Kerinduan Viona

1106 Words
Tepat tiga hari yang Alan janjikan, hari ini adalah hari terakhir Viona berkerja di restoran. Tepat tiga hari pula, Galih tidak ada kabar sama sekali. Handphonenya aktif, tapi semua panggilan dan pesan dari Viona tidak mendapat balasan sama sekali. Kabar terakhir yang Viona dengar dari pak Haris, kekasihnya itu pulang dalam keadaan mabuk. Ingin sekali Viona datang menjenguk Galih, tapi Bu Farah pasti melarangnya untuk bertemu laki laki itu. Sekarang sudah jam delapan malam, itu artinya Viona harus pulang. Bagaimana dengan hari esok? Entahlah, mungkin Viona akan menjadi pengangguran untuk sementara waktu. Ya, mau bagaimana lagi jika Galih belum ada kabar sampai detik ini. "Vi, lo di panggil pak Alan ke ruangannya." Viona tersadar dari lamunannya, mungkin Alan akan memberikannya gaji untuk bulan ini. Gadis itu mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih pada Aldo. "Makasih Al," "Sama sama, oh ya. Lo pulang bareng siapa? Galih belum ada kabar?" tanya Aldo, niatnya ingin mengajak Viona pulang bersama jika gadis itu tidak keberatan. "Belum, mungkin mas Galih belum sembuh. Enggak enak juga mau ganggu, biarin dia istirahat dulu Al." Jawab Viona, sementara hatinya selalu berkata lain. Gadis itu sangat menghawatirkan kesehatan Galih, yang sampai saat ini belum juga membalas pesannya. Aldo mengangguk, mencoba memberikan dukungan untuk Viona. Padahal, dari raut wajah gadis itu terlihat jelas bagaimana khawatirnya seorang Viona saat membicarakan Galih yang belum ada kabar. "Gue tungguin ya, kita pulang bareng. Gue enggak terima penolakan, karena hari ini hari terakhir lo kerja disini kan? Jadi, gue mau anterin lo pulang. Udah sana temuin pak bos dulu." "Makasih ya Al. Aku ke ruangan pak Alan dulu," ujar Viona. Sesampainya di depan pintu ruangan Alan, gadis itu malah terdiam sejenak. Apa keputusannya sudah tepat? Berusaha menyakinkan diri sendiri, Viona mengetuk pintu ruangan Alan. Tok tok tok Dari dalam ruangan, Alan yang memang sudah menunggu kedatangan Viona langsung menyuruh gadis itu masuk. "Masuk." Menghela nafas sejenak, Viona memberanikan diri untuk masuk. "Permisi pak, pak Alan panggil saya?" "Iya, duduk dulu Vi." Hening beberapa saat, sampai akhirnya Alan mengeluarkan amplop berwarna cokelat di depan Viona. Jujur, ini adalah terberat yang harus Alan lakukan. Namun, ini adalah pilihan Viona sendiri Alan tidak bisa melarang gadis itu untuk tetap bertahan di restorannya. "Sebelumnya, saya mau mengucapakan terimakasih banyak atas pekerjaan kamu selama ini. Saya sangat menyayangkan, orang seperti kamu memilih resign. Karena restoran ini sangat memerlukan orang seperti kamu Vi, kamu jujur dan ramah. Saya juga mau minta maaf, kalau selama ini saya kurang bersikap baik sama kamu. Saya pasti pernah berbuat salah, baik itu yang saya sengaja maupun tidak saya sengaja. Saya benar benar minta maaf." Ucap Alan tulus, jika saja Alan punya hak sedikit saja atas Viona pasti gadis itu akan tetap ada disini. Viona mencoba tersenyum, walaupun hatinya belum sepenuhnya ikhlas tapi kenyataan harus tetap di hadapi. "Saya juga minta maaf kalau selama bekerja, saya sering melakukan kesalahan. Dan saya juga ingin berterimakasih, karena pak Alan sudah mau mengizinkan saya bekerja di restoran bapak." Balas Viona, setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan Viona selalu menyadari hal itu. "Ini gaji dan uang pesangon kamu, semoga bermanfaat." "Terimakasih banyak pak, kalau begitu saya permisi." "Silahkan." Begitu Viona keluar dari ruangannya, kekosongan dihatinya mulai terasa. Inikah yang dinamakan kehilangan? Padahal, Alan tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Viona. Helaan nafas terdengar, Alan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Mencoba berpikir positif, jika mereka akan bertemu kembali. Meskipun bukan sebagai atasan dan karyawan, tapi mereka akan bertemu sebagai teman. Ya, setidaknya itu jauh lebih baik. Viona keluar dari restoran, gadis itu menatap bangunan yang berdiri di hadapannya itu. Mulai besok, tidak ada kesibukan yang Viona lakukan di dalamnya. Tempat ini akan menjadi masa lalu bagi Viona, mungkin Viona akan sesekali berkunjung ke tempat ini untuk sekedar mengobati rasa rindunya. "Heh, ngelamun aja lo. Gue udah kesemutan nungguin lo," bukan Aldo namanya jika tidak berhasil membuat Viona kembali tersenyum dengan semua candaannya, sejujurnya Viona tahu yang Aldo lakukan hanya untuk menghiburnya. "Hehe, maaf ya Al. Aku emang sengaja buat kamu lama nunggu." Aldo memutar bola matanya jengah, lalu memberikan helm pada Viona. "Nih pake, gue harus jaga keselamatan lo. Kalau enggak, habis gue di marahin Galih." Omel Aldo, keselamatan Viona juga penting baginya. Gadis itu menerima helm pemberian Aldo, dalam hati bersyukur karena masih ada orang yang benar-benar peduli padanya. "Jalan Al." Perintah Viona, seolah-olah Aldo adalah tukang ojek. "Buset, ini anak kagak ada sopan sopannya sama gue." Viona tertawa mendengar ocehan Aldo, setidaknya sahabatnya itu mampu membuatnya melupakan sejenak masalahnya dan kekhwatirannya pada Galih. Akhirnya Aldo melajukan motornya, mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya. Selama mereka bekerja di tempat yang sama, Aldo jarang sekali mengantarkan Viona pulang. Atau lebih tepatnya, ada Galih yang selalu mengantar Viona pulang setiap hari. Selama perjalanan pulang, Viona dan Aldo hanya diam. Aldo paham, jika gadis yang duduk di belakangnya itu pasti sedang memikirkan Galih yang sampai saat ini tidak ada kabar. Aldo sampai di buat kesal oleh laki laki itu, sebenarnya Galih menghilang kemana? "Turun atau gue bawa pulang?" "Eh, udah sampai ya Al." Kenapa Viona tidak menyadari jika mereka sudah sampai di rumahnya. Viona terlalu banyak melamun saat di perjalanan, hingga tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai. "Udah Vi." Jawab Aldo dengan sabar, sebisa mungkin Aldo harus selalu ada untuk sahabatnya itu. Viona turun dari motor Aldo, lalu melepaskan helm dan mengembalikannya pada Aldo. "Nih aku balikin, makasih ya Al. Udah anterin aku pulang, makasih juga udah baik sama aku selama ini. Makasih buat semuanya, dan maaf kalau aku punya banyak salah sama kamu. Aku harap, kita masih bisa berteman dengan baik." Tidak terasa, pertemanan mereka sudah terjalin cukup lama. Dan selama ini, Aldo selalu bersikap baik pada Viona. Walaupun, kadang laki laki itu sedikit menjengkelkan. Tapi itu semua adalah hal yang wajar, mereka selalu mempunyai kelebihan masing-masing. Aldo mengangguk, " gue juga ya Vi, kalau ada salah maafin. Makasih juga buat selama ini, kita masih bisa berteman kok." Ujar Aldo menyakinkan Viona, semuanya akan tetap terjalin seperti biasanya. "Oh ya Vi, saran gue. Lo jangan terlalu mikirin Galih dulu, terlalu banyak pikiran nanti malah sakit. Gue pulang ya, gue bakalan main kesini kalau punya banyak waktu." "Sekali lagi, terimakasih Al." "Siap, gue balik." Aldo melajukan motornya, kini hanya Viona seorang diri di depan rumah. Kakinya terasa berat untuk melangkah masuk ke dalam rumah, gadis itu sangat merindukan Galih. Sedang apa laki laki itu? Apa sudah makan? Apa Galih tidak merindukan Viona? Merasa udara malam ini begitu dingin, akhirnya Viona memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Berharap besok pagi, Galih sudah memberikannya kabar. Viona berjanji, tidak akan marah pada laki laki itu. Semoga saja, harapannya akan segera terwujud. "Kamu kemana mas?" Viona bertanya seolah olah Galih disana mendengarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD