Sandi menjambak rambutnya dengan frustasi. Sejak tadi ia mencari Chika kemana mana tapi hasilnya nihil, tidak menemukanya bagaikan hilang ditelan bumi tanpa jejak. Nomor Chika juga tidak aktif. Saat ini Sandi sedang berada didepan rumah Chika, rumahnya masih sepi dan pintu rumah juga masih tergembok yang artinya Chika tidak pulang kerumahnya sejak tadi. Ia juga sudah bertanya pada mbok Darmi tetangga dekat Chika. Tapi, beliau juga tidak mengetahui malah ikut khawatir pada Chika.
"Chika.. kamu dimana sayang? Semoga kamu baik-baik saja, mas khawatir". gumam Sandi pelan sambil bersandar dikursi yang ada didepan rumah Chika.
Setelah mencari Chika berjam jam tapi tidak juga menenukan keberadaannya, ia memutuskan menunggu Chika didepan rumahnya berharap Chika akan pulang dan memaafkan dirinya.
"Maafkan mas Chika, mas khilaf dan mas sungguh menyesal, sayang". batin Sandi sambil memejamkan matanya hingga tanpa sadar air matanya mengalir dipipinya. Merasa hina dan penuh penyesalan.
* * *
Ditempat lain Chika sedang terisak di pangkuan mbok Darmi, hingga matanya bengkak karena menangis terus menerus.
Setelah pulang dari rumah Sandi, Chika mematikan ponselnya dan tidak langsung pulang kerumah karena Chika pasti tau kalau Sandi akan mencarinya dirumah, ia butuh tempat untuk menenangkan diri berbagi dukanya dan disinilah Chika berada dirumah mbok Darmi yang sudah seperti keluarganya sendiri.
Mbok Darmi sangat khawatir dan bingung saat Chika datang kerumahnya dengan mata yang sudah berlinang air mata. Langsung memeluknya sambil menangis sampai sesenggukan. Mbok Darmi membiarkan Chika menangis sampai puas dan sedikit tenang, agak Chika bisa cerita padanya. Setiap Chika ada masalah pasti Chika selalu cerita pada mbok Darmi karena ia sudah seperti neneknya sendiri dan Chika selalu merasa nyaman, mbok Darmi selalu bisa menenangkan dirinya.
Anton yang mendengar isakan langsung keluar dari kamar dan terkejut melihat Chika yang sudah menangis dipangkuan neneknya. Anton ingin bertanya, tapi neneknya memberi isyarat dengan gelengan kepala agar tidak bertanya dulu. Ia hanya menyuruh Anton mengambil air minum.
"Minum dulu ndok, biar enakan". bujuk Darmi sambil memberikan segelas air putih yang Anton ambilkan dari dapur kepada Chika.
Chika mengambil air itu lalu meminumnya hingga tandas tak tersisa, ia memang sangat haus karena menangis sejak tadi. Mbok Darmi tersenyum saat melihat Chika merasa lebih tenang.
"Sekarang cerita sama mbok, ada masalah apa? Kenapa nak Chika sampai menangis seperti ini?". tanya Darmi dengan suara lembutnya dan sangat hati-hati.
"Mas Sandi menghiyanati Chika mbok dengan wanita lain, padahal bulan depan kita akan menikah. Tapi mas Sandi malah tega bermain dengan wanita lain didepan mataku sendiri mbok..". jawab Chika menceritakan segalanya pada mbok Darmi, membuat ia menangis lagi menahan rasa sakit, dan sesak didadanya.
Hatinya hancur tak tersisa mengingat Sandi sedang bercinta dengan wanita lain dihadapannya. Darmi langsung memeluk Chika memberikan ketenangan padanya. Ia juga tidak menyangka Sandi bisa berbuat seperti itu pada Chika, yang jelas jelas akan menikah sebentar lagi hanya tinggal menunggu sebulan lagi. Chika juga sudah bilang padanya untuk mendampinginya saat pernikahannya nanti dan Darmi sangat senang mendengar kabar kalau Chika akan segera menikah dengan orang yang sangat ia cintai.
Anton yang ikut mendengar sejak tadi jadi ikut emosi, ingin rasanya ia menghajar Sandi hingga babak belur. Tapi, niatnya ia urungkan karena Chika melarangnya. Kalau sampai Anton melampiaskan amarahnya pada Sandi, setelahnya pasti Sandi akan tau kalau Chika ada dirumah mbok Darmi dan Chika tidak ingin bertemu dengan Sandi saat ini, ia tidak siap. Tadi juga Sandi sempat datang dan bertanya keberadaannya pada mbok Darmi. Chika yang tau meminta agar mbok Darmi tidak memberi tau Sandi kalau ia ada disini. Mbok Darmi paham, ia bisa mengatasinya dan bisa membuat Sandi pergi tanpa merasa curiga sedikitpun kepadanya.
"Sudah ndok, yang sabar, iklaskan semua yang terjadi pada dirimu. Allah pasti sudah merencanakan takdirmu yang lebih baik dari rencanamu sendiri". ucap mbok Darmi sambil mengelus kepala Chika. Chika mengangkat kepalanya sambil menganggukkan kepala pada mbok Darmi dan menghapus sisa air matanya.
"Memang kamu tidak capek nangis terus, lihat tuh mata sudah kayak dicium sama tawon saja. Bikin mukanya jelek dan gak cantik, apa lagi gak ada senyumnya". goda Darmi sambil tersenyum.
"Ihhh mbok, aku masih cantik lihat nih". ucap Chika sambil tersenyum paksa karena tidak mau dibilang jelek.
"Cantikkan, Anton aja masih mau sama mbak, yaa kan Ton". tanya Chika sambil melihat kearah Anton yang sejak tadi berdiri bersandar dipintu kamarnya.
"Nggak, siapa yang mau sama mbak yang jelek gitu". sahut Anton, acuh tak acuh sambil memalingkan mukanya, yang ikut menggoda Chika. Membuat senyum Chika pudar dan berubah cemberut.
"Awas kamu yaa kalo minta bantuan mbak, mbak gak mau bantu kamu lagi". ucap Chika sinis sambil membuang muka. Darmi mengelus pipi Chika dengan penuh kasih sayang membuat Chika tersenyum lagi.
"Selalu tersenyum seperti ini, dan selalu ceria seperti biasanya. Mbok yakin nak Chika anak yang kuat, bisa melewati semua ini dengan baik". ucap Darmi memberi semangat pada Chika.
"Terima kasih mbok selalu ada buat Chika, Chika sayang mbok". ucap Chika sambil memeluk mbok Darmi.
"Mbok juga sayang sama Chika". ucap Darmi sambil membalas pelukan Chika.
"Iya mbak, gak usah nangisin pria b*****k seperti dia yang duain mbak. Masih banyak diluar sana pria tampan yang mau sama mbak, contohnya seperti aku ini mbak yang tampan. Apa lagi mbakkan cantik, baik, pinter masak dan bikin kue pula". sahut Anton sambil memuji dirinya sendiri.
"Siapa juga yang mau sama kamu yang jelak gitu, badan aja besar tapi masih seperti anak kecil". balas Chika dengan sinis merasa puas bisa membalas ucapan Anton, lalu melepas pelukannya.
Chika salah bilang kalau Anton jelek, nyatanya ia memang tampan dengan kulit bersihnya, tinggi, dengan badan yang pas tidak kurus tidak juga gendut.
"Chika tidur disini yaa mbok malam ini, Chika gak mau pulang". ujar Chika.
"Iya, Chika boleh tidur dirumah mbok kapanpun Chika mau". jelas Darmi.
"Mbak juga gak akan bisa pulang karena si b*****k itu masih nunggu mbak didepan rumah mbak". jelas Anton dengan malas menyebut nama Sandi.
Chika hanya diam tidak menjawab, hatinya terlalu hancur, harapannya yang memiliki keluarga kecil bahagia bersama Sandi setelah mereka menikah nanti telah musnah dari benaknya.
"Tapi Chika tidur sama si mbok yaa sambil dipeluk". ucap Chika dengan manja, Darmi hanya menggangguk sambil tersenyum.
"Ngomongi aku yang masih kecil, tapi mbak yang kaplak aja tidur masih minta dikeloni sama si mbok". sindir Anton.
"Biarin, bilang aja kamu sirik sama mbak, yaa kan?". tuduh Chika pada Anton.
"Enak aja, aku sudah biasa tidur sendiri kali, gak kayak mbak tuh". elak Anton sambil membela dirinya sendiri.
Darmi yang melihat perdebatan mereka hanya bisa menggeleng, sekaligus merasa senang karena Chika bisa ceria dan tersenyum lagi, walaupun hatinya sangat rapuh.
"Sudah.. sudah, mau sampe kapan berantem terus? Memang gak capek apa? Sudah larut malam lebih baik kita istirahat lalu tidur". lerai Darmi.
Akhirnya Chika bisa terlelap tidur dengan nyaman dalam peluka Darmi, yang dengan lembut dan penuh kasih sayang mengelus pucuk kepala Chika. Melupakan sejenak luka dihatinya dan beban hidupnya.