Viona atau Felly

1384 Words
Seharian ini, Galih merasa uring uringan. Setelah pulang dari rumah Viona semalam, laki laki itu tidak langsung pulang ke rumah. Galih memilih menginap di hotel, untuk menenangkan hati dan pikirannya. Ucapan Viona semakin membuatnya gelisah, gadis itu mulai pesimis dengan perempuan yang selalu di jodohkan dengannya. Hal yang membuat Galih semakin tidak nyaman adalah, gadis yang semalam sudah di tolak malah datang ke kantornya. Apa penolakan Galih kurang jelas? Felly duduk di sofa ruang kerja Galih, gadis itu hanya diam dan memperhatikannya. Galih juga tidak mau repot-repot untuk memulai obrolan, lagipula Felly datang ke kantornya bukan Galih yang meminta. "Galih." Panggil Felly, sepertinya gadis itu bosan sedari tadi diam saja. Galih menghela nafas jengah, lalu menoleh. "Pulang." Sahut Galih, jika saja yang ada di kantornya adalah Viona. Keadaannya akan berbeda. Felly menggeleng, entah mengapa penolakan dari Galih membuatnya merasa penasaran. Banyak laki laki yang ingin melamarnya, dan tentu saja Galih tidak ada di daftar itu. "Please, sekali ini aja ya. Biarin aku nunggu kamu sampai jam makan siang, aku cuma mau ajak kamu makan siang doang kok." Pinta Felly, jelas gadis itu mempunyai tujuan tersendiri kenapa datang ke kantornya. Galih menghela nafas panjang, gadis itu hanya akan menambah masalah baru. "Pulang Fel, aku enggak mau di ganggu." "Kamu anggap aku pengganggu?" tanya Felly tidak percaya, tega sekali Galih padanya. "Menurut kamu, aku di sini kerja. Ngapain kamu datang? Kalau kamu mau cari perhatian biar aku luluh, dan menerima perjodohan ini kamu salah orang. Aku enggak akan pernah tergoda sama kamu, cepat pergi atau aku panggil satpam buat ngusir kamu. Kamu pikir, aku enggak akan bisa usir kamu?" Jika berbuat kasar pada perempuan, mungkin Galih tidak akan pernah melakukannya. Namun, Galih tidak akan ragu untuk mengusir Felly dari ruangannya. Felly tidak percaya Galih akan bersikap seperti itu, padahal semalam laki laki itu terlebih begitu baik dan sopan. Dengan kesal, Felly berdiri dan menatap Galih kesal. "Niatku datang kesini baik, cuma mau ajak kamu makan siang. Asal kamu tau, kerjaanku banyak di rumah sakit dan aku masih bisa luangkan waktu buat kamu. Tapi apa balesannya? Kamu malah ngusir aku." Rajuk Felyy, gadis itu merasa perjuangannya pagi ini sia sia. Galih menatap Felyy sinis, apa seperti ini yang di lakukan seorang dokter? Lebih mementingkan kepentingan pribadi daripada nyawa pasiennya. "Aku enggak butuh niat baik kamu, aku enggak pernah minta kamu datang. Dan asal kamu tahu, seorang dokter enggak akan meninggalkan pekerjaannya demi kepentingan pribadi. Jangan bersikap seolah kamu tersakiti, karena aku enggak akan peduli." Sial, mendengar ucapan Galih membuat Felyy merasa malu. Tanpa mengatakan apapun, Felyy keluar dari ruangan Galih. Sehingga membuat laki laki itu bernafas lega, pagi ini ada saja yang merusak moodnya. Saat Galih ingin melanjutkan pekerjaannya, ponselnya berdering. Galih meraih ponselnya, lalu tersenyum saat tahu jika gadisnya yang menghubunginya. "Assalamualaikum mas, aku ganggu kamu enggak?" Suara Viona terdengar tidak seperti biasanya, gadis itu pasti sedang tidak baik baik saja. "Waalaikumsalam, enggak kok Vi. Tapi ini mas masih di kantor, kenapa hm?" Viona menghela nafas sebentar, lalu melanjutkan ucapannya. "Aku udah di depan ruangan kamu, boleh masuk?" Meksipun sudah sering datang ke kantor Galih, tapi Viona selalu meminta izin pada laki laki itu jika akan masuk ke dalam ruangannya. Dengan cepat, Galih bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Saat membuka pintu, terlihat seorang gadis sedang berdiri di depan pintu. Tiba tiba, Galih berfikir jika saja Felly tidak cepat keluar pasti Viona akan salah paham. Dan Galih, tidak ingin hal itu terjadi. Mulai sekarang, sepertinya Galih harus meminta sekretarisnya untuk memberi tau siapa saja yang datang kecuali Viona. Jelas saja tidak ada yang bisa melarang calon istrinya datang ke kantornya sendiri. "Masuk Vi." Ajak Galih, Viona mengangguk. Bukan pertama kalinya, gadis itu datang ke kantor Galih. Karena itu, hampir semua karyawan sudah mengenakan. Galih mengajak Viona duduk di sofa, pagi ini Viona terlihat begitu cantik. Setiap hari gadis itu selalu cantik, dan hal itu tentu membuatnya tidak tenang. Galih bukannya tidak sadar, jika Alan sudah lama tertarik pada Viona. Untungnya, gadis itu tidak menyadari sikap baik Alan padanya karena laki laki itu menyukainya. "Kenapa enggak bilang mau kesini, mas bisa jemput kamu sayang." Galih merapikan rambut gadisnya, Viona suka sekali rambut panjangnya tergerai. Galih selalu suka dengan pilihan Viona, selain tidak pernah berbuat macam-macam Viona juga selalu ada di saat dirinya sedang membutuhkan dukungan. Seperti saat ini misalnya, semua orang menginginkan mereka berpisah tapi Viona selalu mempunyai cara untuk mempertahankan hubungannya. Galih juga begitu, tidak mau membuat Viona merasa berjuang sendirian. Galih akan selalu ada untuk Viona, sebuah hubungan akan terasa mudah jika keduanya saling menjaga. "Sengaja mau kesini tanpa ngajarin." Viona membuka isi tasnya, ternyata gadis itu membawakan sarapan untuknya. Galih tersenyum, bukankah mereka sudah cocok untuk menjadi suami istri? "Udah makan?" tanya Viona, jika Galih sudah makan. Makanannya bisa untuk nanti siang, dan dugaan Viona benar laki laki itu belum makan sama sekali. "Belum, mas enggak nafsu makan. Tapi kalau di suapin kamu, mas pasti enggak akan nolak." Viona mengangguk, ini hal biasa. Di saat Galih sedang ada masalah dengan orang tuanya nafsu makannya akan berkurang, atau tidak makan selama sehari Galih sudah biasa. Dan hal itu, tentu saja tidak baik untuk kesehatannya. Bukan hanya Galih, tapi juga Viona. Namun, Viona selalu membiasakan diri untuk tetap makan walaupun rasanya hambar karena pikirannya selalu tertuju pada akhir hubungannya nanti. "Aku masak semur ayam kesukaan kamu, udah lama banget aku enggak masak buat kamu." Viona mengikat rambutnya, lalu mulai menyuapi Galih makan. Galih selalu menerima apapun yang Viona bawa, asal gadisnya yang memasak Galih selalu suka. "Enak." Puji Galih, membuat Viona tersenyum. Padahal Viona yakin, di rumahnya ada makanan yang lebih mewah dari masakannya. Tapi Galih selalu menghargai setiap usahanya, dan itu salah satu alasan kenapa Viona masih bersamanya sampai saat ini. Mereka berdua tengah asik menikmati makanannya, sampai akhirnya seorang perempuan masuk kedalam ruangan Galih tanpa permisi. "Galih, handphone aku ketinggalan dimana?" Itu suara Felly, gadis itu terkejut melihat Galih sedang di suapi oleh seorang perempuan yang Felly yakini adalah Viona. Sama halnya dengan Felly, mereka berdua juga terkejut. Galih menatap sinis ke arah Felly, kenapa perempuan itu suka sekali mengganggu ketenangan. Viona diam diam memperhatikan Felly, dirinya masih ingat saat gadis itu berkunjung ke restoran Alan. Apa tadi pagi, gadis itu datang ke kantor Galih? Apa ini? Pikiran Viona tidak bisa tenang. "Enggak tau, cari sendiri. Ayo Vi, suapi mas lagi. Mas masih laper," Viona hanya mengangguk, mencoba mengabaikan banyaknya pertanyaan yang ada di benaknya. Felly melihat ponselnya tergeletak di atas meja, jika bukan karena ponselnya tertinggal mungkin Felly tidak akan bertemu dengan Viona hari ini. Jujur, Felly merasa iri saat melihat Galih bersikap manis pada gadis itu. Bukankah itu sangat wajar, karena Viona adalah kekasih dari Galih sementara dirinya bukan siapa-siapa. Bahkan, saat di jodohkan dengan terang terangan Galih menolaknya. "Hai, aku Felly." Viona mendongak, cukup terkejut saat Felly mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Dengan cepat, Viona menyambut uluran tangan Felly. "Viona." Balas Viona sambil tersenyum, rasanya canggung sekali berbicara langsung dengan perempuan yang akan di jodohkan dengan Galih. Tidak mau berfikir macam macam, Viona memberikan gelas air putih yang masih terisi penuh pada Galih. Galih dengan senang hati menerima gelas pemberian Viona, mengabaikan kehadiran Felly yang sangat mengganggunya. "Aku bakal di jodohin sama Galih, menurut kamu gimana Vi?" tanya Felly tidak tahu malu, seharusnya sesama perempuan bisa menjaga perasaan Viona. "Jangan mimpi kamu, aku enggak akan pernah mau menerima perjodohan ini. Jangan pernah datang ke kantor lagi," sepertinya Felly sudah hilang akal sehatnya, gadis itu bisa menghancurkan hubungannya dengan Viona. Felly berdecak lirih, kenapa sikap Galih berubah drastis saat berbicara padanya? "Kamu cantik, tapi saranku jangan terlalu berharap atas apa yang di miliki orang lain padahal kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari milik orang lain. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, tapi kamu juga harus tahu di balik itu semua ada usaha yang tidak mudah untuk di lakukan. Menjaga sebuah hubungan itu enggak mudah, kami sedang berusaha mendapat restu. Jadi tolong, jangan pernah ada niatan menjadi orang ketiga di hubungan kami." Ucap Viona, tidak akan ada celah untuk orang ketiga masuk kedalam hubungan. Galih tersenyum senang saat Viona berani berkata seperti itu pada Felly, apa yang di lakukan Felly sudah benar. "Karena perempuan baik, tidak akan pernah merebut kebahagiaan perempuan lain." Lanjut Viona, mampu membuat Felly bungkam. Sudah seharusnya Felly sadar, jika hubungan mereka sedang tidak baik baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD