"Hei." Balasnya
"Bagaimana, apakah buruk??" Aku masih menatap kakinya yang digantung itu.
"Tidak, hanya dislokasi saja" Balasnya sambil mengangkat bahu. Aku kemudian duduk disampingnya.
"Kau tidak akan memberitahuku kan?" Tanyaku.
"Dan membuatmu menyalahkan dirimu sendiri? Tentu saja tidak!" Balasnya.
Aku hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Aku tidak pernah berhasil jika berdebat dengannya, dia lebih keras kepala daripada yang bisa dibayangkan.
"Aku minta maaf." Aku benar-benar menyesal karena membuatnya terluka seperti ini.
"Hentikan itu Mary Poppins, atau aku tidak akan bicara lagi padamu!" Ancamnya.
"Seandainya kau bisa" Aku tertawa dan dia ikut tertawa denganku
Tiba-tiba Nathan berhenti tertawa sembari memandangiku. Lalu ia meletakkan telapak tangannya yang besar itu diatas kepalaku dan mengusap rambutku perlahan.
"Selama kau ada di sisiku, semuanya akan baik-baik saja." Ujarnya, aku tidak menyetujuinya. Karena dia terluka karena diriku, namun untuk menyenangkan hatinya aku pun mengangguk sembari tersenyum padanya.
"Nah, begitu. Senyum itu lebih cocok padamu daripada wajah cemberutmu." Katanya lagi, "sudah jelek lalu cemberut, hanya menyakiti mata saja." Imbuhnya lagi.
"Kau juga jelek,"
To be continued,