Badai pasti berlalu

1019 Words
Tidak ada yang baik baik saja setelah perpisahan, pasti ada luka yang sempat tertinggal atau ada duka yang begitu mendalam. Sama halnya seperti yang dirasakan Viona dan Galih sekarang, meskipun Galih terlihat baik baik saja tapi laki laki itu menyembunyikan rasa sakitnya lewat sebuah senyuman. Tidak hanya Galih, di tempat lain Viona juga melakukan hal yang sama. "Udah lama Galih enggak kesini," ujar bu Sarah tiba tiba, sebagai seorang ibu pasti tidak mau melihat anaknya terlihat murung. Bu Sarah tahu, semuanya sudah berakhir tapi Bu Sarah tidak ingin melihat mereka berdua menyesal. Viona terdiam, sibuk mencuci piring. Mereka berdua baru dana menyelesaikan makan malamnya. Wajar jika sang ibu berkata seperti itu, biasanya Galih selalu datang setiap hari. Viona merindukan Galih. "Kamu bisa hubungi Galih, minta dia datang ke rumah ya Vi. Ibu pengen ketemu," "Mas Galih selalu sibuk Bu, aku enggak enak kalau ganggu dia." Jawab Viona, apa yang di katakan Viona tidak sepenuhnya salah hampir setiap malam laki itu selalu pulang malam, walaupun pekerjaannya sudah selesai tapi Galih belum mau pulang sebelum jam sepuluh malam. Bu Sarah menatap Viona, "kamu enggak kangen Galih?" pertanyaan ini sukses membuat gadis itu bungkam, siapa yang tidak merindukan Galih? Ingin sekali Viona memeluk Galih erat, dan mengatakan bahwa dirinya sangat merindukan laki laki itu. Namun, Viona memilih untuk tidak mengungkapkan perasaannya bukankah dirinya sendiri yang menginginkan agar Galih perlahan menjauh dan pergi dari kehidupannya? "Aku sama mas Galih sepakat untuk mengakhiri semuanya Bu," Mereka tidak pernah membuat kesepakatan apapun, lebih tepatnya Viona yang meminta Galih menjauh dari kehidupannya. Sebelum semuanya terlambat, sebelum rasa cintanya semakin besar. "Ibu tau, kalian memang belum bisa mendapat restu. Tapi nak, mengakhiri hubungan secara sepihak juga bukan keputaran yang tepat. Jangan sampai kamu menyesal karena udah melepas Galih begitu saja, dia laki laki baik. Dia tulus, jadi ibu mohon pertimbangkan lagi sebelum semuanya benar benar terlambat. Mungkin sekarang kamu belum merasakan apapun, tapi suatu saat kalau Galih sudah menemukan perempuan lain sebagai pengganti kamu saat itu juga kamu pasti baru mengerti apa artinya bertahan dan kenapa kamu lepas padahal saat ini kalian masih mau untuk sama sama berjuang. Ingat Vi, kesempatan kedua enggak selalu ada." Sesak, itulah yang Viona rasakan. Bagaimana jika apa yang di katakan sang ibu menjadi kenyataan? Galih bahagia dengan pilihan orang tuanya atau mungkin pilihannya sendiri dan tentu saja itu bukan Viona. Apa Viona benar benar akan menyesal? Apa Viona sanggup melihat itu semua? Setiap kenangan yang pernah mereka lalui selalu terbayang jelas, janji yang terucap perlahan kini mulai pudar. Viona memang mengakhiri secara sepihak, sampai saat ini Galih sebenarnya belum setuju jika mereka resmi berpisah. "Kalau suatu saat mas Galih menemukan kebahagiaan yang lain, aku pasti juga sama. Berarti kita emang enggak jodoh, aku pasti juga bisa menemukan laki laki yang tepat. Dan keluarganya bisa menerima kita apa adanya, aku mungkin akan menyesal karena memilih pergi daripada bertahan. Hidup ini pilihan, dan aku memilih merelakan apa yang seharusnya aku lepas." Ucap Viona, gadis itu masih teguh dengan pendiriannya. Rasa traumanya belum sepenuhnya hilang, orang tua Galih tidak hanya melarangnya untuk mendekati Galih tapi mereka juga akan melarang Viona dan ibunya untuk tetap hidup jika dirinya tetap bertahan. "Kamu tau Vi, terkadang apa yang kita katakan enggak selalu mudah untuk di lakukan." Viona mengangguk, itu memang benar. "Aku mungkin enggak bisa langsung bangkit dari keterpurukan, tapi aku berusaha untuk enggak ngeluh. Mas Galih berhak bahagia walaupun bukan aku yang jadi alasan kebahagiaannya, kita beda. Aku awalnya masih mau berjuang sekali lagi, tapi aku pikir untuk apa? Untuk apa berjuang kalau akhirnya sia sia?" Bu Sarah mengusap rambut anaknya, menjalin hubungan tanpa restu dari kedua orang tua Galih memang tidak mudah. Banyak cobaan dalam setiap hubungan dan mereka sudah melalui semua itu, yang mereka lakukan adalah saling menguatkan. Tapi sayang, perjuangan mereka tidak ada artinya di mata pak Haris dan Bu Farah selama Viona masih menjadi gadis miskin selama itu pula orang tua Galih tidak akan setuju. Mereka selalu mengutamakan harta di banding perasaan anaknya, jika selalu seperti ini Viona tidak akan pernah berhasil. "Ibu enggak mau maksa kamu Vi, tapi ibu cuma enggak mau kamu hidup dalam penyesalan." Viona paham, hidup dalam penyesalan pasti akan sulit dan membuatnya merasa bersalah terlebih Viona juga merasa bersalah pada Galih. Membiarkan laki laki itu berjuang sendirian, apa Galih marah padanya? Laki laki seperti Galih mungkin akan sulit di cari, sifatnya yang penyabar mampu membuat Viona merasa nyaman saat bersamanya. Bahkan, Galih tidak pernah marah atau berbuat kesalahan besar selama ini. Hanya saja, hubungan mereka memiliki penghalang yang cukup sulit. "Aku pasti baik baik aja kok, ibu yang tenang. Enggak perlu banyak pikiran, sekarang Viona masih berusaha lupain mas Galih. Ibu tidur ya udah malam," "Kamu beneran ikhlas nak?" tanya Bu Sarah memastikan, perempuan paruh baya itu tidak ingin melihat Viona nantinya menyesal karena sudah salah mengambil keputusan. "Aku belum bisa ikhlas, tapi aku masih berusaha." Ikhlas bukan perkara mudah bagi Viona, tapi mau tidak mau semua itu harus di ikhlaskan. -- "Mama kemana?" tanya Galih pada Fika, sikap Galih memang masih dingin tapi Fika sudah bisa memaklumi hal itu. "Nyonya di dalam tuan," jawab Fika. Sejak kejadian di rumah sakit waktu itu Fika menjadi paham bahwa sekalinya Galih berbicara pasti langsung menyakitkan, tapi di balik itu semua anak majikannya mempunyai sifat yang baik. Jika Galih tidak baik, mana mungkin laki laki itu mau mengantarkannya ke rumah sakit? Apalagi, status Fika di rumah ini hanyalah seorang pembantu. Tanpa mengatakan apapun lagi, Galih buru buru berjalan menuju kamar sang ibu. Meninggalkan Fika yang menatap heran ke arahnya, Fika mengakui jika Galih memang tampan dan berkharisma. Gadis mana yang tidak tertarik dengan laki laki seperti Galih, tapi sejauh ini tidak ada perempuan yang di ajak pulang. Setahu Fika, hanya gadis yang pernah di jodohkan waktu itu. "Kasian banget tuan Galih, jaman udah modern masih di jodohkan. Pasti tertekan, aku mau mencalonkan diri tapi aku sadar cuma pembantu." Tidak larut dalam pikirannya sendiri, Fika melanjutkan pekerjaannya. Jika pekerjaannya tidak selesai, bisa bisa majikannya ngomel seharian. "Punya majikan ganteng lumayan juga buat penyemangat." Batin Fika, walaupun sikap Galih tidak pernah berkesan di hati tapi Fika akui jika laki laki itu baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD